PSG Kemenkes 2017

TRUTH : Hasil PSG Kemenkes RI 2017, bukti nyata buruknya pembangunan kesehatan di Tangsel

Kota Tangsel,  SUARA TANGERANG –  Menurut hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) tahun 2017 di Provinsi Banten, khususnya di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), dipersentasekan bahwa status gizi pada anak balita umur 0-23 bulan 3,6% gizi buruk, 11,8% gizi kurang.  Namun, dari data PSG yang disajikan dalam buku saku setebal 83 halaman itu tidak dapat diperoleh angka pasti jumlah anak balita berstatus gizi buruk dan gizi kurang di Tangsel.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel sendiri pun hingga saat ini belum bisa memberikan klarifikasi terkait berapa jumlah keseluruhan anak balita usia 0-23 bulan di kota ini.

PSG Kemenkes RI tersebut dilakukan dengan menggunakan metodologi, desain, populasi dan sampel, tehknik pengambilan sampel, pengumpulan data. Selanjutnya, pada metodologi pengumpulan data dilakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner, pengukuran antropometri, dan pemeriksaan garam.

Dalam kata pengantar buku saku oleh Direktur Gizi Masyarakat Kemenken RI, Ir Doddy Izwardy MA, menjelaskan bahwa PSG merupakan kegiatan pemantauan perkembangan status gizi balita yang dilaksanakan setiap tahun secara berkesinambungan untuk memberikan gambaran tentang kondisi status gizi balita, di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten/Kota. Dengan tujuan untuk mengawal perbaikan gizi masyarakat agar lebih efektif dan efisien melalui monitoring perubahan status gizi maupun kinerja program dari waktu ke waktu, sehingga kita dapat dengan tepat menetapkan upaya tindakan, perubahan formulasi kebijakan dan perencanaan program.

“Pada PSG 2017, dilakukan juga Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG) untuk anak Balita,” kata Doddy.

Sementara itu, peneliti dari Tangerang Transparency Public Watch (TRUTH), Suhendar menilai, hasil pemantauan Kemenkes RI tersebut menunjukkan fakta yang sesungguhnya tentang kemampuan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel dalam membangun kesehatan masyarakat.

“Status gizi buruk anak balita di Kota Tangsel  yang diperoleh dari hasil pemantauan Kemenkes RI tersebut, menunjukan fakta yang sesungguhnya tentang kemampuan dan kapasitas Wali Kota Airin dan Wakil Wali Kota Benyamin Davni. Fakta ini sekaligus membantah pencitraan keberhasilan keduanya dalam memimpin Tangsel.  Sebab urusan kesehatan adalah urusan wajib serta merupakan hak dasar masyarakat,” kata Suhendar saat dimintai pendapatnya terhadap hasil PSG Kemenkes RI 2017, Jumat,(23/3).

Lanjut Suhendar, gizi buruk anak balita di Tangsel kondisinya berada di bawah Kota Serang, Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Lebak. Artinya menurut Suhendar Pemerintah Kota Serang, Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Lebak, lebih berhasil dibanding Kota Tangsel.

“Kegagalan ini menunjukan kualitas dan kapasitas kepemimpinan Wali Kota Airin dan Wakil Wali Kota Benyamin Davni. Padahal  ini merupakan periode keduanya memimpin Tangsel. Artinya, kedua pimpinan ini dapat lebih mudah memaksimalkan  kinerjanya, karena fondasi untuk membangun bidang ini telah dikerjakan pada periode sebelumnya. Namun, dengan hasil PSG 2017 ini kita dapat menyimpulkan bahwa kinerja keduanya sangat buruk, maka pertanyaannya apa saja yang mereka kerjakan? Kok bisa status gizi buruk anak bali di Tangsel ini berbanding lurus dengan kondisi kesehatan masyarakat di kota ini yang juga buruk,” tambah Suhendar. (H’60/1st)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Dadi Budaeri

Dadi Budaeri tantang Muhammadiyah Tangerang bikin International Islamic Fair

Kota Tangerang, SUARA TANGERANG – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangerang Dadi Budaeri tantang Muhamadiyah Tangerang ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com