diena haryana

FGD KPAI, Diena Haryana: Mengapa kekerasan di sekolah sulit diatasi

Jakarta, SUARA TANGERANG – Pemerhati masalah anak dari Yayasan Sejiwa,  Diena Haryana mengungkapkan ada lima alasan mengapa kekerasan di sekolah sulit diatasi.

Menurutnya, pertama, masih adanya anggapan diantara pendidik bahwa menghukum anak dengan kekerasan masih diperlukan untuk mendisiplinkan. Kedua,  Perlakuan sekolah yang tidak konsisten atas kekerasan yang dilakukan siswa kepada siswa lain. Ketiga,  Pemahaman tentang definisi kekerasan yang tidak merata.  Keempat, Pemahaman tentang kebijakan-kebijakan yang ada tentang kekerasan di sekolah yang tidak merata. Kelima, Kondisi di rumah yang tidak harmonis termasuk tekanan ekonomi.

Pernyataan tersebut disampaikan  Diena Haryana dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), di Lantai 3, Kantor KPAI Jalan Teuku Umar No. 10 – 12, Gondangdia, Menteng, Jakarta, Selasa (21/11) .

Selain itu, Dina yang berprofesi sebagai psikolog ini juga menyamapikan, bahwa ada factor lain yang sangat berpengaruh sehingga kekerasan sulit diputus mata rantainya, “Pertama, anak kerap menyaksikan kekerasan melalui games dan youtube yang dapat memicu anak melakukan kekerasan.  Kedua,  kurang difahaminya hak-hak anak oleh pihak-pihak yang terkait dengan anak. Ketiga,  anak-anak belum cukup diberdayakan agar mampu melindungi dirinya serta melindungi temannya, “ kata Dina dalam forum FGD dengan tema Kekerasan di Pendidikan dan kritisi terhadap Instruksi Gubenur DKI JAKARTA No 16/2015 tentang Penanganan dan Pencegahan Kekerasan di Satuan Pendidikan.

Sementara itu, Melanie Sadono Djamil dari Gerakan Nasional Anti Bullying (GENAB)  menyatakan bahwa dalam pengalaman  pendampingan, berbagai bullying yang terjadi di sekolah sangat dipengaruhi oleh siswa senior dan para alumni, terutama alumni yang baru lulus 1-3 tahun. “Jadi untuk memutus mata rantai kekerasan di sekolah, tidak bisa hanya dilakukan oleh sekolah sendiri, tetapi membutuhkan sinergi banyak pihak, mulai dari orangtua, guru, kepala sekolah, petugas sekolah lainnya, komite sekolah, dinas pendidikan setempat, dan masyarakat,” ujar Melanie yang juga dosen di Universitas Trisakti, Jakarta.

Melani kemudian menyampaikan, ada empat pilar utama dalam gerakan nasional anti bullying yang digagas oleh GENAB, yaitu: Pertama, rumah dan keluarga harus dikembalikan fungsinya dalam memaksimalkan peran orang tua dalam mendidik anaknya. Kedua, Pencegahan bullying dengan kampanye secara terus menerus. Ketiga, advokasi dan peran KPAI sangat besar dalam melakukan perlindungan anak dengan memutus mata rantai kekerasan di sekolah. Keempat, pentingnya penguatan pendidikan karakter (PPK), terutama budi pekerti dari pendidik sampai petugas sekolah. (1st/*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

dedi-hha

PNI Jawa Barat ajukan HHA Cawagub Dedi Mulyadi

Bandung, SUARA TANGERANG  – Pergerakan Nadhliyyin Indonesia (PNI) Jawa Barat (Jabar) mengusulkan agar Wakil Sekretaris ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com