Era media sosial menjadi sebuah new normal

SUARA TANGERANG – Di era modern saat ini, bukan hanya media cetak, audio, maupun audio visual saja atau media-media konvensional lainnya yang dijadikan alat penyebaran informasi dan komunikasi. Meskipun setiap media sempat mendominasi pada eranya masing-masing, pada saat ini media sosial menjadi sebuah raksasa informasi dan komunikasi. Kemudahan penggunaan dan akses media sosial menjadikannya pilihan utama bagi khalayak sebagai pusat sumber informasi. Meskipun sejak awal tahun 2000an penggunaan internet mulai meningkat, namun pengguna media sosial meledak ketika era Facebook pada tahun 2007 hingga 2012. Kemudian saat ini, kepemilikan akun media sosial sudah menjadi New Normal bagi masyarakat luas. Penggunaanya kurang lebih sebagai media hiburan, penyalur informasi dan alat komunikasi yang interaktif. Meskipun kerap kali digunakan sebatas sebagai penyalur informasi dan alat komunikasi, jika melihat lebih dalam, khususnya melalui perspektif ekonomi media, media sosial sangat berpotensi mengalahkan media-media lain.

Sasse (2016) menjelaskan bahwa media sosial merupakan sebuah perspektif ekonomi global yang terbarukan. Hal tersebut dilihat dari industry informasi yang semakin pesat. Pengguna media sosial saat ini juga merupakan partisipan aktif dengan tingkat kecerdasan yang kolektif. Sehingga media sosial sangat dikaitkan dengan teknologi Web 2.0 atau New Media. Web 2.0 sebagai media baru dapat diartikan sebagai konsep penggunaan internet yang terbarukan. Pada media baru saat ini, khususnya melalui media sosial, jika pengguna ingin mengakses suatu situs, maka pengguna tidak perlu repot-repot mengunjungi dan memasukkan halaman situs yang ingin diakses. Pengguna telah dimudahkan dengan cara mengklik link yang telah tersedia untuk halaman situs yang ingin pengguna kunjungi. Secara nyata dapat kita rasakan sebagai pengguna media sosial. Ketika kita menggunakan media sosial seperti Instagram, Whatsapp, dan Facebook, kemudian ingin mengunjungi sebuah halaman situs yang disebutkan di dalam media sosial tersebut, kita hanya perlu mengklik dan lansung terlempar dan berkunjung pada suatu situs tersebut.

Jika menelisik dari persepektif ekonomi media, media sosial dalam berbagai sudut pandang ekonomi mikro mampu untuk membedakan barang ekonomi berupa informasi dan konten. Kemudian menyatukan produsen dan konsumen konten di dalamnya. Media sosial juga dianggap sebagai ekonomi baru. Dipahami melalui perkembangan web dan internet, terlihat bahwa media sosial berkembang menjadi sarana informasi dan alat komunikasi yang interaktif. Media sosial juga menyediakan infrastruktur dan mampu berkembang berdasarkan penggunanya. Maka dari itu, dalam konteks ekonomi media, penggunaan media sosial dapat membuat semua penggunanya menjadi konsumen maupun produsen informasi di dalamnya.

Media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter juga digunakan dan menjadi sasaran utama perusahaan, baik perusahaan media ataupun perusahaan pada umumnya. Hal tersebut dikarenakan pada era modern saat ini, media sosial beserta konten di dalamnya dapat menjadi sarana utama untuk menyebarkan informasi seputar produk yang diperjual belikan oleh sebuah perusahaan. Khususnya perusahaan media juga mengedepankan konten di media sosial untuk mendapatkan pembaca serta pengikut beritanya. Maka dari itu manajemen media sosial saat ini sangat diperlukan. Mike Friedrichsen (2013) dalam bukunya Handbook of Social Media Management menjelaskan bahwa manajemen media sosial pada era modern ini sangat diperlukan. Bukan hanya sebagai tambahan konten sebuah perusahaan maupun personal, namun sudah dapat menjadi sebuah kebutuhan.

Saat ini banyak perusahaan media, maupun perusahaan yang bergerak di bidang lain menjadi media sosial sebagai kebutuhan utama. Konten yang disajikan dapat menarik peminat dan pengikut, yang nantinya berujung pada pemasangan iklan melalui media sosial tersebut. Bahkan tidak hanya di lingkup luas perusahaan, para pengguna personal juga dapat memanfaatkan kemudahan media sosial tersebut. Contohnya melalui endorsement atau jasa meengiklankan sebuah produk di media sosial kita yang nantinya juga berdampak pada ekonomi masing-masing. Tidak hanya sampai pada tahap itu, bahkan Instagram juga telah menyediakan fitur Instagram Business sebagai pendorong penggunanya untuk memanfaatkan media sosial untuk berbisnis dan bertransaksi. Karena hal-hal tersebut juga memunculkan ilmu-ilmu baru mengenai pengelolaan media sosial. Engagement rate sebuah media sosial yang terdiri dari comment, like, dan impresi yang didapatkan melalui unggahannya juga sangat menentukan keberhasilan penggunaan media sosial jika dimaksudkan sebagai lahan bisnis.

Bahkan pengelolaan media sosial juga akan berhubungan dengan keahlian SEO (Search Engine Optimization) yang membuat persaingan media daring semakin ketat. Melalui perkembangan yang sangat cepat dan hebat itu, media sosial juga menumbuhkan lapangan kerja baru, seperti SEO Specialist, kemudian juga terdapat Social Media Officer yang mengurusi segala manajemen media sosial suatu perusahaan, khususnya perusahaan yang berhubungan dengan media. Semakin kita bijak dan semakin kita lihai dalam menggunakan serta membuat konten di media sosial, juga akan berdampak pada keberhasilan media sosial sebagai media baru melalui perspetktif ekonomi media di era modern ini. Terlebih di saat kondisi dunia yang mengalami pandemi saat ini, penggunaan segala media daring dan media sosial tentunya sudah menjadi New Normal di mana kita harus beradaptasi untuk mengikut perkembangannya.

 

Ditulis OlehStevanus Febryanto / Content Writer / Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta / Publisis Bentang Pustaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Waze luncurkan tampilan baru aplikasinya

Jakarta, SUARA TANGERANG – Sehubungan dengan peraturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang sudah tidak lagi ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com