Media VS Covid-19, Strategi Bertahan di Tengah Pandemi

SUARA TANGERANG – Covid-19 atau juga dikenal sebagai corona virus menjadi topik dan isu kesehatan serta sosial masyarakat sejak awal tahun hingga Maret 2020 ini. Dimulai dari meledaknya virus tersebut di negara China lalu mulai menyebar ke Eropa, Amerika, Asia, Afrika, dan saat ini sudah mencapai Indonesia. Untuk menekan angka penyebaran virus, banyak negara melakukan lockdown serta karantinabagi warga dan masyarakatnya. Pencegahan penyebaran virus ini ternyata juga berdampak bagi aspek-aspek lain, khususnya dalam perekonomian negara. Banyak industri yang terkena dampak akibat meledaknya virus ini, sekolah-sekolah yang mulai diliburkan, dan kantor yang mewajibkan karyawannya bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Industri media termasuk salah satu yang terdampak akibat isu ini. Khususnya industri periklanan melalui media akan terkena dampak dari pandemi Covid-19 di dunia. Media yang bergantung pada pemasukan dari pemasang iklan terancam pada sektor-sektor tertentu seperti pengiklan pada surat kabar, namun di sisi lain pada media baru seperti yang dijelaskan oleh Sinclair (2016) dalam artikel jurnal berjudul Advertising and Media in the Age of the Algorithm akan mengalami peningkatan karena pengguna media daring atau streaming akan meningkat pada masa pandemi ini.

            Dilansir melalui cnbc.com (2020) dalam artikel berjudul Global ad spending will likely fall if spread of coronavirus continues dan Coronavirus Panic Impacts Media Stocks dalam variety.com menjelaskan bagaimana industri media akan jatuh dan terdampak oleh penyebaran virus Covid-19 yang begitu pesat. Sumber tersebut menjelaskan bahwa penyedia iklan serta agensinya akan mengalami penuruan karena banyaknya acara besar di dunia dibatalkan dan ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Hal tersebut akan berpengaruh pada para sponsor yang memasang iklan dan mengeluarkan biaya cukup besar pada ajang besar tersebut, contohnya seperti olimpiade dunia dan beberapa liga sepak bola yang ditutup untuk musim ini. Namun di sisi lain penggunaan televisi dan penikmat televisi serta video games akan meningkat, menyebabkan penyebaran iklan melalui media tersebut juga meningkat jika diikuti peningkatan angka individu masyarakat yang berdiam di rumah mengikuti arahan lockdown serta karantina.

            Kemudian juga diperlihatkan bagaimana produk media mengalami penurunan di pasar karena efek dari Covid-19 di dunia. Misalnya perusahaan raksasa media seperti Disney, Fox, AMC dan yang lainnya mengalami penurunan konsumen karena harus menunda dan membatalkan berbagai proses produksi. Produk media berupa film layar lebar ataupun serial televisi secara nyata akan terdampak karena penundaan proses produksi mulai dari syuting hingga penyelesaian produksi, karena dalam proses produksinya akan melibatkan banyak orang dalam suatu tempat atau lokasi yang pastinya merupakan cara tercepat untuk penyebaran virus Covid-19. Hal tersebut tentunya akan berpengaruh pada industri periklanan pada media-media tersebut, pengiklan akan mempertimbangkan ulang untuk memasang iklan pada media yang kurang dapat dinikmati secara luas karena keterbatasan penikmat seperti film layar lebar dan produk media sejenisnya di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

Dapat dilihat pada tabel di atas, melalui variety.com terlihat perusahaan-perusahaan media mengalami penurunan nilai, hanya Netflix yang mengalami peningkatan. Hal ini dipengaruhi karena pandemi Covid-19 yang membuat kebanyakan pemerintah di dunia mengambil kebijakan untuk warganya melakukan karantina atau social distancing termasuk Indonesia. Namun di sisi lain media streaming seperti Netflix mengalami peningkatan, karena banyaknya pengguna atau penonton yang meningkat karena segala kegiatan individu masyarakat diwajibkan di rumah atau dalam ruangan. Sama halnya pada kasus pertama, cnbc.com lebih melihat dari segi pengiklanan dan variety.com lebih menelisik aspek produk medianya. Keduanya mengalami dampak karena isu dan kasus Covid-19 di dunia. Hal tersebut dapat terjadi karena berbagai kebijakan pemerintah muncul untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran virus tersebut. Jika mengacu pada artikel jurnal Sinclair (2016) mengenai distrupsi industri periklanan di era modern ini cara terbaik bagi media untuk bertahan terhadap disrupsi baru ini adalah memperluas pasar khususnya media online karena dalam beberapa waktu ke depan akan lebih banyak pengguna situs online dan media online seperti streaming Netflix, penikmat video games khususnya mobile games pasti akan meningkat. Sektor ekonomi pada ranah daring tersebut yang harus ditingkatkan, begitu juga bagi pengiklan harus dapat melihat celah di mana pasar dan konsumen meningkat sehingga industri periklanan pada media dapat bertahan di tengah pandemi masyarakat saat ini.

Ditulis Oleh : Stevanus Febryanto, Content Writer, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Dari New Normal ke New Indonesia

SUARA TANGERANG – Pandemi covid-19 belum berakhir. Sampai kapan? Semua prediksi meleset. Semua survei belum ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com