Pengamat KPN: Ironi, narasi timses di Pilkada Tangsel tak bisa bedakan black dan negative campaign

Kota Tangsel, SUARA TANGERANG – Kurang lebih 40 hari lagi kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) akan memasuki hari pencoblon, yaitu pada 9 Desember 2020. Namun, waktu yang sangat terbatas ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh para kontenstan untuk mencari simpati dan dukungan para pemillih.

Anehnya, waktu yang tinggal beberapa hari menuju hari pencoblosan tersebut diisi kampanye politik bernada subjetifitas tanpa menawarkan gagasan yang konstruktif untuk kemajuan Tangsel lima tahun ke depan.

Hal itu diungkapkan Direktur Kajian Politik Nasional (KPN) Adib Miftahul. Dia mengatakan, merasa kasihan melihat masyarakat harus mendapat narasi subjektifitas dari kalangan tertentu yang hanya membranding calonnya seolah lebih baik dan menyerang lawannya tanpa ide segar dan gagasan yang berarti. Bahkan yang menyedihkan, para timses paslon dengan vulgar tak bisa membedakan negative campaign dan black campaign.

“Kita melihat banyak narasi pesan jelas dan vulgar tak bisa membedakan negative campaign dan black campaign dari timses dan relawan yang saat ini bergabung atau terafiliasi dengan pasangan calon. Hal itu dilakukan karena tidak mampu membranding calonnya untuk bisa membuat gagasan baru dan lebih maksimal dibanding kondisi keadaan Tangsel yang sedang berlangsung saat ini,” terang Adib saat berdiskusi dengan wartawan, di sekretariat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Cabang Tangsel, di kawasan Graha Raya Bintaro, Pondok Aren, Rabu (21/10).

Adib juga mengakui, sangat ironis dan berbanding terbalik dengan argumentasi yang menyatakan Tangsel tidak hanya sebagai wilayah penyangga ibu kota dan kota satelit, namun masyarakat diperlihatkan argumentasi narasi subjektif semata demi menyerang calon lainnya.

“Tangsel itu membutuhkan teknologi digitalisasi yang lebih hebat dan terintegrasi menyeluruh, baik di lingkungan rumah tangga hingga teknologi manajerial pemerintahan yang lebih mempuni, bukan menyerang personaliti pribadi yang tidak berbanding lurus dengan arah pembangunan mendatang,” papar dosen politik dari UNIS Tangerang ini.

Lanjutnya, yang paling ironis adalah masih ditemukan bagaimana jualan casing identitas ditengah masyarakat yang heterogen dan multiculture seperti Tangsel ini.

“Ketika identitas kembali digaungkan seolah kembali seperti membuka tabir sisa Pilkada DKI Jakarta, dimana kerudung dan budaya primordial digaungkan, padahal ini sesuatu yang sangat riskan ditataran masyarakat”, paparnya.

Sebagai akademisi, Adib berharap, para timses serta organisasi kemasyarakatan yang terafiliasi dengan calon, supaya lebih cerdas dalam membuka wawasan dan edukasi berpolitik dan berkomunikasi dalam membangun branding calonnya.

“Dagangan pembangunan, inovasi, ide, gagasan lebih enak dinikmati masyarakat dan laku, dibanding menghidupkan politik identitas dan primordial semata. Maka jauhkanlah topeng-topeng politik semacam ini, karena hal ini hanya akan menjadi sampah rongsokan di Kota Satelit seperti Tangsel”, pungkasnya. (1st/*)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pengamat: Timses tersangkut kasus hukum, elektabilitas Muhamad – Saras bisa merosot

Kota Tangsel, SUARA TANGERANG  – Darmo Bandoro, mantan Plt Lurah Bakti Jaya, yang juga merupaka ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com