Sampah di Tangsel

Sepuluh tahun Tangsel, sampah masih jadi masalah terbesar

Kota Tangsel, SUARA TANGERANG – Diakui Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany bahwa hingga saat ini, sampah masih menjadi masalah terbesar di kota termuda di provinsi Banten, yang hari ini, Senin, 26 November 2018, genap berusia 10 tahun.

Pengakuan Airin tersebut disampaikannya beberapa waktu lalu, di ICE BSD, Tangerang, sebagaimana dikutip Republika.co.id.

Dalam hal penanganan dan pengelolaan sampah, Airin bersama anak buahnya di dinas terkait telah melakukan berbagai upaya, salah satunya dengan membuat TPST 3R (tempat pembuangan sampah terpadu, reduce, reuse, dan resycel, tetapi tetap saja hasilnya belum maksimal. Dari data terakhir yang dihimpun Tangerang Public Transparency, dari 44 TPST 3R yang dicanangkan Pemkot Tangsel, hanya 16 TPST 3R yang berfungsi.

Hal yang sama juga terjadi pada program bank sampah,  dari 200 bank sampah yang telah terbentuk di seluruh kecamatan di Tangsel, hanya 50 persen saja yang aktif.

Meski demikian, pada Agustus 2017 Airin pernah berharap Tangsel bisa meraih Adipura pada tahun 2018 lalu, Namun, harapan yang disampaikannya di hadapan sekitar 150 pengurus bank sampah itu tak bisa diwujudkan dengan berbagai alasan.

Produksi sampah di kota Tangsel terus mengalami peningkatan, diperikirakan  setiap harinya tidak kurang 480 meter kubik sampah diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Cipeucang.

Kurang lebih ada 60 truk sampah dengan daya muat 8 meter kubik, setiap harinya bolak balik mengangkut sampah yang sebagian besarnya adalah sampa rumah tangga di kota C-more ini.

“Jika dikalikan dari jumlah truk yang masuk setiap harinya di TPA Cipeucang, maka itu berarti produksi sampah masyarakat Tangsel per-harinya rata-rata 480 meter kubik, “ kata salah seorang pegawai Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman kota Tangsel yang tak mau disebutkan namanya, beberapa waktu lalu.

Atas penangan dan pengelolaan sampah yang tidak maskimal ini, oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai proses pengelolaan sampah di Tangsel  jauh dari ramah lingkungan, alias buruk.

Senada, Yayasan Peduli Lingkungan Hidup (Yapelh) Indonesia menilai sama, bahwa proses pengolahan sampah di Tangsel memang buruk, bahkan  Yapelh telah mengadukan Pemkot Tangsel ke Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta.

Apa yang mesti dilakukan?

Pertanyaannya adalah, apa yang mesti dilakukan oleh Pemkota Tangsel dalam menangani dan mengelola sampah sehingga tidak menjadi masalah serius ke depan. Lalu, apakah hal ini hanya menjadi pekerjaan rumah besar bagi Airin dan anak buahnya? Ataukah, masalah ini adalah masalah dan menjadi tanggung jawab semua pihak atau stackholder di Tangsel? (*)

#DedikasiSatuDekade Tangsel untuk semua.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wali Kota Arief Pemuda Melek Politik

Ini pesan Wali Kota Arief kepada kaum millennial

Kota Tangerang, SUARA TANGERANG – Hadir pada acara diskusi yang diselenggarakan oleh About TNG, pada ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com