BREAKING NEWS
Bank sampah DLH Kota Tangsel

Bank sampah bisa selesaikan dua persoalan sekaligus, kebersihan dan kemiskinan

Kota Tangsel, SUARA TANGERANG – Bagi beberapa kota besar di Indonesia, sampah merupakan masalah yang tidak ada habisnya, termasuk Kota Tangerang Selatan (Tangsel).  Permasalahan sampah di kota ini belum sepenuhnya teratasi penangannya dengan baik.

Namun, satu hal yang patut dibanggakan adalah munculnya berbagai macam cara dan inovasi yang dilakukan, mulai dari mengubah sampah organic menjadi pupuk kompos, hingga pembentukan bank sampah yang bisa menjadi alternative untuk mengumpulkan pundi-pundi uang.

Konsep terakhir yang disebut tampaknya tengah bersinar di kalangan masyarakat dalam 4 tahun terakhir dan sedang digarap serius oleh pemerintah supaya bisa menyelesaikan dua persoalan bangsa: kebersihan dan kemiskinan.

Potret keberhasilan dari konsep bank sampah ini telah dirasakan langsung oleh masyarakat di Tangsel. Salah satunya adalah bank sampah yang dikelola oleh Yayasan Bunga Melati Indonesia, di Perumahan Bukit Pamulang Indah, Pamulang Barat, Pamulang, Tangsel, Banten.

Bank sampahnya pun diberinama “Bank Sampah Melatih Bersih”, berbagai pernghargaan dari tingkat kota hingga tingkat nasional juga telah diraih, di antaranya Kalpataruh Tingkat Kota Tangerang Selatan, dan sejumlah piagam penghargaan lainnya.

Berdasarkan potret keberhasilan tersebut, dapat disimpulkan bahwa,  sampah jika diperlakukan dengan baik, ramah dan benar, maka sampah akan bisa memberikan manfaat yang sangat besar, baik untuk manusia itu sendiri maupun untuk keseimbangan lingkungan hidup dan ekosistem. Menyadari hal tersebut, Wali Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany melalui Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 50 Tahun 2017, Pasal 12, Ayat 5 menyebutkan bahwa, aparat perangkat daerah dihimbau untuk memiliki bank sampah.

Menurut Wismansyah, ST selaku Kepala Bidang Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel, melalui program bank sampah, warga masyarakat diharapkan akan mampu mengelola sampah secara mandiri menjadi sesuatu yang berguna dan bernilai ekonomis.

Harapannya, bank sampah yang sudah ada atau akan didirikan dapat dikelola oleh berbagai macam komunitas, mulai dari kelompok masyarakat, Karang Taruna, pecinta lingkungan, kader PKK, hingga mahasiswa dan pelajar. Melalui Bank Sampah, warga masyarakat akan diberikan berbagai cara menyusun program-program pengelolaan sampah yang terarah dan bermanfaat dari masyarakat untuk masyarakat.

“Dalam program bank sampah ini, kami mengajak masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga agar dapat memisahkan sampah yang masih dapat didaur ulang, untuk ditabung di bank sampah,” tutur Kabid Persampahan Tangsel, Wismansyah.

Wismansyah juga menambahkan bahwa, sejak dimulai sosialisasi tentang bank sampah di Kota Tangsel pada tahun 2011 hingga Maret tahun 2018 ini, sudah terdaftar sebanyak 156 bank sampah dengan 6.935 anggota atau nasabah bank sampah.

Ada pun rincian bank sampah sebagaimana dimaksuda antara lain adalah, Kecamatan Pamulang terbanyak yaitu 60 bank sampah dengan 2.466 nasabah, Ciputat Timur  27 bank sampah dengan 1.315 nasabah, Pondok Aren 27 bank sampah dengan 1140 nasabah, Setu 18 bank sampah dengan 1.081 nasabah, Ciputat 16 nasabah dengan 521 nasabah, Serpong 5 bank sampah dengan 314 nasabah serta Serpong utara yang hanya memiliki 3 bank sampah dengan 98 nasabah.

Para nasabah bank sampah secara aktif menyortir sampah-sampah yang dapat didaur ulang seperti plastik dan bekas botol minuman dalam kemasan plastik dan meyetorkannya ke bank sampah. Selanjutnya, sampah dari masing-masing nasabah akan ditimbang dan dihitung nilainya oleh petugas. Nilai sampah tersebut akan tercatat dalam buku tabungan dan dapat digunakan untuk berbagai transaksi, termasuk token listrik atau pelunasan listrik pascabayar. Bahkan saat ini, melalui bank sampah yang bekerjasama dengan pihak Penggadaian, sampah-sampah yang bernilai ekonomis tersebut, bisa ditukarkan juga dengan emas murni senilai harga sampah yang disetorkan ke bank sampah.

Sampah yang terkumpul di bank sampah induk akan dipilah lagi sesuai jenisnya, seperti plastik, kertas, koran, almunium dan juga besi. Sampah plastik akan masuk ke proses pencacahan dan dijual kembali ke pabrikan untuk dibuat berbagai jenis produk plastik. Sementara, sampah kemasan dapat dikreasikan menjadi produk kerajinan seperti tas, sandal, bahkan hiasan rumah.

Wismansyah pun menuturkan terkait pengelolaan sampah di Tangsel, setiap harinya volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang sebanyak 250 hingga 300 ton/hari. Dengan pengembangan program bank sampah, memang terlihat masih kecil dalam mengurangi volume / jumlah sampah yang masuk ke TPA Cipeucang, akan tetapi sangat amat membantu dalam proses penguraian dan pembusukkan sampah di TPA Cipeucang karena tak terbebani oleh adanya sampah non organik yang tidak bisa membusuk dan terurai.

“Bank sampah ini konsepnya dari masyarakat untuk masyarakat, sampahnya dikumpulin oleh masyarakat, dikelola oleh masyarakat, dan nanti hasilnya juga untuk masyarakat dalam menanbah penghasilan kebutuhan ekonomi untuk keluarga. Ini bentuk wujud nyata kita untuk sayang kepada bumi dan lingkungan dengan membersihkannya dari sampah,” pungkasnya. (1st/Adv)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wali Kota Arief buka Pelatihan Kepemimpinan Administrator Radio Republik Indonesia

Kota Tangerang, SUARA TANGERANG – Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah hadir sekaligus membuka acara ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com