UNBK SMP

FSGI : Kemdikbud gagal paham maknai soal HOTS di UNBK SMP

Jakarta, SUARA TANGERANG  – Terobosan pemerintah (Kemdikbud) untuk membuat UNBK hingga tahun ketiga ini sebenarnya patut diapresiasi. UNBK telah memutus rantai perjalanan soal yang rumit, dan hampir menghapus masalah klasik kebocoran soal dan kunci jawaban.

UNBK juga telah menaikkan gengsi pendidikan Indonesia dengan pemanfaatan IT yang cukup masif. Pun publik perlu menghargai ikhtiar pemerintah untuk mengantisipasi kendala teknis UNBK SMP di hari ke-2 sampai hari ke -4 ini, yang relatif sudah tak terjadi lagi. Kendala teknis peladen yang terputus seperti di hari pertama tidak lagi terulang.

Namun sayangnya, 3 tahun pelaksanaan UNBK tidak menunjukkan peningkatan pelaksanaan yang semakin baik, tetapi justru banyak kendala serius yang justru ditanggapi enteng. Kemendikbud cendrung merespon di area medsos dan bahkan menanggapinya dengan mengancam siswa pembocor soal yang tidak jelas sumber kebocorannya . Banyak hal prinsip yang harus dievaluasi karena seolah-olah UNBK ini menemui anomali namun jawaban Kemndikbud justru blunder.

Kekhawatiran siswa SMP terkait UNBK SMA yang menggunakan soal HOTS, sebagaimana yang dicurahkan di IG-nya Kemdikbud, benar-benar menjadi kenyataan. Pada hari kedua pelaksanaan UNBK SMP, banyak siswa yang mengeluhkan sulitnya soal Matematika untuk diselesaikan.

“Berdasarkan analisis kami dan laporan dari guru-guru daerah telah terjadi pemahaman yang salah pembuat soal terhadap konsep HOTS itu sendiri. Soal Matematika yang diujikan untuk siswa SMP sebenarnya bukan lagi aplikasi HOTS tetapi sudah menjadi soal dengan tingkat KI dan KD yang lebih dalam dibandingkan KI dan KD yang ada pada mata pelajaran Matematika tingkat SMP. Lebih sesuai jika soal Matematika ini diujikan untuk siswa SMA. Memang KI dan KD antara SMP dan SMA beririsan tetapi pada tingkatan SMA lebih dalam dibandingkan SMP sesuai dengan SKL-nya,” ujar  Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim, Kamis (26/4).

Satriwan juga menambahkan, “Berkali-kali kami menegaskan bahwa soal berbasis HOTS tidak harus sulit dan soal yang sulit itu belum tentu HOTS.”

“Kami juga menyesalkan pernyataan Mendikbud yang menganggap enteng keluhan siswa. Cenderung simplifikasi masalah dengan menyatakan, kalau soalnya gampang bukan ujian. Justru kami mempertanyakan, bahwa untuk menyelesaikan soal-soal yang berbasis HOTS ini, perlu pembelajaran dan siswa perlu dilatih, lalu kapan siswa dilatih untuk berpikir secara HOTS? Kan belum. Jadi kami sepakat kalau ada pernyataan telah terjadi malpraktek di dunia pendidikan Indonesia,” ujarnya lebih lanjut.

Tak berhenti sampai disitu soal mata pelajaran Bahasa Inggris yang diujikan pada hari ketiga juga banyak dikeluhkan siswa. “Banyak siswa yang mengeluhkan bahwa pokok soal pada mata pelajaran Bahasa Inggris terlalu panjang uraiannya. Dengan jumlah soal 40 buah dan waktu 120 menit, jika dirata-ratakan ada waktu 3 menit untuk 1 soalnya, waktu yang sedikit untuk menyelesaikannya. Apalagi pokok soalnya membutuhkan penalaran yang dalam. Kalaulah Kemdikbud berdalih bahwa soal-soal UNBK disesuaikan dengan standar internasional, menjadi aneh kenapa evaluasinya saja yang berstandar internasional? Lalu bagaimana dengan sarana prasarana, kualitas guru, kurikulumnya dan pembelajarannya. Apakah sudah berstandar internasional?” tanya Sekretaris Jenderal FSGI, Heru Purnomo, Kamis (26/4).

Heru pun mengingatkan, ”Sekolah itu bukan hanya ujian. Bukan hanya evaluasi. Tetapi merupakan proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Kalau prosesnya masih standar nasional, pembelajarannya juga masih standar nasional, mengapa evaluasinya harus dipaksakan berstandar internasional?”

“FSGI meminta Mendikbud melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan UNBK, baik secara personal, kelembagaan, teknologi sampai dengan konten yang diujikan. Agar peristiwa yang sama tidak terulang lagi untuk tahun-tahun berikutnya. Kami juga mempertanyakan peran dan fungsi yang dimainkan oleh Puspendik Kemdikbud, mengapa soal-soal UNBK tahun ini begitu kacau. Tidak bersesuaian dengan apa yang diajarkan dan apa yang diperoleh oleh siswa di sekolah,” ujar Wakil Sekjen FSGI, Fahriza Marta Tanjung, Kamis (26/7).

Lebih lanjut Tanjung mengatakan, ”Di sisi lain sebenarnya FSGI mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Kemdikbud terkait pelaksanaan UNBK. Karena dengan pelaksanaan UNBK kecurangan pada pelaksanaan UN sudah bisa diminimalisir. Tetapi penerapan yang terkesan dipaksakan, instan dan terburu-buru, termasuk penerapan soal berbasis HOTS dan berstandar internasional, akan memberikan dampak negatif yang lebih luas terhadap jutaan siswa generasi penerus bangsa, karena lain yang diajarkan lain pula yang diujikan.”

“Pada titik ini pula FSGI bertanya, bagaimanakah sebenarnya Kemdikbud menganalisis dan memformulasi kebijakannya karena bukan sekali ini saja kebijakan Kemdikbud blunder. Tentu kita ingat bagaimana penerapan K-13 yang terkesan dipaksakan dan ditinjau kembali hanya dalam hitungan bulan. Bahkan kebijakan Kemdikbud terkait Lima Hari Sekolah dianulir oleh Presiden. Padahal Kemdikbud memiliki Badan Penelitian & Pengembangan (Balitbang). Sudah bukan zamannya lagi memformulasi kebijakan sambil berjalan,” ucap Tanjung mengakhiri keterangannya. (1st/rls)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Ratas Dana Kelurahan

Presiden minta pengawasan atas pemanfaatan dana desa dan dana kelurahan

Bogor, SUARA TANGERANG – Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama dengan jajaran terkait pagi tadi membahas ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com