Komisioner-KPAI-Bidang-Pendidikan-Retno-Listyarti

KPAI apresiasi penanganan kasus kekerasan seksual terhadap puluhan siswa di Jawa Timur

Jakarta, SUARA TANGERANG – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang dan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim) atas penanganan kasus kekerasan seksual di lingkungan sekolah, yang dilakukan oleh okhum guru, di awal tahun 2018.

Kasus tesebut antara lain adalah, kasus kekerasan seksual yang terjadi di salah satu SD di Kota Surabaya, SMP di Jombang, dan satu lagi kasus serupa di salah satu pesantren di Nganjuk.

Terhadap penangan dua dari tiga kasus tersebut, KPAI telah melakukan pengawasan langsung ke Jombang pada Senin (26/2), dan Surabaya pada Selasa (27/2).

“Berdasarkan catatan kepolisian setempat, kekerasan seksual terhadap anak di Jawa Timur sangat tinggi. Pada tahun 2016 tercatat ada 719 korban anak dengan 179 pelaku. Sedangkan tahun 2017 tercatat 393 korban anak dengan 6 pelaku. Mirisnya, baru bulan kedua di tahun 2018, sudah tercatat ada 52 anak yang jadi korban, dengan 21 pelaku. Ini belum termasuk korban MSH yang mencapai 65 anak,” ungkap Komisioner KPAI Retno Lisyarti, Rabu (28/2).

Dari pengawasan langsung tersebut, KPAI juga mendapatkan penjelasan bahwa, kedua oknum guru pelaku kekerasan seksual dikenal sebagai guru yang rajin mendampingi para siswa kegiatan ekstrakurikuler, berperilaku santun, bahkan  kerap menjadi imam sholat di sekolahnya. Oleh karena itu, pimpinan sekolah maupun segenap guru dan karyawan di sekolahnya sama sekali tidak menaruh curiga pada perilaku menyimpang keduanya.

“Kasus kekerasan seksual oleh onum guru terhadap anak didik di salah satu SMP di Jombang tersebut dilakukan seorang guru bahasa Indonesia dengan dalih ruqiyah tega melakukan pencabulan terhadap 25 siswinya di toilet sekolah dan di perkemahan saat kegiatan ekstrakurikuler,” tutur Retno.

Komisioner KPAI Bidang Pedidikan pun menilai Pemkab Jombang telah bertindak cepat dalam menanagani kasus tersebut melalui sinergi antara pihak-pihak terkait, seperti Polres Jombang, RSUD Jombang, P2TP2A , Dinas PPA dan Dinas Pendidikan Jombang. Polisi melakukan pemeriksaan terhadap 24 dari 25 anak korban dengan dibantu dan didampingi pihak sekolah, P2TP2A Jombang dan NGO Perlindungan anak.

“Pemkab juga bertekat akan melaksanakan program rehabilitasi psikologis terhadap anak-anak korban hingga tuntas tanpa pembiayaan. Sementara, kepolisian mengaku sudah menyelesaikan pemeriksaan dan berkas sudah siap P21. Kepada pelaku dikenakan pasal 82 UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak junto pasal 65 KUHP,” jelas Retno..

Dia pun mengungkapkan bahwa, pelaku berinisial E, 49 tahun adalah seorang guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan saat ini sudah di non aktifkan dengan gaji hanya diberikan sebesar 50%, adapun  status kepegawaian dimutasi ke Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, dan kini bukan lagi guru di SMP tersebut. “Jika E sudah menjalani proses pengadilan dan terbukti bersalah serta dijatuhi hukuman penjara lebih dari 2 tahun, maka kepegawaiannya akan dipecat dengan tidak hormat,” kata Retno.

Sementara kasus kekerasan seksual guru SD di Kota Surabaya, pelaku yang  berinisial MSH, 28 tahun, telah melakukan kekerasan seksual terhadap 65 anak didiknya yang masih berusia 6-9 tahun, dilakukannya antara 2014-2017. ”Kekerasan seksual dilakukan oknum guru tersebut di dalam kelas,  kolam renang dan bus pariwisata,  bahkan disaksikan siswa lainnya.  Saat ini kasus ditangani oleh Polda Jawa Timur,” ungkapnya.

Lanjut Retno, atas penangan kasus kekerasan seksual itu, KPAI mengapresiasi kinerja jajaran Polda Jawa Timur yang bertindak sigap dalam memproses kasus ini. “Tersangka sudah ditahan sejak 22/2 hanya sehari setelah 4 orangtua korban melapor ke kepolisian. Kepolisian juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap anak korban serta konseling ke 42 korban dari 65 siswa. Hasil konseling menunjukkan 35 korban mengalami trauma berat dan akan dibantu pemulihannya oleh tim psikologi dari RS POLDA Jawa Timur hingga tuntas,” kata Retno.

Retno juga mengatakan, kalau KPAI sempat bertemu dengan pelaku, dan pelaku menyatakan penyesalannya dan ingin sembuh. Pelaku mengaku tidak mampu menahan hasratnya selama ini dan merasa malu dengan kondisinya. Pelaku kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Polisi mengenakan pasal 82 UU No. 14 Tahun 2014 terhadap pelaku dengan hukuman 15 tahun penjara dan ditambah sepertiga hukuman maksimal karena pelaku masuk kategori orang terdekat korban.

“Dalam peristiwa tersebut ada hak anak dan kewajiban kita dalam memberikan perlindungan yang optimal dari berbagai aspek sehingga kasus yang memprihatinkan seperti ini tidak terjadi lagi. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak didik. Guru seharusnya menjadi penolong dan pelindung bagi anak didiknya di sekolah bukan justru membahayakan anak-anak,” pungkas Retno Lisyarti. (1st/*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pemkot Gelar Sosialisasi Pengendalian Gratifikasi (1)

Pemkot Tangsel gelar sosialisasi pengendalian gratifikasi

Kota Tangsel, SUARA TANGERANG – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) pada Kamis (4/10) kemarin, melaksanakan ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com