BREAKING NEWS

Artificial Pancreas: Inovasi Pengobatan Diabetes di Masa Depan

SUARA TANGERANG – Diabetes tipe 1 merupakan penyakit yang sulit disembuhkan dan walaupun ada beberapa pilihan perawatan yang tersedia, banyak orang tetap merasa sulit mengatasinya.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018, penderita diabetes mellitus diperkirakan sebesar 10,9%. Indonesia adalah salah satu dari 22 negara dan teritori di wilayah International Diabetes Federation Western Pacific dan terdapat lebih dari 10.276.100 kasus diabetes di Indonesia pada tahun 2017.

Pada keadaan normal, insulin memfasilitasi penyerapan glukosa dari darah menuju bagian tubuh yang membutuhkan. Diabetes terjadi ketika pankreas berhenti bekerja dalam memproduksi insulin.

Diabetes tipe 1 dapat secara signifikan memengaruhi kehidupan seseorang, karena perlunya pemantauan kadar gula darah secara teratur untuk memastikannya tidak berbahaya pada saat kadar tinggi atau rendah.

Seiring berkembangnya inovasi teknologi, salah satu solusi penderita diabetes adalah sebuah teknologi Pankreas Buatan atau lebih dikenal dengan closed loop artificial pancreas yang sudah mulai direncanakan sekitar tahun 1980an.

Pankreas buatan tidak akan seperti pankreas alami yang merupakan organ internal. Sebaliknya, sistem pengiriman insulin loop tertutup, bekerja sebagai sistem eksternal yang berfungsi memantau dan mendeteksi kadar glukosa darah setiap lima menit melalui devais, menghitung jumlah insulin yang dikendalikan oleh algoritma tertentu, dan secara otomatis mengirimkan hormon insulin melalui pompa ke dalam tubuh menjaganya tetap stabil dengan pendekatan non-invasif.

MiniMed 670G Medtronic merupakan devais pankreas buatan pertama di dunia yang telah melewati perizinan FDA (Food and Drug Administration). Hal ini dikemukakan oleh media FierceBiotech pada Juni 2018.

Sistem ini mencakup sensor glukosa yang mengukur kadar glukosa dalam cairan tepat di bawah kulit. Pompa insulin MiniMed 670G melalui patch infus mengantarkan insulin melalui kateter. Algoritma yang digunakan mendeteksi insulin setiap lima menit berdasarkan data real-time yang dibaca oleh sensor. Namun, sistem ini terbatas hanya untuk penderita diabetes tipe 1 dan anak-anak 7-14 tahun.

Medtronic juga menggunakan sistem CGM Eversense yaitu sensor kecil yang ditanamkan tepat di bawah kulit. Setelah terpasang, sensor secara teratur mengukur kadar glukosa pada penderita diabetes hingga 90 hari. Sensor ini menggunakan teknologi berbasis cahaya untuk mengukur kadar glukosa dan mengirimkan informasi ke aplikasi seluler untuk mengingatkan pengguna jika kadar glukosa terlalu tinggi atau terlalu rendah. Sistem ini dapat diaplikasikan oleh penderita usia 18 tahun keatas dan sudah melewati persetujuan FDA.

Menurut salah satu Asisten Ahli sekaligus Dosen di Program Studi Teknik Biomedis Institut Teknologi Bandung, Astri Handayani, S.T, M.T, menyatakan bahwa adanya perbedaan implementasi pankreas buatan pada penderita diabetes tipe 1 dan tipe 2.

Penderita diabetes tipe 1 tidak dapat menghasilkan insulin, sehingga kebanyakan pankreas buatan berfokus dan lebih banyak ditujukan pada penderita diabetes tipe 1 karena kegunaannya menggantikan fungsi pankreas alami dengan memompa insulin otomatis sesuai kadar yang dibutuhkan.

Pada diabetes tipe 1, sistem kekebalan menyerang sel-sel yang memproduksi insulin di pankreas, sehingga orang perlu mengambil terapi insulin untuk mengontrol kadar glukosa dalam darah.

Berbeda halnya dengan diabetes tipe 2, yaitu jaringan yang tidak dapat merespons insulin, tidak sensitif akan jumlah insulin di sekitarnya, dan tidak ada permasalahan dengan produksi insulin. Oleh karena itu, implementasi pankreas buatan pada penderita diabetes non tipe 1 hanya berfungsi sebagai monitoring atau pemantauan dan intervensi pertama agar tidak keluar dari rentang gula darah normal.

Salah satu penelitian di University of Cambridge telah menunjukkan bahwa Pankreas Buatan dapat digunakan oleh penderita diabetes tipe 2 melalui perawatan tinggal di rumah sakit, dengan meningkatkan kontrol glukosa darah tanpa meningkatkan risiko hipoglikemia (kadar glukosa darah sangat rendah).

Percobaan berlangsung di dua rumah sakit di Inggris dan Swiss, dan melibatkan 136 orang dengan diabetes tipe 2 yang untuk terapi insulin melalui dua perlakuan yaitu menggunakan pankreas buatan atau melalui suntikan insulin standar hingga 15 hari.

Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa Pankreas buatan memberikan dampak positif dengan rata-rata 24,2% pengguna memiliki kadar glukosa darah sesuai target (5,6 hingga 10,0 mmol/liter), dibandingkan dengan yang menerima injeksi insulin.

Para peneliti mendukung pengembangan pankreas buatan selama beberapa dekade dan berkomitmen untuk memastikan teknologi ini dapat memberikan banyak manfaat bagi penderita diabetes di masa depan.

Namun, bagaimana pengembangan dan persetujuan Artificial Pancreas di Indonesia?

Saat ini, pengembangan artificial pancreas hanya sebatas trial atau penelitian dan belum terlaksananya uji klinik di pasien. Ada tiga fokus pemerintah yang menjadi permasalahan dalam mengatasi diabetes di Indonesia. Pertama yaitu bagaimana mendeteksi diabetes secara dini, seperti melakukan screening atau pemeriksaan massal yang dilakukan dengan mudah dan terjangkau. Kedua adalah pengobatan untuk penderita diabetes yang memiliki perawatan mudah, murah, dan dapat dilakukan dengan produksi sediaan insulin lokal. Ketiga adalah bagaimana cara mengatasi komplikasi yang dapat terjadi pada penderita diabetes.

Astri Handayani, S.T, M.T, mengatakan bahwa untuk persetujuan di Indonesia memerlukan beberapa tahap seperti uji hewan, pre-klinis, klinis, dan uji cost analysis agar pengembangan ini dapat dilakukan.

Artificial Pancreas telah menjadi inovasi pengobatan teknologi diabetes di beberapa negara maju. Hal ini terbukti memiliki dampak positif dan menjadi potensi dalam mengatasi permasalahan diabetes di dunia.

Akan tetapi, fokus dalam mengatasi permasalahan diabetes di Indonesia masih dalam tahapan dan memerlukan proses yang panjang dalam pengembangannya baik dari segi biaya, penelitian dan pengujian yang masih jauh tertinggal, efisiensi dan kemampuan masyarakat, serta persetujuan dalam negeri.

Inovasi Pankreas Buatan diharapkan dapat mendorong dan menjadi suatu target yang dapat terlaksana dalam mengatasi permasalahan diabetes di Indonesia serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Ditulis Oleh: Athaya Syaqra, Mahasiswa Teknik Biomedis ITB 2018, KI2162, BIOKIMIA.

Source:

https://www.idf.org/our-network/regions-members/western-pacific/members/104-indonesia.html

https://www.fiercebiotech.com/fda-expands-use-medtronic-s-artificial-pancreas-to-younger-type-1-diabetics

https://www.diabetes.org.uk/about_us/news/artificial-pancreas-type-2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

DeMit

DeMIT bikin Dermaji jadi desa mandiri

Jakarta, SUARA TANGERANG  – Kabupaten Banyumas terus berupaya untuk meningkatkan kemandirian desa melalui pemanfaatan informasi ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com