Muslim Rohingya dibantai

Etnis Rohingya dibantai, Pemenang Nobel Perdamaian diam saja

Jakarta, SUARA TANGERANG — Dalam beberapa waktu terakhir, dikabarkan bahwa militer Myanmar di bawah pemerintahan Aung San Suu Kyi melakukan pembantaian besar-besaran kepada warga Muslim Rohingya di wilayah Rakhine, Myanmar.

Menurut laporan yang ada, warga Muslim Rohingya dikabarkan dibunuh dan disiksa secara fisik. Perempuan dan anak-anak juga merupakan korban dari pembantaian tersebut. Data dari European Rohingya Council (ERC) menyebutkan bahwa 3.000 Muslim Rohingya terbunuh selama tiga hari, pada tanggal 25-27 Agustaus lalu. Desa tempat mereka tinggal pun dibakar. Militer pemerintahan berdalih bahwa ini merupakan upaya memberantas terorisme.

Hingga detik ini, pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi tidak melakukan upaya apapun untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan yang terjadi di negerinya itu. Akibatnya, kini banyak warga Muslim Rohingya yang mengungsi dan terdampar di perbatasan Bangladesh. Organisasi Migrasi Internasional (IOM) melaporkan sedikitnya 18.445 Muslim Rohingya yang mengungsi (bbc.com).

Namun, Suu Kyi sebagai peraih Nobel Perdamaian seakan tuli dan tidak melakukan upaya untuk melindungi warga negaranya.

Atas sikap diamnya Suu Kyi tersebut, Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yursril Izha Mahendra menyebut sikap Suu Kyi itu sebagai sikap yang memalukan.

“Sebagai pemegang Hadiah Nobel Perdamaian, sikap Suu Kyi yang membiarkan kekejaman di Myanmar adalah sikap yang memalukan” kata Yusril, Jumat (1/9).

Gubernur terpilih DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan pun menyangkan sikap Suu Kyi. Menurut Anies, kebiadaban yang terjadi di depan rezim berkuasa yang secara de facto di pimpin oleh Aung San Suu Kyi, penerima hadian Nobel tersebut tidak bisa didiamkan begitu saja.

Diamnya, Suu Kyi tersebut, membuat mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI di ini  pun menuntut kepada Komite Nobel di Oslo untuk mencabut hadiah nobel dari Aung San Suu Kyi.

“Saya menuntut kepada Komite Nobel di Oslo untuk mencabut hadia nobel dari Aung San Suu Kyi atas pendiamannya terhadap kebrutalan ini,” kata Anies dalam video yang diviralkan di sosial media, Rabu (30/8).

Lanjutnya, “Kejadian ini tak boleh berlanjut harus berhenti dan tak boleh berulang,” ujar Anies.

Senada, Koordinator Divisi Monitoring Hukum dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho, juga telah menggerakkan sebuah petisi dengan judul “Cabut Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi!”.

Petisi yang digerakkan melalui Change.org, tersebut, kini telah medapatkan dukungan dari  252.052 pendukung.  Dan, masih memerlukan dukungan yang lebih banyak lagi.

Karena itu, kata Emerson, “Kami meminta semua orang yang mencintai perdamaian dan menentang kekerasan dan pembunuhan terhadap etnis Rohingya untuk mendukung dan memperkuat petisi ini.”

Sementara itu, berdeda dengan Emerson yang menggerakkan petisi lewat Chage.org. Sebuah petisi juga telah digerakkan para pengguna sosial media, dan telah viral.

Petisi ini pun telah didukung oleh berbagai kalangan dan profesi, yang mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar mengambil sikap dan tindakan pro aktif menyelesaikan tragedi penindasan atas etnis Rohingya di Myanman.

(1st/*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Tujuh instruksi Presiden untuk Polri

Jakarta, SUARA TANGERANG – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan tujuh instruksi untuk dijadikan pedoman dalam ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com