Tak menentunya distribusi pangan, ini solusi dari ahli

Jakarta, SUARA TANGERANG – Sejak diberlakukan aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di berbagai daerah, aktivitas sentra perekonomian seperti pasar tradisional menjadi terganggu. Ketegangan massal membuat masyarakat mengurangi pergi ke pasar karena takut terpapar Covid-19.

Demikian diungkapkan oleh ahli pangan Wildan S Niam, Jumat (4/24). Situasi tersebut juga menimbulkan pergeseran pola konsumsi. Menurutnya, “Kini konsumsi sayur dan makanan yang mengandung protein berkurang di masyarakat. Orang lebih banyak mengonsumsi karbohidrat seperti beras, karena beras lebih tahan lama dan mudah disimpan sebagai stok.”

Dalam konteks pandemik, kecenderungan demikian perlu diperhatikan pemerintah. Tantangan pemerintah jelas bukan hanya tentang ketersediaan beras saja. Persoalan menjadi penting jika dikaitkan dengan kecukupan gizi masyarakat selama masa pembatasan sosial berskala besar, terutama yang menjamin kecukupan bagi anak.

Oleh karena itu, menurut Wildan, kesiapan pemerintah menghadapi pandemik tidak dapat diukur menurut satu dimensi beras saja. “Diperlukan kerja sama banyak pihak untuk mengurangi potensi gangguan kesehatan terutama anak-anak, dengan menyediakan makanan bergizi yang beragam.” Kata Wildan di Jakarta.

Perhatikan kaidah distribusi

Masalah utama tanaman pangan hortikultura (sayur-mayur) dan pangan protein (daging sapi, ayam, dll) adalah naturnya yang berumur pendek. Karakteristiknya yang mudah rusak juga meniscayakan bahan pangan ini untuk segera mungkin didistribusi.

Sementara itu, penerapan pembatasan sosial berskala besar yang dilaksanakan di beberapa daerah di Idonesia, wabil khusus Jabodetabek telah menambah kesulitan baru dalam proses logistik. “Masalah pangan bisa timbul karena distribusi. Jika distribusi tidak dipetakan dengan tegas, bisa mengakibatkan antara dua hal: pertama, gagal distribusi yakni ketika terjadi penumpukan komoditas pangan di daerah produksi, atau kedua, gagal konsumsi yakni bahan pangan diterima masyarakat dalam kondisi tidak layak.”

Lanjut Wildan, demi menghindari hal-hal tersebut, perlu ada langkah penyelamatan hasil produksi masyarakat tani. Jangan sampai ketika mereka panen produknya tidak tersalur. Jangan pula terjadi yang kedua: produknya tersalur tapi kualitasnya tidak terjaga.

Langkah yang paling utama adalah peningkatan kapasitas produksi pabrik-pabrik pengolahan pangan, baik BUMN/BUMD maupun swasta.

Dengan meningkatnya kapasitas produksi, pabrik-pabrik pengolahan pangan diharapkan dapat mengatur ulang sistem produksinya menjadi lebih baik. Sehingga mampu menunjang rantai distribusi di tengah pandemi COVID-19.

“Rantai distribusi perlu ditunjang sejak proses produksinya. Pertama pastikan penyerapan hasil produksi optimal lebih dahulu, lalu berturut-turut tampung, olah, kemas, dan simpan bahan pangan dengan kaidah yang benar. Jika itu dilakukan, bahan pangan diharapkan tiba di tangan masyarakat dalam kondisi baik dan layak konsumsi,” terang Wildan. (1st/*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Putus rantai penyebaran COVID-19, KPK kembali swab test seluruh pegawai

Jakarta, SUARA TANGERANG – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melaksanakan tes swab RT-PCR (Reverse-Transcriptase Polymerase Chain ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com