diskusi lipi

Islam politik harapkan konsep nasionalisme akomodir gagasan mereka

Jakarta, SUARA TANGERANG – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar diskusi hasil riset mereka terkait nasionalisme dan multikulturalisme, penelitian ini bertujuan mengisi kesenjangan literatur dalam diskursus nasionalisme dan multikulturalisme yang mampu menjelaskan hubungan antara agama dan pancasila, selain itu penelitian ini juga dimaksudkan sebagai usaha rekonseptualisasi konsep multikulturalisme dan nasionalisme agar lebih sesuai dengan konteks keindonesiaan.

“Selama ini penjelasan tentang nasionalisme dan multikulturalisme berasal dari konteks masyarakat barat. Bias barat yang tidak seluruhnya sesuai dengan konteks Indonesia, yang dalam kasus tertentu lebih kompleks dan unik. Dengan demikian studi ini bertujuan melakukan rekenseptualisasi terhadap konsep-konsep tersebut agar lebih bersifat kontekstual,” jelas Koordinator Tim Peneliti, Suwarsono, Selasa (28/11).

Ada tiga tempat yang dijadikan sampel penelitian, yakni Kota Solo, Kota Yogyakarta, dan Kota Tasikmalaya. Alasan utama dipilihnya tiga tempat tersebut karena mempertimbangkan aspek kesejarahannya.

“Ketiga ruang sosial tersebut pernah menjadi pusat-pusat penting pada masa revolusi Indonesia 1945-1949,” ungkap Suwarsono.

Untuk konteks Solo ada dua fenomena yang menarik. Pertama munculnya Islam politik pasca jatuhnya Soeharto. Kedua kemunculan figur Jokowi sejak 2005 hingga sekarang. Kekuatan Islam politik mencoba mengambil alih ruang politik namun tidak begitu berhasil. Secara historis ruang sosial Solo sejak 1955-1965 dikuasai oleh gagasan Naskom (Nasionalis, Agama, Komunis) namun gagasan tersebut dihancurkan oleh kekuatan Orde Baru. Lain halnya dengan Yogyakarta, kota yang dikenal sebagai multikultur dan harmoni pada masa Orde Baru ini justru mengalami perubahan pasca reformasi, pada masa Orde Baru kelompok radikal lebih dialamatkan kepada kelompok yang bertentangan dengan pemerintahan Soeharto, tetapi pasca reformasi kelompok radikal lebih dialamatkan kepada kelompok yang berbasis agama. Sedangkan untuk konteks Tasikmalaya menunjukkan adanya pergeseran gagasan dari generasi penerus NII, pergeseran ini ditandai dengan munculnya perubahan orientasi dari mewujudkan negara islam bergeser kepada pembentukan negara Indonesia yang bersyariah, atau pancasila bersyariah.

“Kita menjumpai warna berbeda pada ketiga daerah tersebut, kesimpulan utama dari penelitian ini bahwa gagasan multikulturalisme dan nasionalisme berdialektika dengan Islam politik. Islam politik menghendaki akomodasi negara terhadap Islam politik, konsep multikulturalisme dan nasionalisme ditafsirkan oleh Islam politik sebagai suatu konsep yang perlu mengakomodasi gagasan mereka akan suatu komunitas Islam yang hidup secara politik,” papar Suwarsono di hadapan peserta diskusi. (1st/*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Yusril Uji Materi UU Pemilu

Soal presidential threshold 20%, Yursil: Jangan ubah demokrasi jadi oligarki

Jakarta, SUARA TANGERANG – Sidang pengujian UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017 Pasal 222 tentang ambang ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com