Gambar Artikel Audit

Menilik implementasi audit syariah di Pakistan

SUARA TANGERANG – Semakin berkembangnya Lembaga Keuangan Syariah di dunia semakin pula diperlukannya pegawasan yang lebih komprehensif terkait kepatuhan syariah di Lembaga-Lembaga Keuangan. Proses pengawasan tersebut perlu dilakukan tidak hanya untuk menilai kinerja namun lebih kepada penilaian kepatuhan dalam menjalankan prinsip-prinsip syariah di seluruh transaksi maupun kegiatannya. Namun dalam implementasinya ditemukan berbagai tantangan, salah satunya sumber daya yang kurang kompeten dalam hal industri keuangan syariah khususnya auditor syariah.

Seperti yang dikutip dalam jurnal “Shari’ah Audit and Supervision in Shari’ah Governance Framework: Exploratory Study of Islamic Bank in Pakistan” yang ditulis oleh Muhammad Asghar Shahzad, Syed Kashif Saeed dan Asim Ehsan, mengungkapkan bahwa perlu diadakannya pelatihan-pelatihan untuk auditor syariah serta karyawan di Lembaga Keuangan Syariah terkait implementasi setelah dikeluarkannya kerangka tata kelola syariah oleh State Bank of Pakistan (SBP). Dikeluarkannya kerangka tata kelola syariah oleh SBP pada tahun 2014 dan mulai efektif di tahun 2015 merupakan sebuah upaya untuk mengatasi konflik khususnya keuangan syariah di masa depan.

Dengan dikeluarkannya kerangka tata kelola tersebut, SBP telah membentuk Islamic Banking Division (IDB) yang terpisah dari SBP. Dibentuknya divisi ini untuk memperkuat kepatuhan syariah diseluruh Lembaga Keuangan Syariah di Pakistan dengan mengeluarkan serangkaian peraturan serta pedoman rinci terkait kepatuhan syariah. Disamping itu tata kelola syariah yang dikeluarkan SBP juga mengatur agar di tiap Lembaga Keuangan Syariah mempunyai Shari’ah Compliance Department (SCD) yang terdiri dari dua orang anggota yang kompeten, terlatih serta berpengalaman yang direkomendasikan oleh Dewan Syariah. Tugas dari SCD ialah sebagai pengendali internal kepatuhan syariah, dan selanjutnya melaporkan hasil tersebut kepada Dewan Syariah.

Hal lain yang diatur dalam tata kelola syariah yakni terkait internal dan eksternal audit syariah pada setiap Lembaga Keuangan Syariah. Khususnya pada internal audit syariah, diperlukannya Internal Shari’ah Audit Unit (ISAU) yang bediri dibawah Internal Audit Department (IAD). Namun hal tersebut tergantung pada skala Lembaga Keuangan yang bersangkutan, karena memungkinkan jika ISAU dapat berdiri menjadi unit yang independen.

Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut bahwasannya responden menyadari adanya perbedaan yang mendasar antara audit syariah dengan audit konvesional. Selanjutnya kebutuhan Lembaga Keuangan Syariah terhadap audit syariah perlu diiringi dengan sumber daya yang kompeten. Begitu pula sumber daya yang berada dalam Lembaga Keuangan Syariah dalam hal ini pegawai, harus memiliki pengetahuan yang mendalam terkait dengan implementasi prinsip-prinsip syariah. Dengan begitu, harapan adanya kerangka tata kelola syariah yang di atur oleh State Bank of Pakistan (SBP) dapat meningkatkan kepercayaan stakeholder terhadap Lembaga Keuangan Syariah di Pakistan. *)

*) Ditulis oleh: Arifah Nursani, Mahasiswi Jurusan Akuntansi Syari’ah di STEI SEBI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Amuk Orang Gila, Apakah By Design?

SUARA TANGERANG – Syeikh Ali Jabir ditusuk (13/9). Di atas podium. Beberapa menit jelang ceramah ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com