Prabowo Subianto

Tentang Prabowo Subianto: Indonesia bisa bubar dan punah

SUARA TANGERANG – Sebagai seorang prajurit Prabowo Subianto memiliki nalar pertahanan yang sempurna dalam konteks menjaga kedaulatan negara dari dominasi asing, dan penguasaan Asing.

Hal ini diperkuat dari penyataannya yang berbentuk warning bagi bangsa Indonesia, seperti peringatan Indonesia Bubar tahun 2030. Pernyataan itu bukan tidak mungkin, bahkan pernah terjadi dalam sejarah Indonesia Sendiri. Pada tanggal 27 Desember 1949, kita bisa melihat Indonesia terpecah menjadi negara-negara kecil yang tersebar diseluruh wilayah Nusantara, itulah yang dikenal sebaga Negara Republik Indonesia Serikat (RIS), dan baru menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) setelah Mosi Integral Muhammad Natsir 3 April 1950.

Negara RIS yang lahir dari hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) akibat dari Agresi Militer Belanda Kedua adalah pelajaran penting bagi Indonesia, bahwa diplomasi internasional itu sangat penting. Pemerintah dituntut tidak hanya pandai mencitrakan diri di rakyatnya dengan mengambilalih kewenangan lurah dan camat, tetapi pemimpin yang mampu untuk mengkonsolidasikan ideologi dan pandangan negara dalam forum Internasional untuk memberikan warning bahwa negara ini adalah negara yang kuat dan berwibawa.

Wibawa di mata internasional menjadi modal bagi bangsa untuk berdaulat di mata dunia. Jadi, sangat beralasan ketika Prabowo berpidato bahwa Indonesia akan bubar dan bangkrut itu bisa menjadi kenyataan kalau yang memimpin negara adalah ‘boneka’ yang tidak tahu cara berdiplomasi untuk mengangkat wibawa dan martabat bangsa di kancah pergaulan Internasional.

Begitulah cara pandang bernegara seorang prajurit yang berbeda dari cara pandang ‘boneka’. Boneka hanya pajangan, sementara prajurit menyiapkan diri menjadi ‘tumbal’ demi membela keutuhan dan kedaulatan bangsannya.

Pandangan Prabowo tentang bubarnya sebuah negara bukanlah pesimisme. Dalam sejarah dapat kita saksikan, negara sekuat Romawi, sehebat Persia bisa tenggelam dalam sejarah dan jejaknya tinggal kita lihat dalam buku-buku sejarah. Begitu pula negara yang pernah mendominasi perang dunia I dan perang dunia II, yaitu negara Uni Soviet yang sekarang sudah bubar yang tertinggal hanya di rawa sejarah.

Tapi kenapa di Indonesia, warning yang serius seperti ini dianggap sebagai ancaman? Apakah negara ini sudah dikuasai oleh penjajah, sehingga pidato yang menggelorakan altruisme itu dianggap sebagai pesimisme? Hal ini patut kita teliti lebih dalam dan cermati lebih baik lagi.

Kebangkrutan sebuah bangsa

Negara gagal dan bangkrut kemudian bubar bisa oleh beberapa hal: Pertama, dikarenakan oleh kecongkakan penguasa, yang mendalihkan dirinya sebagai pengendali kebenaran, kemudian bertindak otoriter terhadap bangsanya sendiri. Penguasa-penguasa seperti ini adalah pemegang api dalam sekam, yang setiap saat mengancam keutuhan bangsa. Di bawah kendali penguasa seperti ini, ketidakadilan dipertontonkan secara vulgar, kriminalisasi terhadap perbedaan menjadi lumrah, sebuah ancaman bagi demokrasi.

Penguasa yang congkak, berbaju secuil, kekuasaan kerdil, bukanlah fenomena baru, melainkan fenomena kuno yang bisa diambil hikmahnya. Dimana ketika kekuasaan melampaui batas, maka yang terjadi adalah permusuhan abadi dan balas dendam tanpa henti.

Hal ini akan menjadi beban berat bagi sebuah bangsa. Penguasa-penguasa yang seperti ini akan melahirkan protes dan disintegrasi yang menyebabkan perpecahan dalam sebuah negara.

Kedua, terbukannya peluang bagi warga-warga negara Asing untuk bebas masuk di Indonesia dan menetap di dalamnya. Kebebasan ini bahkan mendorong suatu kejadian yang lebih jauh lagi, yaitu terjadinya invansi kekuatan-kekuatan asing di wilayah kedaulatan RI.

Kita dapat menyaksikan,eksodus warga China ke Inonesia sangat terasa. Mereka datang sebagai tenaga kerja untuk proyek-proyek yang diserahkan ke China ( Kereta Cepat, Jalan Tol dan Infrastruktur lannya). Kasus skorsing atas Lion Air (Ketahuan mengangkut warga dari China tetapi mendarat di bandara domestik sehingga tidak ada pemeriksaan dokumen) menjadi tanda bahwa China mulai memindahkan warganya ke Indonesia. Akankah kita menjadi seperti Singapura? Warga negara asli Singapura saat ini telah tergusur dan  Singapura menjadi seperti propinsi China.

Bukankah ini sebuah ancaman akan kedaulatan negara? Kebijakan pemerintah memberikan kemudahan bagi tenaga kerja asing, kemudian diikuti dengan kebijakan memperbolehkan warga asing memiliki property, bahkan menguasai 35 bidang usaha setelah keluar kebijakan paket ekonomi x di Indonesia. Selanjutnya dipermudah lagi memberikan kewarganegaraan, diberi ruang untuk membikin organisasi di Indonesia, hingga nanti diberikan hak untuk memilih. Semua  menjadi muqaddimah dari pengambilalihan negara oleh bangsa lain.

Ketiga, musnah dan bubarnya suatu negara bisa terjadi, apabila rakyat sudah tidak memperhatikan keadaan negarannya. Efek ini sudah terlihat jelas didalam kehidupan kebangsaan kita. Oknum-oknum Lembaga-lembaga negara merenggut kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga itu dengan cara-cara tertentu.

Elit politik menampilkan konstalasi politik yang paling buruk, mulai dari saling menjatuhkan hingga menyerang lawan secara membabi buta. Dari hal ini akan mengawali kekecewaan publik hingga mereka mulai pesimis terhadap negara. Apabila pesimisme itu meluas atau yang saya istilahkan pesimisme kolektif, yang terjadi adalah kekcauan dalam masyarakat, sepertu tindakan kriminal hingga main hakim sendiri, menolak konsensus politik, trauma masyarakat untuk ikut dalam politik dan birokrasi pemerintahan, menjadi bagian jalan melemahkan negara.

Dengan demikian, negara diisi oleh antek-antek Asing, hukum dipermainkan oleh penegak hukum, birokrasi di jadikan sebagai alat untuk menstimulus agenda kolonialisme.

Keempat, ekonomi dikuasai oleh segelintir orang, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin melarat. Kekayaan nasional Indonesia masih dikuasai segelintir orang. 10% orang terkaya di Indonesia menguasai 74,8% kekayaan nasional. Kekayaan nasional terkonsentrasi di segelintir penduduk. proporsi total kekayaan yang di kuasai 1% rumah tangga terkaya menguasai 45,4% kekayaan nasional.

LSM Oxfam pada Februari 2017 menyebut Indonesia sebagai salah satu negara dengan ketimpangan paling parah di dunia. Oxfam mencatat, harta empat taipan terkaya di negara ini sama dengan harta yang dimiliki oleh 100 juta orang miskin. Harta empat orang terkaya di Indonesia mencapai USD 25 miliar atau setara Rp333,8 triliun. Sementara total kekayaan 100 juta penduduk miskin di Indonesia sebesar USD24 miliar atau sekitar Rp320,3 triliun.

Penguasaan ekonomi seperti ini adalah buah karya Kebijakan. Yaitu kebijakan neoliberal yang pro utang luar negeri, pro investor asing, pro Lembaga Internasional, pro pemodal, pro konglomerat, dan diwarnai KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) sehingga kapitalisme yang dikembangkan cenderung kapitalisme kroni.

Tanggapan Prabowo sebagai prajurit

Bagaimana mungkin seorang prajurit dengan semangat bela negara tega melihat keadaan ini. Tega melihat penguasa yang congkak dan dengan muka pencitraan? Bagaimana mungkin Prabowo sebagai Prajurit Abdi Negara tega melihat bangsa lain diberikan tempat untuk bekerja ditengah bangsa sendiri yang ‘memproduksi pengangguran’. Tidak mungkin pula Prabowo diam melihat rakyat Indonesia sudah mulai putus asa akibat tingkah laku elit politik dan penguasa. Bagaimana ia harus berpangkut tangan, sementara ia menyaksikan kekayaan Bangsa indonesia dieksploitasi, rakyat miskin makin susah dan kehidupan rakyat banyak masih miskin, sedangkan ‘mafia-mafia’ dan bandit ekonomi ongkang-ongkang kaki?

Inilah mengapa dengan Prabowo mengatakan bahwa negara ini bisa bubar apabila ini dibiarkan penguasa yang congkak dan yang memegang kendali negara orang mengerti mengelola negara. Itulah makna pidato Prabowo pada hakikatnya.

Tetapi dalam konteks politik, pidato yang memancing adrenalin untuk berpikir itu dianggap sebagai pesimisme, dan dijawab dengan cemooh oleh politisi yang tidak sejalan dengannya. Mereka bukan menjawabnya secara ilmiah melainkan dengan tuduhan-tuduhan yang mengarah pada pribadi dan keluarga.

Indonesia bisa punah

Prabowo dalam acara Konferensi Nasional Partai Gerindra di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Senin, 17 Desember 2018, menyebutkan bahwa negara ini akan punah apabila ia tidak menang.

Benarkah Indonesia bisa Punah? Saya secara pribadi sependapat dengan argumentasi tersebut. Sebab kebijakan-kebijakan pemerintah selama 4 tahun terakhir ini menandakan adanya sebuah gelombang besar masuknya kekuatan asing. Sementara ketidakadilan, kriminalisasi, dan pengkotak-kotakan masyarakat telah terjadi. Kejadian ini hanya terjadi dalam empat tahun terakhir, dan apabila ini diperpanjang menjadi 10 tahun bisa saja 2030 indonesia akan punah.

Pernyataan bahwa Indonesia akan punah disebabkan hanya ada dua alternatif pilihan yaitu pasangan Prabowo – Sandi dan Jokowi-Maaruf. Tidak ada alternatif calon presiden lain kecuali dua pilihan itu. Dalam konteks dua pilihan inilah Prabowo menyanpaikan bahwa negara bisa musnah apabila masyarakat memberikan kesempatan bagi kegagalan satu periode memperpanjang kegagalannya hingga tahun 2024 yang akan datang.

Menimbang track record

Prabowo Subianto memang belum pernah memegang jabatan pemerintahan sipil, tapi bukan berarti ia tidak mengerti bagaimana menjalankan pemerintahan itu. Seperti halnya Presiden-presiden sebelumnya, Seperti Soekarno dan Soeharto, mereka tidak pernah memegang jabatan sipil, tetapi penguasaannya terhadap masalah kenegaraan sudah tuntas.

Begitu pula Prabowo, ia paham dan mengerti bagaimana mengelola negara dengan baik, ketimbang memperpanajang yang amatiran. Semua orang tahu, reputasinya sebagai seorang Perwira TNI sangat gemilang. Prabowo berhasil mengamankan Presiden Fretilin, Nicolau Lobato, dalam operasi penangkapan pada tanggal 31 Desember 1978. Waktu itu, Prabowo Subianto bertindak sebagai kapten yang memimpin 28 pasukan elit. Prabowo nerhasil memimpin operasi penyelamatan peneliti Ekspedisi Lorentz 95 yang disekap oleh Organisasi Papua Merdeka dalam operasi pembebasan sandera mapenduma pada tahun 1996. Waktu itu, Prabowo Subianto bertindak sebagai komandan.

Spirit altruisme yang tetanam dalam dada Prabowo diwariskan dari keluarga besarnya. Karena itulah kecintaannya pada Indonesia bukanlah kecintaan semu untuk meraih kekuasaan. Bapaknya adalah tokoh politik dan ekonom yang paling cemerlang pikirannya serta Guru Besar Universitas Indonesia.

Gelora politik dengan pidato yang menggugah nurani, mencerminkan sikap kecintaannya pada Tanah Air. Peringatan-peringatan kerasnya tentang keadaan Indonesia yang sedang dalam ‘ambang krisis’ merupakan bentuk sikap yang wajar. Pernyataannya tentang pragmatisme yang secara vulgar tanpa untuk mencaru simpati menjadi arah pembaharuan politik Indonesia.

Sumbangan-sumbagannya dalam bidang olahraga dan bidang militer, serta keterlibatannya dalam dunia ekonomi telah memberikan konstribusi besar bagi bangsa dan negara. Memang tidak kelihatan sebagaimana yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan, tapi dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.

Sebagai kesimpulan, bahwa pengetahuan politik, ekonomi dan pertahanan menjadikan pribadi Prabowo sebagai harapan untuk memimpin Indonesia menjadi negara yang kuat, negara yang adil dan makmur ‘baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur’.

Wallahualam bis shawab

Ditulis Oleh: DR  Ahmad Yani, SH. MH, Calon Anggota DPR RI dari PBB Dapil DKI Jakarta 1, Jakarta Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Musni Umar

Analisis sosiologis: Prabowo-Sandi akan memenangi Pemilu Presiden 2019

SUARA TANGERANG – Sejak pemilihan Presiden RI secara langsung pada tahun 2004, sebagai sosiolog saya ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com