Media Sepakat Wujudkan Pemilu Berkualitas

Editor’s Forum: Media se-NTT sepakat wujudkan pemilu berkualitas

Kupang, SUARA TANGERANG – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) kembali menggelar Editor’s Forum dengan tema Media bermartabat untuk Pemilu Berkualitas. Kegiatan ini bekerja sama dengan Kaukus Media dan Pemilu serta PWI Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaksanakan di Kupang, NTT, Kamis (25/10) lalu.

Hadir dalam acara ini Kepala Dinas Kominfo NTT, Aba Maulaka, serta  Perwakilan Pemda NTT, Kepala Dinas Kominfo Provinsi NTT, Ketua IJTI, Perwakilan PWI, beberapa SKPD, serta pemimpin redaksi dan wartawan.

Kegiatan  Editor’s Forum ini dihadiri sekitar 100  orang  insan  pers  dan masyarakat umum  yang  berasal dari NTT.  Setiap peserta diharapkan dapat berpartisipasi dalam kampanye #santunbermedia2019 di media sosial.   Kasubdit Media Online Kemkominfo Nurlaili, yang mewakili Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Rosarita Niken Widiastuti, menyampaikan pentingnya keterlibatan media dalam menangkal hoaks dalam Pemilu yang akan digelar April 2019. “Media punya peran penting untuk menciptakan pesta demokrasi berjalan kondusif,” kata Nurlaili.

Nurlaili mengatakan  NTT sudah terbukti sebagai salah satu provinsi yang cukup baik memelihara nilai-nilai Pancasila. Namun, ia mengimbau pengguna media sosial untuk menyebarkan informasi-informasi yang benar dan kreatif, diskursif mengenai hal-hal untuk membangun negeri ini.

“PWI, AJI, IJTI NTT, dan juga adik-adik mahasiswa harus menjadi bagian dari solusi dan bukan menjadi bagian dari masalah saat Pemilu berlangsung,” katanya.

Menurutnya, dalam suasana politik yang cenderung memanas belakangan ini, Bangsa Indonesia sedang membutuhkan pers yang mampu menjadi perekat keutuhan bangsa. Bukan sebaliknya, pers yang egois hanya memikirkan diri sendiri. Atau pers yang alih-alih memikirkan bagaimana turut serta menyelesaikan masalah, justru mengambil manfaat dari masalah demi alasan politik atau bisnis.

“Kita semua berharap, pada tahun politik ini, pers nasional menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Kita membutuhkan pers yang menempatkan diri sebagai perawat kohesi sosial, bukan justru menjadi intensivier of conflict. Pers yang menjadi penjaga keutuhan nasional dan bukan sebaliknya, menjadi bagian dari pihak-pihak yang bersengketa,” pungkasnya.

Ditambahkannya, berita hoaks dan ujaran kebencian dapat memecah belah masyarakat, untuk itu masyarakat juga harus turut serta menjaga situasi agar tetap kondusif.

Pada  titik  ini,  tambah Nurlaili, sekali  lagi kita menemukan  fungsi  fundamental  media pers. Bukan sebagai follower media sosial dalam menyajikan wacana konflik dan perbedaan,  tetapi  dengan  menyajikan wacana  yang  rasional  dan mencerahkan. Menyajikan  informasi,  berita  dan  diskusi  yang  membuka cakrawala  pemikiran  dan  yang  meneduhkan  suasana  hati  setiap  orang.

Menurutnya, dalam  suasana  politik  yang cenderung  memanas  belakangan ini, Bangsa Indonesia sedang membutuhkan pers yang mampu menjadi perekat keutuhan bangsa.  Bukan  sebaliknya,  pers  yang egois  hanya  memikirkan  diri  sendiri. Atau  pers  yang  alih-alih  memikirkan bagaimana  turut  serta  menyelesaikan masalah,  justru  mengambil  manfaat  dari  masalah  demi  alasan  politik  atau bisnis.

“Kita  semua  berharap,  pada  tahun  politik  ini,  pers  nasional  menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Kita membutuhkan pers yang menempatkan  diri  sebagai  perawat  kohesi  sosial,  bukan  justru  menjadi intensivier  of  conflict.  Pers  yang  menjadi  penjaga  keutuhan  nasional  dan bukan sebaliknya, menjadi bagian dari pihak-pihak yang bersengketa,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Infokom NTT, Aba Maulaka dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas upaya Kemkominfo  menggelar Editor’s Forum yang mengajak insan pers bijak dalam pemberitaan pemilu. Dilaporkan pula, dalam pantauan Kominfo NTT, bahwa sejauh ini media di NTT telah menunjukkan sikap dewasa dan bertanggungjawab dalam pemberitaan tentang Pemilu. “Saya berharap, kondisi seperti ini yang damai, tetap terjaga,” harap Aba.

Aba menegaskan bahwa untuk menghasilkan Pemilu 2019 yang berkualitas, awak media harus memperhatikan beberapa hal, pertama, apakah pemilu akan menghasilkan makin teguhnya NKRI. Kedua, independensi penyelenggara pemilu. Ketiga, berapa besar tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu. Keempat, pemilu tanpa politik uang, dan kelima, pemilu menghasilkan pemimpin yang berkualitas.

“Di mana dan bagaimana peran media dalam rangka memberikan kontribusi untuk menghasilkan pemilu berkualitas? Yakni media harus tetap menyajikan penberitaan dengan tetap berasaskan Pancasila. Pers juga harus tetap menjaga independensinya, menjaga jati dirinya, dan juga harus menjadi garda terdepan dalam memberikan pendidikan politik kepada masyarakat,” tegasnya.

Selanjutnya, Editor’s Forum diisi dengan diskusi yang menampilkan sejumlah narasumber antara lain Koordinator Kaukus Media dan Pemilu Agus Sudibyo, Tenaga Ahli Dirjen IKP Ahmed Kurnia, Ketua IJTI Yadi Hendriana, dan Kepala Bidang Humas Polda NTT, dan Kombes Pol Jules Abraham Abast.

Koordinator Kaukus Media dan Pemilu Agus Sudibyo menyampaikan kepada para wartawan media cetak, elektronik, dan online untuk ikut serta dalam menjaga dan juga memeriahkan Pemilu.Agus berharap para wartawan bisa menyebarkan berita positif sehingga bisa melawan berita hoaks yang telah beredar, sehingga masyarakat tidak akan terhasut oleh berita hoax yang tidak memiliki sumber yang jelas.

Menurut Agus, NTT adalah satu contoh daerah yang sukses menyelenggarakan pemilu bersama secara damai. Ditambahkan, media di NTT juga telah berhasil menyajikan pemberitaan terkait pemilu sejauh ini dengan berimbang. “Kami akan mengunjungi provinsi lain untuk menularkan kesantunan bermedia, itu yang menjadi tujuan dan sasaran kita dalam hal ini wartawan dan masyarakat,” ujar Agus.

Deklarasi media untuk pemilu berkualitas

Usai diskusi, para pimpinan media massa di NTT yang hadir, baik cetak maupun elektronik, bersepakat untuk mewujudkan Pemilu 2019 yang berkualitas, melalui pemberitaan yang memberikan pendidikan politik bagi masyarakat NTT. Bentuk tekad itu disuarakan lewat deklarasi bersama.

Deklarasi tekad tersebut dibacakan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang NTT Hilarius F Jahang didampingi para pemimpin redaksi (pemred) media cetak dan elektronik di NTT, dan para pengurus organisasi kewartawanan NTT. Mereka adalah Pemred Pos Kupang, Dion DB Putra, Pemred Victory News (VN) Stevie Johannis, dan Pemred Timor Express (Timex) Kristo Embu.

Dari media elektronik Kepala Stasiun TVRI NTT Alri Palmuntjak, Pimpinan Kompas TV Kupang Edy Olin, Ketua AJI Kota Kupang Alex Dimoe, Ketua IJTI NTT Eben Benge, Produser I-News TV Kupang Semmy Ndolu, Radio Tirilolok FM Kupang Hendro Palratini, anggota KPID NTT, serta Sekretaris PWI NTT Zacky WF.

Poin-poin deklarasi diantaranya:

#1 Media akan menghadirkan pemberitaan yang memberikan pendidikan politik bagi masyarakat.

#2 Pimpinan media massa di NTT menolak adanya intervensi politik ke ruang redaksi demi terjadinya pemberitaan pemilu yang berkeadilan.

#3 Media di NTT bertekad untuk tidak memberitakan agitasi yang dilakukan oleh para politisi.

#4 Menerapkan prinsip check and recheck untuk menghindari penyebaran hoaks.

#5 Ikut mempelopori dan menciptakan iklim politik yang kondusif demi mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. (1st/*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Atal S Depari

Atal S Depari, visi baru PWI lima tahun ke depan

Jakarta, SUARA TANGERANG – Gerak langkah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) lima tahun ke depan, di ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com