KPAI Pemkot Depok

Bersedia tanggung biaya rehabilitasi dan cegah stigma negatif korban, KPAI apresiasi Pemkot Depok

Depok, SUARA TANGERANG – Usai melakukan pengawasan ke Polresta Depok terkait dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oknum guru di salah satu SDN di Depok, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)kemudian melakukan pertemuan dan berkoordinasi dengan Wali Kota dan OPD terkait setempat, seperti Dinas Pendidikan, Dinas PPPA, Dinas Sosial, P2TP2A, pihak sekolah dan perwakilan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (FP-UI).

Hadir pada pertemuan yang dilaksanakan di Balaikota Depok, pada Selasa, 3 Juli 2018, pukul 13.30 wib, tersebut, KPAI diwakili oleh Komisioner Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, didampingi 1 orang Asisten, Indah dan Humas, Muin. Sedangkan pihak FP-UI diwakili oleh Wakil Dekan FP-UI Herta dan seorang Dosen, Edo.

Adapun pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Depok diwakili   oleh Asisten Bidang Hukum dan Sosial Sri Utomo,  yang didampingi Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas PMK, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas PPPA, P2TP2A dan Kepala Sekolah terkait.

Menurut Retno, substansi dari koordinasi tersebut terkait program rehabilitasi psikologis terhadap anak korban maupun anak saksi dan ibu korban yang mengalami trauma.

Lanjutnya, ada progres yang patut diapresiasi, yaitu anak korban yang sebelum Idul Fitri baru satu yang menjalani program rehabilitasi psikologis, sekarang sudah 8 dari 12 korban. “Dua korban lagi sudah bersedia mengikuti program rehabilitasi, sedangkan dua lagi akan di bujuk oleh Peksos dan P2TP2A untuk bersedia mengikuti program rehabilitasi psikologis,” urai Retno, Selasa (3/7).

Sentara terkait keputusan Pemkot Depok yang bersedia menanggung  biaya rehabilitasi korban dan ibunya. Kata Retno, KPAI mengapresiasi keputusan tersebut. “Rehabilitasi psikologis penting agar tumbuh kembang anak korban tidak terganggu dan tidak berpotensi menjadi pelaku, ” ujar Retno.

Komisioner KPAI yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ) ini menuturukan, bahwa proses pemulihan trauma anak korban sangat bergantung pada ketangguhan sang ibu dalam mendampingi proses rehabilitasi anaknya. Oleh karena itu, penting melakukan assesment pada ibu korban. Klinik klinis Psikologi Universitas Indonesia juga bersedia membantu, jika ibu korban bersedia datang langsung ke klinik tersebut di kampus UI.

Selain itu, Retno juga mengungkapkan bahwa, forum koordinasi tersebut juga telah disepakati program pencegahan kekerasan seksual di sekolah yang melibatkan Dinas Pendidikan Depok, KPAI dan Universitas Indonesia. Bentuk kegiatan diantaranya adalah class parenting secara rutin per 3 bulan di sekolah-sekolah, mensosialisasi, membangun sistem pengaduan jika terjadi kekerasan di sekolah, dan mendorong penguatan perwujudan  program Sekolah Ramah Anak (SRA) sebagai upaya pencegahan kekerasan di sekolah.

Untuk itu, sebagai langkah tindak lanjut Dinas Pendidikan Depok sudah merencanakan sosialisasi dengan mengumpulkan kepala kepala sekolah di Depok sebagai upaya bersama mencegah kekerasan seksual terjadi lagi di sekolah dengan mengenali indikasi dan modus-modus yang mungkin dilakukan predator anak di lingkungan sekolah.

“Pemerintah kota Depok juga bersedia menjamin anak-anak lulusan SDN tempat terjadinya peristiwa kekerasan seksual tidak mengalami stigma dan dijamin hak atas pendidikannya, mengingat anak-anak tersebut akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, ” tambah Retno. (1st/rls)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Indonesia rawan bencana, sekolah darurat

Indonesia rawan bencana, KPAI minta Kemendikbud dan Kemenag siapkan kurikulum sekolah darurat

Jakarta, SUARA TANGERANG – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com