Aplikasi Telegram

Linimasa nilai pemutusan akses aplikasi Telegram tidak masuk akal

Jakarta, SUARA TANGERANG – Pemutusan akses (pemblokiran) terhadap sebelas Domain Name System (DNS) ) milik Telegram yang dilakukan Pemerintah Indonesia pada Jumat (14/7) malam, menuai kritik dari linimasa sosial media.

Menurut para pengguna chat Telegram, pemblokiran yang dilakukan pemerintah tersebut berlebihan dan tidak masuk akal. “Saya tidak setuju dengan pemutusan akses aplikasi Telegram, sungguh tidak masuk diakal, “ kata Hendra Sadewa pada  kolom komentar Web Kemenkominfo, https://kominfo.go.id, menaggapi press release Kemenkominfo, Jumat (14/7).

Menurut Hendra, sebagai software developer, programmer, dan warga Indonesia lebih banyak merasakan manfaat dari layanan messenger Telegram.

“Kami sering bertukar pikiran, kulgram, sharing ilmu melalui telegram. Karena telegram mampu memberikan keamanan, privasi, storage, group yang beranggotakan banyak orang dibanding dengan layanan sejenis,” ungkapnya.

Senada, linimasa lainnya, Nurhadi juga menyampaikan ketidak setujuannya atas pemblokiran aplikasi yang dinilai lebih unggul dibanding dengan Line dan Whatsapp ini. “Saya tidak setuju sama sekali dengan apa yang telah dilakukan pemerintah. Telegram hanyalah sebuah media, alatnya. Mereka memakainya karena memang , Telegram memiliki segudang manfaat,” ungkap Nurhadi, Jumat (14/7).

Menurut keduanya, pemerintah tidak punya cukup alasan hanya karena demi keamanan negara dan karena banyak sekali kanal bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia sehingga layanan aplikasi Telegram tersebut harus ditutup.

Kekecewaan juga datang dari seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISMUH Makassar, Muhammad Muammar, “Saya sangat kecewa sama keputusan Menteri Kominfo dan pembuat kebijakan ini. Aplikasi Telegram di kampus UNISMUH digunakan untuk sharing file bahan kuliah, pembelajaran dan lain-lain. Semua mahasiswa kedokteran, staff dan dosen diharuskan memiliki akun Telegram,” ungkap Muammar.

Sementara itu, dalam Siaran Pers Kemenkominfo  No. 84/HM/KOMINFO/07/2017  tentang pemutusan akses aplikasi Telegram, pemerintah menjelaskan bahwa 11 yang diblokir tersebut adalah t.me, telegram.me, telegram.org, core.telegram.org, desktop.telegram.org, macos.telegram.org, web.telegram.org, venus.web.telegram.org, pluto.web.telegram.org, flora.web.telegram.org, dan flora-1.web.telegram.org. Dampak terhadap pemblokiran ini adalah tidak bisa diaksesnya layanan Telegram versi web (tidak bisa diakses melalui komputer).

“Saat ini kami juga sedang menyiapkan proses penutupan aplikasi Telegram secara menyeluruh di Indonesia apabila Telegram tidak menyiapkan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan konten-konten yang melanggar hukum dalam aplikasi mereka. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)” papar Dirjen Aplikasi Informatika Semuel A. Pangerapan.

Lebih lanjut disampaikan bahwa aplikasi Telegram ini dapat membahayakan keamanan negara karena tidak menyediakan SOP dalam penanganan kasus terorisme.

Ia juga menegaskan bahwa dalam menjalankan tugas sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 40 UU No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Kemkominfo selalu berkoordinasi dengan lembaga-lembaga Negara dan aparat penegak hukum lainnya dalam menangani pemblokiran konten-konten yang melanggar peraturan perundangan-undangan Indonesia. (1st/*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bertambah 973 orang, total kasus positif Covid-19 menjadi 20.162

Jakarta, SUARA TANGERANG  – Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat jumlah penambahan kasus ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com