Doni Monardo: Disiplin masyarakat kunci memutus mata rantai COVID-19

Jakarta, SUARA TANGERANG – Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Letjen TNI Doni Monardo mengatakan perilaku disiplin penerapan protokol kesehatan masih menjadi kunci untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Hal terseut disamaikan Doni Monardo dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk “Optimis Bangkit dari Pandemi: Kesehatan Pulih, Ekonomi Bangkit” yang digelar secara virtual di Kementerian Kominfo, Jakarta, Sabtu (15/8) lalu.

Menurut Doni, perilaku disiplin dan menerapkan protokol kesehatan menjadi alat atau kekuatan utama yang dimiliki masyarakat Indonesia karena sampai saat ini obat COVID-19 belum ada.  “Vaksin pun baru bisa efektif beberapa bulan ke depan,” katanya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini pun mengingatkan, bahwa sembari vaksin penyembuh COVID-19 benar-benar ditemukan dan dapat diproduksi massal, maka akan ada sejumlah kemungkinan-kemungkinan yang masih bisa terjadi.

Ia pun menjelaskan bahwa perubahan perilaku yang diminta untuk diterapkan masyarakat tadi juga merujuk pada kesadaran kolektif dan peran dari seluruh komponen bangsa.

“Ada 63 persen keberhasilan kita dalam menangani COVID-19 adalah di bidang sosialisasi,” ujar Doni Monardo.

Oleh karena itu, peran komunikasi publik adalah hal yang mendasar dan memiliki peranan besar dalam upaya memutus mata rantai penyebaran virus.

Mantan Pangdam Siliwangi ini pun menegaskan agar seluruh komponen masyarakat untuk tetap disiplin saat beraktivitas di masa transisi. Tiga komponen penting protokol kesehatan wajib dilakukan, memakai masker, jaga jarak dan rajin mencuci tangan.

Dalam kesempatan itu, Doni mengingat pentingnya komunikasi publik tersebut, ia kemudian menyitir sebuah kalimat “kenali dirimu, kenali musuhmu. Seribu kali kau akan menang, seribu kali kau berperang, seribu kali kau akan menang”.

Selain menggunakan media arus utama, tambah Doni, dalam mengakselerasi sosialisasi disiplin protokol kesehatan, Satgas COVID-19 diminta untuk melibatkan kelompok ibu-ibu PKK secara massif untuk menyediakan masker dan sosialisasi protokol kesehatan ke masyarakat.

Mengutip kalimat-kalimat tersebut, ujarnya, relevan untuk disandingkan dengan keadaan saat ini. Tujuannya agar masyarakat paham betapa bahayanya virus corona. “COVID-19 memang berbahaya, tetapi proses seseorang terpapar itu karena ada yang membawanya yaitu manusia. Oleh karena itu, butuh upaya memutus penyebaran yang bisa menciptakan kesehatan masyarakat,” katanya.

Doni Monardo menambahkan, kondisi wabah COVID-19 bukan yang pertama dialami di Tanah Air. Kondisi wabah seperti ini sudah pernah terjadi di Indonesia pada 100 tahun lalu. Di mana wabah penyakit menjangkiti 15 persen dari populasi Indonesia yang saat itu sebanyak 35 juta penduduk.

Turut tampil sebagai narasumber Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Erick Thohir dan Ketua Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional Budi Gunadi Sadikin.  (1st/*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin: Negara menjamin kebebasan berekspresi

Jakarta, SUARA TANGERANG – Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin menegaskan bahwa hak individu masyarakat ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com