Kisah Para Kucing, dari Menyebar Urine sampai Masuk Surga

SUARA TANGERANG – Saya baru tahu kalau kucing-kucing yang berisik mengeong-ngeong menjengkelkan itu merupakan episode foreplay sebelum sang kucing melakukan senggama. Yan Lubis mengisahkannya dengan sangat menarik di buku berjudul Namaku Ponsu: Meowar Kucing Garong. Kata Yan Lubis, foreplay-nya lama, bisa berjam-jam bahkan berhari-hari, tapi senggamanya hanya beberapa detik saja. Wow, gak sumbut yooo, kata arek Suroboyo.

Itu hanya salah satu bukti kecermatan pengarang mengamati obyek yang akan ditulisnya, kalau gak mau dikatakan keisengan Yan Lubis mengusir kebosanan di era pandemic (hanya orang iseng yang nungguin kucing bergairah dan mencatat berapa detik senggama terjadi, kan?).

Buku ini entah mau disebut apa, terserah pembaca. Yang penting dinikmati saja. Dan memang, kalau sudah baca di awal, gak bakalan mau melepaskan barang sejenak. Ingin tahu terus. Materi isi buku yang tidak lazim dan gaya bahasa jenaka Yan Lubis memaksa kita menyelesaikan bacaan ini dalam satu kesempatan. Mengapa saya bilang ‘entah mau disebut apa’? Karena buku ini merupakan percampuran yang piawai antara fakta tentang perkucingan, fantasi tentang apa yang dipikirkan dan di-obrol-kan oleh para kucing, bahkan sejarah kucing dan Rawa Bambu, setting cerita. Di sini tidak hanya dielaborasi ciri fisik berbagai jenis kucing beserta karakter dan kebiasaannya (mencuri makanan, menggaruk sofa, caper dan manja, mengencingi sudut-sudut yang ingin dikuasai termasuk mebel di rumah); tetapi ada juga informasi tentang penyakit-penyakit kucing, kisah kucing di zaman Mesir kuno, hingga kucing menyeberangi dimensi kehidupan melalui wormhole alias jembatan cacing. Bahkan puisi “Sajak Bulan Juni”-nya Sapardi Djoko Damono pun ada di benak Ponsu, si lakon utama.

Saya sudah membaca tiga karya Yan Lubis, pengarang yang namanya sudah familiar di era remaja saya (dia banyak menulis di Majalah Gadis). Karya Yan belakangan ini; Anak Kolong, Baranang Siang, dan Namaku Ponsu, membuktikan bahwa Yan Lubis adalah pengarang yang cerdas, kaya pengetahuan, menguasai bahasa, memiliki style yang sangat mengikat pembaca. Ketelitiannya dalam memperkaya fakta dan data boleh saya setarakan dengan Dee (Dewi Lestari), sedangkan kejenakaannya setara Andrea Hirata. Yan Lubis adalah gabungan keduanya: pengarang yang gaya bahasanya sangat enak dibaca, plus kaya pengetahuan.

Seperti kata Yan Lubis, anjing punya majikan, kucing punya pelayan (yaitu manusia), bolehlah saya bilang karya-karya Yan Lubis menjadikannya “the master” of us all, pecinta buku. Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk mengusir kebosanan diam di rumah, apalagi bagi pengangguran atau WFH paruh waktu. Dijamin ketawa atau senyum-senyum sendiri, dan diam-diam pengetahuan Anda bertambah. At least tentang dunia perkucingan.

Sirikit Syah, penulis 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Lomba karya musik anak komunitas mulai jaring 15 finalis terbaik

Jakarta, SUARA TANGERANG – Penjurian Lomba Karya Musik Anak Komunitas (KAMU AKU) yang digelar Biro ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com