Simposum HMI 2018

Menata masa depan keummatan

SUARA TANGERANG – Barangkali apa yang berkembang diluar terhadap anasir-anasir  yang mengatakan MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) sulit diajak islah itu salah besar. Kita sekalian perlu mengetahui isi sesungguhy hati teman-teman MPO.

Tahun 2008 saat Kongres HMI Dipo (jalan Diponegoro) Palembang, Ketua Umum PB HMI MPO Syahrul datang kesana, bagi saya ada proses yang keliru (ikhtiar islah saat itu), yaitu tidak ada komunikasi ke internal PB HMI MPO terlabih dahulu dan wacana ke cabang, dan tidak melakukan pendekatan secara kultural (berjenjang).

Pada bulan November tahun 2014 Pak JK pernah meminta ke saya dalam sebuah kesempatan di istana Wapres (saat saya masih menjabat Ketua Umum PB HMI MPO), untuk segera mengeluarkan keputusan instruksi ke cabang-cabang tentang ishlah.

Tapi saya sampaikan ke beliau, “Pak mohon maaf bila saya lakukan ini apa bukan nanti malah muncul MPO perjuangan, karena di HMI mekanisme kekuasaan struktural itu sepertinya tidak tepat.”

Teman-teman di MPO akan jernih kalau diadakan dialog, akan sangat terbuka. Bila saya mengeluarkan surat ke Cabang-cabang, akan muncul HMI MPO tandingan dan sebagainya.

Bagi saya proses kultural lebih dikedepankan, melalui dialog, kegiatan bersama, perkaderan bersama.

Kita pakai aja seperti kaidah dalam ukhuwwah insaniah, yakni langkah-langkah rekonsiliasi harus:

  1. Ta’aruf (saling mengenal). Dalam proses ini saya yakin antara HMI MPO dan HMI Dipo sudah saling mengenal jauh. Setelah itu tahap berikutnya.
  2. Tafahum (saling memahami),
  3. Ta’awun (saling membantu) dan akhirnya adalah
  4. Takaful (saling menjaga).

Jika proses itu telah dilakukan maka akan ada titik kulminasi dimana kedua HMI merasa ada kesamaan yang kuat, saling membutuhkan atau malah timbul perasaan yang sebaliknya. Maka bisa jadi akhirnya adalah Islah atau Nikah. Bagi saya kenapa ada opsi nikah karena jika islah dianggap buntu dan justru mendatangkan banyak madlarat bagi keduanya maka nikah solusinya. Nikah dengan maksud keduanya tetap dua jenis tetapi punya kesamaan visi, jalan dan ikhtiar. Keduanya tampil mesra dan bersinergi. Bak sebuah rel kereta api yang selalu bersama beriringan hingga tujuan terakhir mengawal lokomotif bangsa Indonesia.

Tentu bagi kita ummat Muhammad Saw, pilihan terbaik menyikapi dualitas HMI ini harus berorientasi pada penyatuan kembali maka jalan islah adalah keniscayaan. Dengan islah HMI akan kembali seperti HMI tahun 1947 sebagaimana Lafran Pane melahirkannya. Tetapi ada yang mungkin menjadi ganjalan, lantaran dua HMI ini berpisah dalam kurun waktu yang sangat lama sekitar 31 tahun (1985-2018). Dalam tempo yang lama tersebut saya pribadi meyakini ada banyak hal yang tidak sama lagi antara HMI MPO dan HMI Dipo.

Dalam pengamatan saya paling tidak karakter organisasi yang dimanifestasikan dalam forum-forum kekuasaan pengambilan keputusan tertinggi nampak ada perbedaan yang cukup tajam, pun juga disisi perkaderan HMI Dipo menjadikan nilai dasar perjuangan (NDP) sebagai gudance perkaderannya sementara MPO telah memperbaharui dengan Khittah Perjuangan, akhirnya outputnya pun berbeda dalam cara pandang kader. Dan saya kira banyak hal lainnya yang berbeda dari MPO dengan Dipo, yang satu sama lain boleh jadi menganggapnya memiliki nilai prinsip.

Atas fenomena tersebut, bagi saya dua HMI harus sama-sama nawaitu dan komitmen menjalani tahapan ukhuwwah insaniah. Dari sanalah akan ada titik akhir dimana kedua HMI ini dengan sendirinya merasakan lebih maslahat “islah” atau “nikah”.

Dalam ilmu fiqih disebutkan:  Dar’ul mafaasidu muqaddamun ala  jalbil masholih

Artinya: Menghindari kerusakan (kemadlaratan) harus lebih diutamakan dibandingkan mendatangkan kebaikan”

Dari pesan hukum fiqih diatas memberi petunjuk pada kita, jika bersatunya HMI memungkinkan kedepan tidak menimbulkan kerusakan bagi keduanya atau salah satunya maka jalan terbaik adalah dengan islah. Tetapi sebaliknya jika potensinya akan timbul kerusakan bagi kedua HMI atau salahsatunya maka nikah adalah solusinya.

Jika akhirnya nanti HMI tetap menjadi dua maka ambilah hikmah terbesar darinya, yakni fastabiqul khairaat. Saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Dalam konteks ini, HMI akan tetap dipandang bukan perpecahan tapi kompetisi, toh ada Korps Alumni HMI (KAHMI) yang mewadahi alumni dari kedua HMI ini. Diwadah tempat berkumpulnya alumni tersebutlah sesungguhnya persatuan itu dapat dilihat.

Wallahu a’lam bisshowaab

Ditulis Oleh: Puji Hartoyo Abubakar (Ketua Umum PB HMI MPO 2013-2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sorry Bro Anies, Rupanya Ada Banjir Jakarta Ya?

SUARA TANGERANG –  Sekali ini, nyaris tidak tahu ada banjir di Jakarta. Minta maaf kepada ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com