Bedah buku Suripto intel tiga zaman

Direktur Eksekutif ISDS: Suripto, intel pemikir

Jakarta, SUARA TANGERANG – Siapa yang tak kenal dengan Suripto, tokoh intel legendaris tiga zaman ini oleh Direktur Eksekutif Institute for Strategic and Development Studies (ISDS) M Aminuddin menyebutnya sebagai seorang intel pemikir, karena dia piawai dalam menganalisis data dan informasi terkait berbagai isu yang menyangkut kepentingan publik.

Dalam bedah buku “Gagasan dan Pemikiran Suripto, Intel Tiga Zaman” di Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018, Aminuddin mengemukakan, Suripto yang kini menginjak usia 82 tahun masih rajin menuangkan gagasan dan pemikirannya secara cerdas dan lugas di media massa, baik di bidang politik dan ekonomi maupun sosial-budaya.

Selain Aminuddin, acara bedah buku Suripto itu juga menghadirkan narasumber Ekonom Senior Dr Ichsanuddin Noorsy dan Direktur Pasca Sarjana Universitas As-Syafiiyah Jakarta Prof Dr Zainal Arifin Hoesien dengan moderator wartawan senior LKBN ANTARA, Theo Yusuf MS.

Dalam forum bedah buku yang didahului dengan peluncuran buku “Gagasan dan Pemikiran Suripto, Intel Tiga Zaman” itu Direktur ISDS juga mengapresiasi terbitnya buku yang dinilainya mencerahkan di bidang politik, ekonomi, dan sosial-budaya itu.

“Buku ini sebagian berangkat dari pengalaman pribadi Suripto tentang apa yang dilihat dan dirasakannya secara langsung selaku seorang intel di era Orde Lama dan Orde Baru serta era Reformasi,” katanya.

Buku itu juga dinilainya banyak menyajikan informasi langka bagi publik Indonesia seperti menyangkut konspirasi dan gerakan rahasia  Zionisme dan Freemasonry yang ternyata telah lama berkembang di Indonesia.

Sementara itu, Ekonom Ichsanuddin Noorsy mengemukakan, buku Suripto itu juga menyoroti peristiwa-peristiwa konspiratif dan besar terkait perang ekonomi-politik Internasional seperti soal Arab Spring dan  mengapa pemimpin Libia Muammar Khadafi jatuh.

Kendati mengapresiasi, Ichsanuddin juga mengkritisi sistimatika buku tersebut. “Beberapa ulasan senada sebaiknya cukup dijadikan satu bab bahasan saja. “Misalnya bahasan Zionisme dan Freemasonry cukup disatukan dalam satu bab,” ujarnya.

Sementara itu Prof Dr Zainal Arifin Hoesien berpendapat bahwa buku tersebut bukan diperuntukkan sebagai buku ilmiah, tetapi merupakan buku refleksi Suripto sebagai seorang intel yang kini menjadi pengamat intelijen itu terkait aneka peristiwa besar nasional dan kebijakan pemerintahan.

“Karena bersifat reflektif, buku ini didapat dari apa yang dia rasakan, diamati dan disimpulkan. Misalnya soal penerapan sistem demokrasi yang sudah mapan. Dalam refleksi Suripto ternyata demokrasi yang berjalan adalah demokrasi transaksional yang dipertontonkan elit politik dan para saudagar,” katanya.

Zainal juga mengapresiasi sikap Suripto yang mengkritisi penegakan hukum di Indonesia yang dinilainya masih lemah dan terkesan tebang pilih, padahal penegakan hukum sangat penting untuk menghindari adanya “public distrust” (ketidakpercayaan publik). (1st/rls)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Airin Apeksi

Apeksi inisiasi pelaksanaan UCLG di Surabaya

Surabaya, SUARA TANGERANG  – Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) menginisiasi United City and Local ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com