Kornas Kohati

Kornas Kohati selenggarakan Workshop Kewirausahaan Muslimah

Jakarta, SUARA TANGERANG – Koordinator Nasional Korp HMI-Wati (Kornas Kohati) menyelenggarakan “Workshop Kewirausahaan Muslimah”,  yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama Kader, Pengurus dan Alumni Kohati (a.k.a HMI-Wati), Jakarta, Sabtu (2/6).

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk aksi nyata Kornas Kohati periode 2018 – 2020 dalam melihat fenomena milenial dan pangsa pasar yang banyak melibatkan pengguna internet terutama kaum hawa.

Menurut Ketua Kornas Kohati, Apri Hardiyanti dalam sambutannya pada acara tersebut, bahwa berdasarkan survei We Are Social (2017), pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta setara dengan 51% dari total populasi penduduk Indonesia. Dimana dalam hal ini, Indonesia menduduki peringkat pertama yang disusul oleh Filipina dan Meksiko.

Lanjut Apri, meningkatnya jumlah pemilik smartphone dan pengguna internet di Indonesia sebesar 91% dari populasi penduduk Indonesia memunculkan perubahan pola perilaku masyarakat dalam melakukan transaksi jual beli.

“Fenomena ini tentu memunculkan peluang bisnis baru sebagai akibat dari disruptive technology, hal ini lah yang coba dibidik oleh Kornas Kohati, khususnya dalam bidang kewirausahaan yang menggerakkan kaum Muslimah. Apalagi, berdagang merupakan salah satu sunnah Rosulullah Saw, ditambah lagi, istri beliau yaitu Khadijah r.a juga merupakan saudagar,” kata Apri.

Workshop ini juga menghadirkan tiga narasumber yaitu  Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syarikat Islam Cholil Hasan SE MBA,  CEO Nazila Hijab dan alumni Kohati  Siti Darmalisa SE , serta Motivator, Penulis, dan CEO dari Risemodesty dan Risemask Riris Setio Rini, yang dimoderatori oleh Ketua Bidang Riset dan Intelektual Kornas Kohati, Kartika Ari Susanti .

Beberapa hal yang menjadi sorotan dalam workshop kali ini adalah tentang kecepatan akses dan kesempatan lebih besar bagi konsumen, cara melakukan business intelligence, dan adanya inovasi serta kemajuan infrastruktur digital hingga menjamurnya startup.

Pada sesi pertama, peserta workshop mendapatkan life story dan motivasi tentang bagaimana memulai bisnis dari nol dan tanpa modal oleh Riris Setio Rini.

Menurut Riris, untuk memulai bisnis yang paling penting adalah keberanian, tau mau bisnis apa, ngerti pangsa pasar yang akan disasar, tahu supplier base dan customer base, serta yang terpenting adalah “trust” atau kepercayaan”.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa untuk menjalankan bisnis online yang perlu diperhatikan adalah istiqomah dalam uploading photo di beberapa platform, memisahkan uang pribadi dan bisnis, memperluas marketplace, membangun brand image, jangan pernah ragu untuk mengambil supplier.

“Terdapat waktu – waktu mujarab dalam memposting foto yang minimal tiga kali dalam sehari yaitu setelah subuh, jam makan siang, dan prime time, yaitu pukul 19.00 – 20.00,” kata Riris. Pada akhir sesi, Riris menambahkan untuk selalu menyertakan Allah SWT dalam setiap kegiatan dan mengingatkan untuk menghindari riba dalam bentuk apapun.

Sesi selanjutnya diisi dengan diskusi tentang membangun brand product di era Milenial yang dibawakan oleh Cholil Hasan, SE., MBA. Peserta dibekali dengan fondasi awal terkait pengertian milenial secara epistemology, pembekalan produk yang akan dipasarkan, dan bagaimana membangun brand.

Diskusi berjalan dinamis dengan beberapa sambutan pertanyaan dan pendapat dari para peserta workshop. Cholil menjelaskan bahwa bisnis sendiri terbagi menjadi dua yaitu Small Business Enterprises (SMEs) atau UKM dan Innovative Driven Enterprises atau lebih dikenal dengan sebutan Industri Kreatif.

Cholil menyampaikan, “Ekonomi Indonesia harus berkembang, salah satu yang penting adalah bagaimana wanita Indonesia harus mempunyai peran dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Di era digital atau lebih dikenal dengan e-commerce ini dipengaruhi tiga hal yaitu jasa keuangan (FinTech), Media (social media, berita, entertainment), dan Marketplace. Untuk bisa survive di era digital saat ini, perlu untuk tahu dan paham akan poin ini”.

Dalam sesi ini juga disampaikan prinsip – prinsip dalam berwirausaha yaitu passion, independent, marketing sensitivity, creative and innovative, calculated risk taker, persistent, and high ethical standard. Melihat fenomena di Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis, tentu dalam bidang perdagangan, tidak pernah lepas dari bagaimana masyarakat keturunan Tionghoa menguasai sector ini.

Selanjutnya, Cholil menambahkan bahwa terdapat tiga hal yang dapat dipelajari dari pedagang keturunan Tionghoa yaitu: pertama, jangan pernah khawatir tentang akses modal, karena modal tidak selalu soal uang melainkan yang terpenting adalah networking yang dibangun dengan kepercayaan dan kemampuan; kedua, menargetkan pangsa pasar yang jelas; dan ketiga, manajemen keuangan yang baik dan disiplin.

Tidak hanya itu, untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses, menurut Cholil  beberapa softskills yang perlu dimiliki yaitu integritas yang tinggi, kompetensi yang mumpuni, dan kemampuan komunikasi yang baik.

Pada akhir sesi menjelang waktu berbuka puasa tiba, peserta tampak masih semangat dalam mendengarkan pemaparan dari Siti Darmalisa SE, yang merupakan CEO dari Nazila Hijab dan alumni Kohati. Sesi ini diawali dengan menunjukkan contoh nyata bagaimana berbisnis gamis syar’i yang menyasar kalangan menengah ke atas dengan tetap menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga,tutur  istri, dan ibu dari tiga anak ini.

“Yang penting adalah niat yang lurus dan tulus dalam berbisnis, semangat dalam mencari ilmu dan otot berbaginya harus kuat. Mau berapapun modal atau duit yang dipunyai tetap bakal mental kalau enggak punya otot berbagi yang kuat dan semangat mencari ilmu yang tinggi,”  ujar Siti.

Kata Siti, bisnis Nazila Hijab yang  telah digelutinya sejak 3 tahun yang lalu dengan omset sebesar 60 – 100 juta/bulan dan disupport oleh 50 orang tim ini, oleh Siti dikatakan masih kecil dibandingkan dengan teman seperjuangan yang bisa mencapai ratusan juta per bulan.

Selain itu, sebagai wujud berbagi dan mengimplementasikan niat tulus dalam berbisnis, Siti tidak hanya memposting foto model dan produk yang dijual, tetapi juga memberikan beberapa pengetahuan terkait Islam, wanita, dan parenting sebagai wujud syiar dan menjadikan pengunjung sebagai pelanggan setia.

Bisnis online yang dilakukannya sampai menyasar kelas menengah ke atas tentu bukan secara instan didapatkan, melainkan membutuhkan ketekunan dan ilmu serta “otot berbagi yang kuat” dalam menjalankan bisnis ini. “Don’t find costumer for your product, but find product for your customer, serta berjualanlah pada tempatnya”, pungkas Siti. (1st/Kartika)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pameran Mall to Mall

Beri peluang bagi pelaku UKM, Kemendag dan APPBI gelar pameran Mall to Mall

Jakarta, SUARA TANGERANG – Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI dan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menggelar pameran ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com