Duka cita longsor TPA Cipeucang

Soal TPA Cipeucang, Ade Yunus: Kontraktor dan Pemkot Tangsel tidak perlu berapologi lebih baik fokus clean up Cisadane

Kota Tangsel, SUARA TANGERANG – Sebagaimana diberitakan sebuah media online, Kontraktor pelaksana pembangunan sheet pile TPA Cipeucang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menyebutkan, bahwa tanggul beton yang jebol sepanjang 58 meter, berakibat longsornya gundukan sampah di TPA Cipeucang yang nyaris menutupi badan Sungai Cisadane,  Jum’at, 22 Mei 2020 lalu, akibat adanya abrasi sungai dinilai aktivis lingkungan sangatlah apologies.

“Kejadian ini akibat adanya abrasi sungai,” ungkap Direktur Utama PT RJPS, Zakwannur kepada wartawan di Serpong, Rabu (3/6).

Dijelaskannya, sisi luar sheet pile tanah tergerus sedikit demi sedikit, dan akhirnya bergeser (sleeding). Faktor alam ini menyebabkan hilangnya friksi tanah yang menjepit sheet pile.

Zakwannur pun juga mengatakan bahwa;  “alam berkhendak lain”.

Menyikapi pernyataan Kontraktor tersebut, Aktivis YAPELH sekaligus Ketua BANKSASUCI, Ade Yunus mengatakan penjelasan Zakwannur itu merupakan appologies yang menggelikan.

“Orang awam juga tahu, kalau fungsi sheet pile itu kan untuk menahan tanah agar tidak terjadi longsor, juga menahan air agar tidak masuk ke dalam lubang galian,” jelas Ade, Kamis (4/6).

Ade manambahkan bahwa sebelum dilakukan pekerjaan sheet pile ada tahapan metode perencanaan yang harus dilakukan itu seperti ini, menentukan titik pancang, pemasangan angkur, pemasangan guide beam, pengangkatan tiang pancang, pemancangan, pelepasan guide beam, pengukuran kembali posisi, pemukulan kembali, pemasangan wale steel CNP dan tie road, baru pemotongan sisa pancang.

” Wale steel CNP dan tie road itu kan fungsinya agar tidak terjadi pergeseran karena sifat tanah yang dapat berubah kapan saja, jadi kalau menyalahkan abrasi, yah sangat menggelikan,” ungkap Ade.

Ade justru mempertanyakan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel dan Kontraktor apakah sudah memiliki dokumen Kajian DED, AMDAL, dan Rekomtek dari BBWS Ciliwung Cisadane? Bahkan kalau punya Rekomtek dari BBWSCC, Ade malah heran, dan perlu dipertanyakan.

“Dalam Pasal 22 ayat 1 Permen PUPR Nomor 28 Tahun 2015 tentang GSS dan GSD,  pemanfaatan GSS itu terbatas, tidak ada didalamnya dapat dimanfaatkan untuk TPA, ” tegasnya.

Menurut Ade, upaya pembersihan sampah dari Sungai Cisadane itu adalah tanggung jawab kontraktor dan pengelola TPA Cipeucang. Kalau dugaan pelanggaran karena gagal konstruksi dan kelalaian dalam pengelolaan TPA itu, harus di pertanggungjawabkan secara hukum.

Ade pun mencontohkan gagal kontruksi sheet pile Imam Bonjol Karawaci tahun 2009. Aparat penegak hukum (APH) langsung ke TKP dan bertindak tegas, pejabat, kontraktor  dan pengawasnya ditetapkan sebagai tersangka dan bahkan dipidanakan.

“Ingat kasus gagal konstruksi sheet pile Imam Bonjol Karawaci tahun 2009? Anggaranya Cuma 4,5 milyar. APH langsung ke TKP, dan menetapkan pejabat, kontraktor dan pengawasnya sebagai tersangka, bahkan dipidana, apalagi ini nilainya 21 milyar,” ujar Ade.

Karena itu, Ade minta kepada Kontaktor dan Pemkot Tangsel tidak usah sibuk lakukan pembelaan diri lebih baik fokus clean up Cisadane.

“Udahlah mending sampaikan permohonan maaf, soal urusan dugaan kelalaian dan pelanggarannya biar APH dan Kementerian terkait yang memberesinya, karena kami sudah serahkan dan percayakan kepada mereka,” pungkas Ade. (1st/*)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

HUT Bhayangkara yang ke-74, A Zaki Iskandar apresiasi kinerja Kepolisian RI di masa pandemi

HUT Bhayangkara yang ke-74, Ahmed Zaki Iskandar apresiasi kinerja Kepolisian RI di masa pandemi

Tangerang, SUARA TANGRANG – Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar mengatakan, bahwa selama masa pandemi COVID-19 ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com