Standar Kemiskinan

Standar kemiskinan atau paling miskin ?

SUARA TANGERANG – Bank Dunia merevisi garis kemiskinan internasional (international poverty line) untuk pengukuran kemiskinan ekstrem yang semula 1.25 dolar Amerika Serikat (AS) menjadi 1.9 dolar AS pada tahun 2015. Sehingga seseorang dikatakan sangat miskin jika memiliki pendapatan/pengeluaran kurang dari 1.9 dolar per kapita per hari.

Sebelumnya banyak yang mempertanyakan: bisakah seseorang bertahan hidup dengan pendapatan sebesar itu ?

Lalu BPS merilis standar  garis kemiskinan yang menjadi sebesar Rp 401.220 per kapita per bulan. Angka itu naik 3,63 persen dibandingkan survei September 2017 sebesar Rp 387.160. Jika garis kemiskinan Rp 401.220 per kapita per bulan, maka pengeluaran dalam sehari sebesar Rp 13.374. Angka ini dianggap tidak relevan dengan kondisi saat ini.

Namun Kepala BPS, Dr. Suhariyanto menegaskan, patokan garis kemiskinan tersebut merupakan per kapita, artinya rata-rata pengeluaran di Indonesia selama sebulan. Jika rata-rata penduduk miskin memiliki dua hingga tiga anak, maka garis kemiskinan nasional sebesar Rp 1,84 juta per rumah tangga per bulan. Pertanyaanya cukupkah satu keluarga hidup dengan pengahasilan sebesar 1,84 Juta ?

Kita ketahui garis kemiskinan internasional tidak bisa dikonversi  langsung ke dalam rupiah dengan menggunakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar uang (currency).  Karena perhitungannya didasarkan pada daya beli atas sekumpulan barang dan jasa. Maka dari itu  kekeliruan yang kerap terjadi dikarenakan penggunaangaris kemiskinan Bank Dunia dalam menganalisis persoalan kemiskinan. Berdasrkan analisis kurs langsung.

Perhitungan garis kemiskinan Bank Dunia didasarkan pada paritas daya beli atau purchasing power parity (PPP). PPP merupakan ukuran daya beli relatif dari dua mata uang yang berbeda. Karena itu, saat membandingkan dolar AS dan rupiah dalam perspektif PPP, itu artinya kita sedang membandingkan daya beli relatif kedua mata uang atas dengan sejumlah barang dan jasa.

Secara sederhana, satu dollar AS dalam PPP merupakan jumlah rupiah yang diperlukan di Indonesia untuk membeli sekumpulan barang dan jasa—dengan jenis dan kuantitas yang sama—yang dibeli dengan harga satu dolar di Amerika Serikat.

Dalam praktiknya, penghitungan PPP cukup rumit dan kompleks serta melibatkan ribuan komoditas. Selama ini, PPP dihitung oleh International Comparison Program (ICP). Fokus dari ICP adalah menghitung Produk Domestik Bruto (PDB) seluruh negara di dunia dalam dolar PPP. Dengan demikian, tingkat kesejahteraan dan capaian ekonomi antar negara dapat diperbandingkan secara apple-to-apple.

Jika terjadi lonjakan harga di pasar dan perubahan kurs maka akan berpengaruh dengan perubahan PPP. Oleh akrena itu untuk mengukur standar PPP sangat dinamis. Tapi kita bisa membandingkan standarnya dengan negar negra tetangga,yang pertumbuhan ekonominya tidak jauh berbeda.BPS saat ini, menggunakan indikator negara paling miskin untuk mengukur tingkat kemiskinan di Indonesia.

Sedangkan bank dunia menggunakan standar kemiskinan 3,20 PPP untuk negara berkembang.Kita sendiri tidak tahu mengapa BPS menggunakan standar paling miskin untuk mengukur tingkat kemiskinan di Indonesia. Apakah ada kaitanya dengan tahun politik, sehingga statistik bisa diotak atik jadi baik ?.

India dan Brazil menggunakan indikator kemiskinan 3,20 dolar PPP, Malaysia menggunakan indikator 5.50 dolar PPP. Sementara Amerika Serikat menggukan indikator 21.7 dolar PPP.

Patokan standar PPP inilah yang menjadi pertanyaan banyak pihak sehingga penurunan angka kemiskinan menjaid tidka signifikan karena menggunakan ukuran sendiri. Lalu pertanyaanya mengapa tidak menggunakan standar PPP bank dunia lama saja yaitu sebesar 1,25 PPPnya, sehingga angka kemiskinan bisa menjadi 6 smapai 7 persen, padahal harga barang naik, kurs naik, dya beli menurun.

Saatnya Indonesia berbenah dengan jujur pada diri sendiri, karena kebohongan yang berulang ulang akan menjadi kebenaran, dan jika kebohongan sudah jadi kebenaran hancurlah dunia ini. (*)

Ditulis oleh : Helmi Adam, Mahasiswa program Doktoral Ilmu ekonomi Universitas Borobudur Jakarta

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Eggi Sudjana

Eggi Sudjana, Krisis Ekonomi dan Revolusi Sosial

SUARA TANGERANG – Sudah dua hari ini berbagai media memberitakan Eggi Sudjana (ES) direkomendasikan Alumni ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com