BREAKING NEWS
Abullah Hehamahua

Virus China, Syariah Islam, dan Tobat Nasional

SUARA TANGERANG – Tanggal 12 Juni, di bawah judul artikel “New Normal sama dengan New Presiden,?” saya kritik presiden. Sebab, presiden mengumunkan periode new normal tanpa memahami budaya masyarakat dan kurang mengerti tatalaksana instansi pemerintah. Hari ini (10 Juli), data-data yang ada menunjukkan analisis saya, benar. Sebab, tanggal 1 Juni, ketika presiden mengumumkan new normal, data-data resmi dari pemerintah sebagai berikut: 467 tambahan orang terpapar virus. Total pasien positif, 26.940 orang. Pasien sembuh 329 orang sehingga totalnya, 7.637 warga. Mereka yang meninggal 28 orang, sehingga total, 1.641 nyawa.

Kemarin, 9 Juli 2020, Achmad Yurianto mengumumkan data-data sebagai berikut: 2,673 pasien baru, angka tertinggi selama serangan bencana dari China ini. Total yang terpapar, 70.736 orang. Sembuh, 1.066 sehingga totalnya mencapai: 32.651 orang. Meninggal dunia, 58 orang sehingga total mencapai 3.417 nyawa. Maknanya, presiden delapan kali terkena kombinasi pukulan straight, hook, dan upper cut virus China yang mengkanvaskan beliau ke lantai istana. Wasit menghitung, 1, 2, 3, …, dan sudah sampai angka tujuh. Tinggal tiga detik lagi, wasit akan mengangkat tangan, tanda presiden dinyatakan KO.

Artikel bertanggal 12 Juni tersebut, saya juga menduga, korban meninggal dunia akibat seragan virus China bisa mencapai lima ribuan orang. Sekarang, sudah lebih tiga ribu orang. Maknanya, akhir tahun nanti, jumlah korban akan melebihi perkiraan saya. Semoga analisis saya, salah.

Kegagalan New Normal Presiden

Artikel saya bulan lepas mengemukakan dua alasan utama, mengapa new normal, kurang berhasil. Pertama, anggota masyarakat belum terbiasa hidup disiplin dan taat asas. Rakyat, mungkin meniru presidennya yang sering tidak taat asas. Mereka ingat peribahasa: “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Mereka masih ingat kampanye capres 2014, antara lain: Indonesia akan hentikan impor. Faktanya, hampir semua keperluan hidup dipenuhi impor, termasuk TKA dari China; Kabinet akan ramping dan pimpinan partai, tidak masuk kabinet. Faktanya, kabinet tetap gemuk dan ada Ketua Umum partai yang menjadi Menteri; Tidak akan berhutang ke luar negeri. Faktanya, utang luar negeri tercatat sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia, Rp. 5,796 trilyun (April 2020). Tragisnya, bunga utang 2020 yang tercatat dalam APBN sebesar Rp. 295 trilyun. Padahal, menurut Nabi Muhammad SAW, memakan riba, sama dengan menzinahi ibu kandung. Wajar jika wabah apa pun termasuk virus China merupakan salah satu “bala” dari “langit.” Menurut kitab-kitab klasik, “bala” diturunkan karena dosa yang dilakukan manusia, apalagi pemimpin. Terapinya, taubat nasuha. “Bala” ini bersifat internasional sehingga taubatnya juga harus meliputi seluruh dunia. Internal Indonesia, perlu “taubat nasional.” Ia dimulai dari presiden, wakil presiden, kabinet, pimpinan K/L, Pemda, anggota eksekutif, legislative, dan yudikatif.

Penyebab kedua kegagalan presiden, tatalaksana beberapa instansi terkait, belum profesional. Amburadulnya tatalaksana tersebut dapat dilihat dari beberapa indikator: (a) Data-data korban virus China, dipertikaikan kesahihannya oleh masyarakat, luar negeri, termasuk WHO; (b) Lambatnya penyaluran dana pe-nanggulangan virus China karena instansi terkait takut di-KPK-kan. Sebab, Perppu yang diterbitkan presiden, sarat nuansa KKN; (c) Petugas kesehatan, masih ada yang tidak atau lambat memeroleh hak-hak mereka, baik berupa gaji, honor maupun insentif; (d) Sering terjadi pergaduhan di antara keluarga korban virus China dengan petugas rumah sakit yang merebut jenazah akibat lemahnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah. Konon, petugas rumah sakit merebut jenazah karena ada anggaran ratusan juta rupiah per orang. Lumayan, pemasukan bagi rumah sakit terkait; (e) Penerima dana bansos, ada yang seharus menerima, tetapi tidak terdaftar. Mereka yang tidak berhak, justru menerima. Wajar, setelah terima dana bansos, seorang ibu mengatakan, mudah-mudahan tahun depan ada lagi corona supaya bisa dapat santunan lagi. Ada pula yang mengirim salam ke corona karena sudah memberi mereka bantuan bahan makanan dan uang tunai.

Syariah Islam sebagai Solusi

Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini oleh Bung Karno disebut sebagai kausa prima. Maknanya, ia menafasi sila-sila lain. Operasionalisa-sinya, pengelolaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, harus sesuai dengan ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasal 29 ayat 1 UUD 45, memastikan hal ini: Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ayat ini menegaskan, tata laksana Kementerian, Lembaga Negara, dan institusi masyarakat harus berdasarkan ajaran Tuhan Yang Maha Esa. Undang-Undang Perkawinan, pelaksanaan haji, sertifikasi halal, bank syariah, beberapa contoh dari pelaksanaan ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa.

Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Konsekwensi logisnya, tata kelola pemerintahan, kemasyarakatan, dan kenegaraan menurut ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak lain adalah syariah Islam itu sendiri. Maknanya, realisasi protokol virus China atau virus apa pun dapat berhasil melalui penerapan Syariah Islam, antara lain berupa:

1. Mencuci Tangan.
Umat Islam, wajib hukumnya shalat 5 kali sehari semalam. Salah satu syarat shalat, muslim/muslimah harus berwuduk. Maknanya, orang Islam selalu dalam keadaan bersih karena lima kali sehari membersihkan tubuh mereka.

2. Memakai Masker
Muslimah, setiap keluar rumah dianjurkan mengenakan purdah. Syariah Islam ini dengan sendirinya melindungi muslimah dari terpapar virus apa pun, termasuk virus China. Sebab, mereka selalu mengenakan masker yang berbentuk purdah. Maknanya, pemakai purdah tidak lagi dituduh teroris atau radikal.

3. Jaga Jarak
Syariah Islam menentukan, lelaki dan perempuan yang bukan mahram, dilarang bersalaman, cipiki-cipika, apalagi sampai beperlukan. Selain, tidak menimbulkan nafsu birahi di antara persentuhan lelaki dan perempuan yang bukan mahram, mereka terhindar dari terpapar virus China melalui sentuhan. Syariah Islam juga menetapkan, di tempat kerumunan, muslim dipisahkan dari muslimah seperti dalam shalat berjamaah. Maknanya, masalah “jaga jarak” menurut protokol corona, sudah tercover dalam Syariah Islam.

Simpulannya, new normal akan berhasil menghentikan merebaknya virus china jika Syariah Islam dilaksanakan umat Islam, mulai dari presiden sampai rakyat kecil. Untuk itu, perlu tobat nasional, baik individu, masyarakat, maupun pemerintahan.

Depok, Jum’at Keramat, 10 Juni 2020

Abdullah Hehamahua

Lihat juga: New normal, sama dengan new president?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Buruh Mogok Gara-Gara Anies? Koplak!

SUARA TANGERANG – Menanggapi mogok nasional buruh tanggal 6-8 Oktober, seorang politisi partai “anu” berkomentar: ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com