BREAKING NEWS
rupiah jeblok

Rupiah jeblok, hutang bertambah, krisis ?

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan sampai Februari 2018, Utang Luar Negeri (ULN) mencapai US$352,2 miliar. Dengan kurs BI hari ini (8/5) yang Rp14.036/US$, maka utang itu senilai Rp4.943 triliun lebih. Hampir Rp5.000 triliun!

Kalau Pemerintah berpendapat angka hampir Rp5.000 triliun masih tetap aman dan tidak masalah, maka benar-benar sulit di percaya karena sebenarnya sudah mengkhawatirkan utang Indonesia. Utang tidak bisa diukur dengan membandingkan  rasio utang dan PDB yang angkanya masih jauh dari 60% sebagai patokan.  sebab menisbahkan utang dengan PDB bukan cuma tidak pas, tapi malah sesat dan menyesatkan.

Semestinya, mengukur utang harus dinisbatkan dengan kemampuan sebuah negara dalam membayar utang, atau debt to service ratio (DSR). Tapi sayangnya pemerintah lebih suka menggunakan patokan ekonom IMF  yang melenakan dan menyesatkan. Bagaimana tidak melenakan, karena setiap saat rakyat kita di suguhi dengan anggapan utang masih aman karena rasio nya masih jauh dari 60% PDB? padahal tanpa disadari, Indonesia sudah masuk Jebakan Utang, sehingga harus gali lubang tutup lebih dalam.

Jangan sampai kita terjebak seperti Yunani. yg mengalami krisis akibat resep IMF atau indonesia 1998 akibat resep IMF. Yang anehnya kita malah Menyambut IMF dengan biaya hampir Satu Trilyun buat memfasilitasi IMF selama 3 hari, padaha uang itu   buat bangun rusunawa atapun kredit pertanian, jauh lebih bermanfaat. sedangkan saat ini sejumlah indikator penting justru negatif. Kita perlu dana buat bayar hutang.

BPS melaporkan sejak Desember 2017 hingga Februari 2018 neraca neraca perdagangan Indonesia selalu mengalami defisit.

Pada Februari defisitnya sebesar US$ 116 juta. Lalu, Desember 2017, dan Januari 2018, masing-masing defisit US$756 juta dan US$220 juta.

Jika diakumulasi, maka  defisit neraca perdagangan sudah menembus US$1,1 miliar dolar AS. astagfirullah ..Hal ini artinya mengurangi kemampuan kita membayar hutang, karena hutang diukur harusnya dengan DSR atau debt service Ratio salah satu alat ukurnya adalah perdagangan.

Seperti kita ketahui Keseimbangan primer di APBN dalam beberapa tahun terkahir juga selalu defisit. Pada APBN 2018 dipatok defisit Rp87,3 triliun.  Tahun ini, defisit anggaran mencapai Rp325,9 triliun. Saking rajinnya bikin defisit APBN, hingga tak berlebihan bila pemerintah disebut regime defisit (APBN).

Pada 2018, Pemerintah harus mengalokasikan anggaran lebih dari Rp637,8 triliun untuk bayar utang. Jumlah itu terdiri atas pembayaran bunga utang Rp238,6 trilliun, dan cicilan pokok utang Rp399,2 triliun. Angka ini jauh di atas anggaran untuk pendidikan yang Rp444,1 triliun dan infrastruktur yang amat dibangga-banggakan, sebesar Rp410,7 triliun.

Artinya bahwa APBN kita terbebani Hutang, dan lucunya surplus perdagangan yg di harapkan tidak terjadi di tengah kurs rupiah yg jeblok..malah impor meningkat pesat. Hal menambah DSR kita makin besar…

Apakah ini tanda tanda Krisis dimulai ? Wallahualam

Ditulis oleh : Helmi Adam, Kandidat Doktor Ilmu Ekonomi dari Universitas Borobudur Jakarta

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Firmansyah

Politik Dinasti pada Demokrasi Kabupaten Tangerang

SUARA TANGERANG – Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar-Mad Romli mendeklarasikan ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com