Kesetaraan gender, mengikis peran penting wanita

SUARA TANGERANG – Melihat fenomena yang sedang terjadi, wanita kini benar- benar menjadi ‘komoditas’ terlaris, mulai dari pelaku bisnis, fashion, TKW, buruh  pabrik, penjaga toko, tukang sapu jalanan, supir dan bahkan tukang ojek online (ojol) pun dirambah oleh para wanita di zaman now.

Apakah dengan demikian mereka telah tampil lebih kuat dan setara dengan laki-laki? Atau dengan demikian telah hilangkah kebutuhan mereka akan perlindungan dari kaum laki laki?

Segelintir dari mereka terlihat anggun dengan posisi tinggi, gaya fashion dan jadi orang ternama, hasil dari mengesampingkan naluri kewanitaan dan mengorbankan keluarga,  selebihnya adalah para pekerja rendahan yang menjadi kuli,  karena kejamnya aturan ketenaga kerjaan  yang mengadopsi sistem ekonomi kapitalis leberal.

Wanita dalam pandangan Islam

Allah Swt telah menempatkan wanita pada kedudukan yang sangat mulia di samping keutamaan laki- laki sebagai qowwam. Kesetaraan yang dijanjikan Allah atas semua mahluknya baik laki-laki dan perempuan ada pada keaadilan sang Maha Khalik. yang menilai laki-laki dan perempuan sesuai porsinya. Allah menilai ibadah perempuan dan laki-laki dengan nilai yang sama tinggi,  bukan pada kesamaan tugas dan tanggung jawabnya, melainkan pada tingkat ketaqwaannya dalam mematuhi dan menunaikan printah Allah Swt.

Dalam sebuah hadist diriwayatkan, ketika seorang sahabat bertanya tentang satu hal kepada Rasullah,  Muhammad Saw  tentang siapakah orang yang paling berhak untuk dipergauli dengan baik.

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kupergauli dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari Muslim).

Demikianlah Allah memberi keutamaan kepada wanita, mendapat tempat khusus di dalam keluarga, bahkan kedudukannya lebih diutamakan di banding ayah dalam hal memperoleh perlakuan baik. Demikianlah Islam menempatkan wanita tepat pada porsinya.

Lalu bagaimana dengan peran penting wanita di dalam kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat.

Allah Swt. berfirman, “Pergaulilah mereka (para istri) dengan baik,” (An-Nisa’: 19). Wanita mendapatkan   kedudukan yang utama di dalam Islam,  bukan dengan  menyamai kedudukan pria, bukan pula dengan menyamai kedudukan dalam hal karir dan kesempatan berekspresi yang setara dengan laki-laki, sebagaimana selama ini  para kaum feminis menggaungkan kebebasan wanita dan mengusung kesetaraan gender. Melainkan wanita memang pantas  mendapatkan kedudukan tertinggi,  kaena tugas mulianya sebagai seorang ibu dan pengatur keluarga.

Wanita memiliki peran ganda dalam kehidupan , yaitu mengandung, melahirkan, mengasuh, membesarkan dan mendidik anak. Kemudian juga bertanggung jawab tehadap pengaturan rumah tangga sebagai amanah dari suami. Sehingga kedekatan seorang anak akan lebih dominan kepada seorang ibu, begitu pula kenyamanan sebuah keluarga bergantung kepada pengurusannya.

Sebagaimana diketahui setiap peran dan perbuatan  akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah Swt.

“Dan istri adalah pengatur dalam rumah tangga suaminya, dan dia bertanggung jawab atas pengaturannya”, (HR. Buchari Muslim).

Tugas istri sebagai pendamping suami dan pengatur rumah tangga mendapat penghargaan tertinggi dari Allah, sesuai tugas yang diberikan kepadanya yaitu sesuai prosinya.

“ Apabila wanita itu melakukan shalat lima waktu dan bisa menjaga kehormatan dirinya serta taat kepada suaminya. Maka dia dapat memasuki surga dari segala penjuru pintunya yang ia sukai.”

Wanita sebagai ibu, penerus keturunan dan pembina generasi bangsa.

Selain tuga-tugas mulia dari seorang wanita sebagaimana diuraikan di atas, tugas lainnya adalah tugas sebagai ibu dan penerus keturunan  serta pembina  generasi bangsa.

“ Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami terraasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. Al A’rof: 189)

Kesetaraan gender yang di gaungkan oleh para kaum feminis, pecinta kebebasan yang mengadopsi  pelaku sistem ekonomi liberal kapitali , menginginkan  agar para  wanita bekerja diluar rumah,  melupakan peran pentingnya terhadap keluarga dan sumbangsihnya terhadap bangsa dan negara, dimana jika para wanita tak lagi menjadi pendidik generasi muda dan menjaga kestabilan serta keharmonisan rumah tangga, maka rusaknya sebuah keluarga adalah pangkal rusaknya sebuah negara, begitupun kokohnya sebuah rumah tangga atau keluarga adalah pangkal dari kokohnya sebuah bangsa.

Dalam sebuah hadist Rasulullah Saw menyatakan bahwa :

الْمَرْأَةُ عِمَادُ الْبِلاَدِ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَتِ الْبِلاَدُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَتِ الْبِلاَدُ

Wanita adalah tiang suatu negara, apabila wanitanya baik maka negara akan baik dan apabila wanita rusak maka negarakapun akan rusak.”

Jika pemahaman akan kesetaraan gender yang terus dilancarkan dan digaungkan oleh kaum feminis dan pelaku ekonomi kapitalisme, dibiarkan untuk mendobrak kebudayaan Islam, mengeluarkan wanita dari rumahnya, meninggalkan tugasnya sebagai pendidik generasi bangsa dan pengurus rumah tangga yang memberi ketenangan  dan mendukung  suami dalam bekerja, maka carut marut dan rumtuhnya sebuah negara tinggal menunggu waktu saja.

Maju mundurnya sebuah megara ada ditangan para pemudanya, sedangkan tumbuhnya generasi yang baik bergantung pada pendidikan keluarganya, terutama ibunya sebagai warobatul bait.

Ditulis Oleh : St. Julaeha

st.j@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

bambang brojonegoro-kepala-bappenas-pindah-ibu-kota

Kepala Bappenas: Dalam seabad, ada 30 negara sukses memindahkan ibu kotanya

Jakarta, SUARA TANGERANG –  “Dalam 100 Tahun ini ada 30 negara yang sukses memindahkan ibu kotanya,” demikian disampaikan Menteri ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com