BREAKING NEWS
Diskusi JakPas & BN

Diskriminasi pendidikan masih terasa, tak sedikit dari anak difabel termarjinalkan

Jakarta, SUARA TANGERANG – Perhatian dan pemenuhan pendidikan anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia dirasakan masih sangat kurang, ditambah lagi banyak sekolah negeri yang tidak mau menerima anak berkebutuhan khusus sebagai peserta didiknya. Diskriminasi pendidikan ABK ini masih sangat terasa. Akibatnya tidak sedikit dari mereka termarjinalkan dari sisi pendidikannya.

Padahal dalam undang-undang dasar negera kita secara tegas bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga negara, tanpa pandang bulu, disamping itu seperangkan aturan terkait pemenuhan pendidikan bagi ABK juga sudah sangat gambling, bahkan negara kita juga  sudah meratifikasi konvesi PBB terkait pemenuhan hak-hak untuk anak-anak berkebuuhan khusus.

Di sisi lain perhatian beberapa kalangan khususnya kepada anak berkebutuhan khusus dan kaum Disabilitas, selain bidang pendidikan sudah mulai terlihat, sebagian fasilitas umum sudah mulai memenuhi sarana dan prasaranaya untuk anak berkebutuhan khusus dan kaum Disabilitas, termasuk, saat penanganan ketika terjadi bencana, anak berkebutuhan khusus dan kaum Disabilitas masuk sebagai kelompok rentan yang harus mendapat pelayanan utama (priority).

Perdebatan di atas mengemuka dalam serial diksusi yang diselenggarakan eksponen Jak Pas bersama Barisan Nusantara dengan tema  “Pendidikan Inklusi, Mencari Format Pendidikan Bagi Kalangan Difabel,” Jumat malam (8/9) di Markas Anak Jakarta, Ruko Permata, Jl.Bekasi Timu IX/17, Jatinegara, Jakarta Timur.

Meski sebagian pembicara berhalangan hadir, namun diskusi tetap berjalan dan greget serial diskusi tersebut cukup menarik. Banyak hal terkait pendidikan bagi kalangan marjinal yang selama ini kurang terekspos dan tidak banyak diketahui publik, mencuat dalam diskusi tersebut.

Agus Supriyanto salah seorang narasumber pada diskusi itu secara blak-blakan menegaskan bahwa, jangan sampai ada anak usia sekolah di DKI Jakarta yang tidak bisa mengakses pendidikan, baik itu anak-anak yang normal maupun anak dengan berkebutuhan khsusus.

Lelaki berkacamata yang juga pengelola Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA) di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan ini menguraikan liku-likunya mengelola sekolah bagi anak-anak dari kalangan marjinal.

Anak didik kami lanjut Agus, kebanyakan dari anak-anak jalanan, para pengamen, pemulung, jadi jangan dibayangkan bahwa kegiatan belajar mengajar ditempat kami seperti sekolah formal pada umunya, kita menyesuaikan dengan ritme dan aktivitas masing-masing anak, dan para pengajarnya juga dari relawan-relawan yang mendedikasikan dirinya secara ikhlas demi memajukan pendidikan anak-anak bangsa.

“Para peserta didik yang belajar ditempat kami semuanya gratis, walau gratis kami tidak asal-asalan dalam menerapkan kegiatan belajar mengajar, dari sisi prestasi anak didik kami tidak kalah dibanding yang belajar disekolah formal pada umumnya,”jelas Agus.

Di sisi lain Agus berpendapat bahwa ke depan pemerintah harus lebih memperioritaskan dan fokus dalam memperhatikan keberadaan sekolah-sekolah alternatif bagi anak-anak marjinal seperti ini. Selama ini menurut Agus respon dari pihak pemerintah sangat kurang, seharusnya dari intansi terkait bisa lebih proaktif, jemput bola, tidak sekedar hanya sebagai proyek kegiatan yang pada ujungnya tidak menghasilkan apa apa.

“Perlu adanya sinergi antara masyarakat sebagai penggerak pendidikan bagi anak-anak kurang mampu, pihak dunia usaha yang memiliki program dana CSR untuk menyalurkanya kepada para pelaku/penggiat yang benar-benar bergerak dan terlihat jelas aktivitasnya dilapangan, sehingga penyauran dana CSR tersebut tidak sia-sia, dan pihak pemerintah harus bisa memberikan kemudahan-kemudahan dari segi teknis dan perizinan, serta pendampingan secara maksimal,”ujar Agus Supriyanto.

Agus juga menegaskan bahwa pendidikan harus hadir ditengah-tengah warga masyarakat dengan demikian efeknya secara ekonomi akan meringankan beban biaya pendidikan bagi warga. Adanya semangat warga yang mau menggerakan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu, disamping itu juga adanya para relawan yang siap mendedikasikan dirinya untuk ikut mengajar tanpa pamrih.

Diakui Agus bahwa selama ini untuk SAAJA memang belum banyak menangani anak-anak berkebutuhan khusus, dan kaum disabilitas, rata-rata yang belajar di SAAJA anak normal dari kalangan kurang mampu.

Sementara itu pembicara kedua Ovi yang juga penggiat pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus, disabilitas lebih sharing pengalamanya dalam mengelola lembaganya ‘Binar’ yang ada di Serang, Banten.  Diakui Ovi memang untuk menangani anak-anak dengan berkebutuhan khusus dan disabilitas perlu penanganan lebih ekstra dibanding dengan anak anak normal pada umumnya.

Di samping itu lajut Ovi para relawan, pengajar untuk anak-anak berkebutuhan khusus dan disabilitas juga harus menegerti dan memahami betul teknik, methode dalam memberikan pembelajaran kepada anak-anak didiknya. Pada prinsipnya menurut Ovi bagaimana membekali anak-anak berkebutuhan khusus dan disabilitas ini untuk memiliki rasa percaya diri ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat, prinsip ini harus benar-benar diterapkan sejak dini.

Maysrakat secara luas juga harus memberikan perhatian penuh kepada anak-anak berkebutuhan khusus dan kalangan disabilitas, memandang bahwa semua kita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang diberikan keistimewahaan khusus secara masing-masing, sehingga apa bulying, cemoohan terhadap mereka seminimal mungkin dihindari kalau masing-masing kita memiliki kepedulian.

Dalam pandangan Kak Azma sebagai narasumber beikutnya, lebih menyoroti minimnya perhatian sekolah-sekolah negeri untuk bisa menampung anak-anak berkebutuhan khusus dan kaum disabilitas. Seharusnya menurut mantan aktivis Kohati Jakarta ini, ada quota bagi sekolah-sekolah negeri untuk menampung anak-anak berkebutuhan khusus, kaum disabilitas, sehingga dengan demikian mereka akan bisa tertampung dan bisa mengenyam penidikan.

Diakui Kak Azma, memang ada sekolah-sekolah khusus yang mengelola pembelajaran untuk anak-anak berkebutuhan khusus, kaum dsabilitas, misalnya SLB, namun keberadaan sekolah sekolah tersebut tidak serta merta ada disekitar kita, dan dari sisi biaya juga cukup mahal, sehingga bagi kalangan yang kurang mampu tentunya menjadi problem tersendiri, sehingga tidak sedikit orang tua dari kalangan yang kurang mampu memiliki anak-anak berkebutuhan khusus dan disabilitas lebih banyak membiarkan anak-anaknya tanpa mengeyam pendidikan sementara respon pemerintah dan tokoh masyarakat setempat juga kurang proaktif.

Dari pangalamnya mengajar di salah satu yayasan yang mengelola sekolah di Jakarta Utara, Kak Azma melihat bahwa anak-anak berkebutuhan khusus dan disabilitas yang diterima di sekolahnya, ternyata sebagian mereka bisa mengikuti pembelajaran tidak kalah dengan anak-anak normal pada umumnya. Tinggal bagaimana kita sebagai guru, pendidik mampu mengkomunikasikannya kepada si anak dan juga pihak keluarganya.

“Pada umunya anak-anak dengan berkebutuhan khusu dan disabilitas mereka adalah anak yang memiliki kelebihan khusus, yang justru harus disyukuri dan kita perhatikan dan hormati bersama layaknya anak-anak lain pada umumnya,”jelas Azma.

Pada akhirnya baik Agus, Ovi maupun Kak Azma yang telah membagikan pengalamanya masing-maising sepakat bahwa, pendidikan berbasis masyarakat perlu terus digerakan. Jangan ada satupun anak-anak di Jakarta khususnya, yang luput dari pemenuhan pendidikan, apa dan bagaimanapun kondisi anak tersebut.

(1st/ratman/JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pintaria dukung siswa berprestasi dengan potongan biaya kuliah hingga 50%

Jakarta, SUARA TANGERANG – Di tengah kondisi pandemi yang memberikan dampak ekonomi bagi berbagai lapisan ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com