Gara-gara Covid-19, ekspor ke Tiongkoh menurun

Jakarta, SUARA TANGERANG  – Di tengah perlambatan ekonomi dan perdagangan global serta mewabahnya covid-19 di dunia, Indonesia menyadari hambatan ekspor yang dihadapi sangat berat.  Namun, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto optimis bersama Kamar Dagang Indonesia (Kadin) dan akademisi harus dapat bergandengan tangan melalui masa sulit ini untuk tetap menjaga kesehatan dan kebersihan serta terus berupaya meningkatkan ekspor, khususnyan di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan perdagangan dalam negeri.

Hal tersebut ditekankan Mendag pada Dialog Nasional Perdagangan Kadin yang mengusung tema ‘Memperbaiki Neraca Perdagangan dengan Mendorong Ekspor dan Mengelola Impor’ di Jakarta, Rabu (11/3).

“Kita harus bekerja lebih giat lagi dan tidak normatif dalam menjaga neraca perdagangan dan mengendalikan impor secara selektif. Selain itu, kita harus menguatkan pasar dalam negeri, walaupun disadari hambatan dan tantangan yang dihadapi sangat beragam dan berat,” jelas Mendag.

Beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini antara lain virus Covid-19, langkanya bahan baku industri dan produk kesehatan, serta adanya penimbunan atas beberapa barang di pasar yang ditemukan Bareskrim, semua ini menjadikan kinerja ekspor dan impor Indonesia mengalami kesulitan.

“Selain itu, kinerja komoditas ekspor unggulan Indonesia ke dunia, khususnya pasar Tiongkok, diperkirakan terkena pula dampak Covid-19. Seperti ekspor produk buah-buahan dan ikan tuna serta kerapu ke Tiongkok serta terganggunya rantai pasok global, sehingga menyulitkan bahan baku industri khususnya untuk ekspor,” imbuh Mendag.

Berbagai kebijakan dan terobosan mempermudah ekspor dan mempercepat impor bahan baku harus dilakukan dalam rangka memenuhi target surplus neraca perdagangan mencapai USD 0,3 miliar pada 2020 dan USD 15 miliar pada 2024, target pertumbuhan ekspor barang dan jasa yang mencapai 3,9 persen pada 2020 dan 6,2 persen pada 2024, serta pertumbuhan ekspor nonmigas mencapai 5,2 persen pada 2020 dan 9,8 persen pada tahun 2024. Mendag menambahkan, saat ini, ekspor Indonesia tidak lebih dari 1 persen permintaan dunia.

Oleh karena itu, perlu terobosan baru seperti bagaimana kita membuat kebijakan untuk mengembangkan akses pasar potensial.

“Kami harap para pelaku usaha akan terus berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah, agar target pertumbuhan ekonomi Indonesia tercapai, angka inflasi terkendali, daya beli masyarakat terjaga, dan perusahaan pun mendapatkan keuntungan. Pada akhirnya, semua itu akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia,” pungkas Mendag (rls)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

APBN sebagai pemantik pertumbuhan ekonomi

Jakarta, SUARA TANGERANG – Rilis data Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) Kuartal II di berbagai negara ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com