Kampoeng Hompimpa

Kampoeng Hompimpa, ikhtiar melestarikan permainan tradisional Indonesia

Kabupaten Tangerang, SUARA TANGERANG – Kampoeng Hompimpa merupakan sebuah komunitas yang bertujuan untuk melestarikan permainan tradisional Indonesia dan berlokasi di Tangerang, saat ini komunitas yang sama juga telah terbentuk di beberapa daerah seperti di Semarang, Pontianak, dan Yogyakarta.

Kampoeng Hompimpa memiliki visi yaitu melestarikan permainan tradisional serta mengedukasi masyarakat melalui permainan tradisional.

Dalam upaya mencapai visi tersebut, maka Kampoeng Hompimpa memiliki tiga misi utama yaitu;

  1. Mengimplementasikan permainan tradisional secara langsung di sekitar lingkungan masyarakat,
  2. Memberikan informasi dan pengetahuan permainan tradisional,
  3. Mengedukasi masyarakat melalui permainan tradisional.

Awalnya, Kampoeng Hompimpa hanya dibuat untuk memenuhi tugas kuliah mahasiswa Surya University jurusan Technopreneurship, yang dikerjakan oleh tiga orang, yaitu Muhammad Miftah, Akhmad Muslih dan Marcelino Roderick.

Dalam tugas ini, mereka dimandatkan untuk meneliti masalah sosial apa saja yang ada di lingkungan sekitar. Langkah awal yang mereka lakukan kala itu adalah observasi lapangan.

“Permasalahan utama yang kami lihat adalah pada permasalahan interaksi anak yang lebih banyak dihabiskan pada permainan online atau permainan modern. Dari situlah kami mencetuskan ide membuat program permainan tradisional yang kaya interaksi dan manfaat untuk tumbuh kembang anak. Mulai dari manfaat perkembangan kognitif anak, interaksi, sekaligus melestarikan kekayaan budaya Indonesia, dalam bentuk permainan tradisional, kata Marcelino Roderick sebagai penggagas
Kampoeng Hompimpa kepada suaratangerang.com, Senin (10/7).

Kampoeng Hompimpa juga membebaskan siapapun untuk mengunjungi Basecamp mereka yang terletak di Jalan Curug Sangereng RT 02, RW 05, Kelapa Dua, Tangerang untuk bisa bermain permainan tradisional sepuasnya.

“Kami berharap Kampoeng Hompimpa dapat dikembakng di setiap daerah di Indonesia. Karena itu diperlukan orang per orang atau kelompok yang bertugas menjadi motor penggerak pelestarian budaya di setiap daerahnya, hingga tidak akan pernah mati,” ujar Marcelino. (1st/KH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Era media sosial menjadi sebuah new normal

SUARA TANGERANG – Di era modern saat ini, bukan hanya media cetak, audio, maupun audio ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com