Kerukunan umat beragama di Tangsel

Kerukunan antar umat beragama di Tangsel kondusif dan aman

Kota Tangsel, SUARA TANGERANG  – Untuk meningkatkan kerukunan antar umat beragama di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), ratusan peserta dialog dari berbagai hadir membicarakan tema ‘Merajut Kerukunan Antar Umat Beragama di Tangsel dan Banten’ dalam talk show di Aula Serbaguna Gereja Katolik Barnabas, Pamulang, Sabtu, (7/7).

Kegiatan yang menghadirkan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr H Nasarudin Umar MA, Anggota UKP PIP RI Romo Beny Susetyo dan Kepala Kantor Kemenag Kota Tangsel Abdul Rojak sebagai narasumber ini juga dihadiri oleh Kapolsek Pamulang, Koramil Ciputat, MUI Tangsel yang diwakili oleh H. Mana, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tangsel yang diwakili Fahrudin Zuhri serta 100 orang peserta talk show yang terdiri dari unsur agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Kepala Kantor Kementerian Agama  Kota Tangsel Abdul Rojak, mengatakan kerukunan umat beragama di kota dengan motto Cemore ini berjalan sangat kondusif, aman, dan damai. Hal ini bisa dilihat bahwa masing-masing umat beragama di Kota Tangsel dapat menjalankan keyakinan dan ibadahnya sesuai dengan kepercayaannya masing-masing.

“Kerukunan antar umat beragama di Kota Tangsel bukan sekedar slogan, tapi sudah terbukti dan teruji, hal ini sesuai dengan motto Tangsel yang Cerdas, Modern, dan Religius,” katanya.

Menurutnya, makna religius di sini adalah adanya toleransi yang diberikan kepada umat beragama dengan menjaga keamanan dan kenyamanan, sehingga dapat menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.

“Kota Tangsel secara demografis memiliki karakteristik heterogen, di mana di dalamnya memiliki banyak suku, agama, ras, dan golongan. Kota Tangsel masuk dalam kategori wilayah dengan kepadatan tinggi,” ujarnya.

Sebagai konsekuensi dari hal tersebut, sambung Abdul Rojak maka potensi untuk terjadinya gesekan antara pihak-pihak yang memiliki perbedaan akan senantiasa ada. Oleh karena itu, baik Pemkot Tangsel maupun Kemenag Tangsel beserta jajaran di bawahnya mengoptimalkan silaturahmi, komunikasi, dan pendekatan kepada tokoh agama atau tokoh masyarakat dari umat atau golongan manapun.

“Kemenag sendiri selalu siap memfasilitasi dan mengoptimalkan peran para penyuluh dan organisasi yang ada, juga mengadakan pembinaan kepada organisasi guru di semua jenjang. Selain itu kita juga bekerjasama dengan organisasi keagamaan melakukan sosialisasi atau seminar peraturan yang terkait dengan kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadah,” jelasnya.

Baru-baru ini, kata Abdul Rojak, warga Kelurahan Cirendeu, Ciputat Timur menamakan wilayahnya dengan nama “Kampung Bhineka”. Sejak puluhan tahun wilayah ini tak hanya dihuni oleh umat muslim saja, tapi terdapat umat non muslim dan etnis lainnya seperti umat Kristiani dan etnis Tionghoa serta umat-umat lainnya yang ada di Indonesia.

“Dalam berbagai kegiatan semua etnis yang merupakan bagian dari warga di wilayah itu terus terlibat aktif melakukan kegiatan sosial, mulai dari membentuk bank sampah, bhakti sosial hingga bercocok tanam di lahan tidur,” terangnya.

Menurutnya, umat Islam dii Kota Tangsel sebenarnya tidak ada masalah dengan umat-umat lainnya. Justru sangat toleransi dengan semua umat.

“Kita semua menyadari bahwa untuk hidup damai, nyaman, dan tentram itu diawali dengan kebersamaan,” pungkasnya. (1st/rls)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pertemuan Jokowi dan nelayan

Pemerintah beri kesempatan nelayan beralih dari cantrang

Jakarta, SUARA TANGERANG – Saat berkunjung ke Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah, pada Senin, (15/1) ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com