Faiz, Mahasiswa Yang Ingin Mati Syahid

SUARA TANGERANG –  “Ya Allah, di tempat yang Nabi-Mu biasa shalat ini, aku memohon kepada-Mu agar diriku dan anak-anakku mati sebagai seorang syahid  dan syahidah. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin.” Itulah antara lain doa pak Syuhada di Raudah, Masjid Nabawi, Madinah, tahun 2018.

Shalat Versi Virus China

Lelaki itu menyalami saya. Kutarik segera tanganku agar tidak dicium. Apalagi dalam semaraknya virus China. Saya lupa-lupa ingat wajahnya. “Saya ayah almarhum Faiz,” katanya mengenalkan diri. Pertemuan dengannya di tempat wudu’, masjid As’saadah, bilangan Jagakarsa itu adalah peristiwa kedua. Pertemuan pertama ketika Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (LP3) enam warga sipil, melakukan jumpa pers.

Syuhada, ayah almarhum Faiz, dalam konperensi pers itu, mewakili keluarga enam korban pembunuhan polisi, menyampaikan sambutan. Syuhada sangat bersemangat. “Silahkan tanya ke kampusnya atau kawan-kawan di tempat tinggal, apakah anak kami tersebut berkelakuan buruk. Apakah dia pengguna narkoba, teroris, pencopet atau tukang berantam,?” antara lain luapan perasaan Syuhada. Bahkan, mas Amin Rais sampai bertepuk tangan sewaktu Syuhada mengakhiri sambutannya. Hadirin di salah satu rungan hotel Atlit Senayan, 18 Januari 2021 itu pun bertepuk tangan. Mereka mengikuti mas Amin Rais yang duduk di sebelah saya. Maklum, Prof. Dr. Amin Rais, salah seorang Penasihat LP3.

Shalat maghrib berjamaah di masjid As’saadah itu, cukup ramai. Setidaknya separuh masjid, terisi jamaah. “Luruskan dan rapatkan shaf,” perintah imam. Saya terperanjat. Sebab, selama virus China merajalela, terjadi perubahan SOP shalat berjamaah. Di sebagian besar masjid, khususnya di Jabodetabek, Imam, sebelum bertakbir mengatakan, “luruskan shaf dan jarangkan.” Ada Imam yang berimprovisasi dengan mengatakan, “luruskan shaf dan sesuaikan.”  Hahaha, kelakar juga imamnya. Mungkin Imam ini tahu SOP shalat berjamaah Nabi Muhammad, tetapi tidak berani melawan ketentuan Penguasa. Maklum, musim PHK karena pandemi virus China, sebagian kiyai, ulama, ustadz, dan akademisi menyesuaikan diri dengan kebijakan penguasa. Apalagi, Menteri Kesehatannya nonmuslim. Wajar jika beliau tidak memahami SOP Nabi Muhammad mengenai shalat berjamaah. Aplikasinya, masjid-masjid diperintahkan untuk shalat dengan berjarak setidaknya semeter. Namun, di masjid As’saadah ini, imam betul-betul mengikuti SOP Nabi Muhammad. In shaa Allah, shalatku diterima Allah, batinku. Sebab, kata Nabi Muhammad, ‘shollu kama roaitumuni usholli’ (shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat: HR Al Baihaqi).

Kami menuju rumah orang tua almarhum Faiz setelah selesai shalat maghrib berjamaah. Rumah orang tua Faiz, tak jauh beda dengan kondisi keluarga almarhum Khadafi dan Ahmad Sofyan. Rumah berada di gang sempit. Mobil diparkir di tempat yang agak jauh. Kami berlima berjalan sejauh dua ratus meter, memasuki gang yang tidak bisa dilalui mobil. Rumahnya seluas 4 x 15 meter, lebih panjang dari milik orang tua Khadavi dan Ahmad Sofiyan. Namun, ruang tamu Faiz, lebih kecil dari yang dipunyai Khadafi. Saya perkirakan, 2,5 x 4 meter. Tidak nampak satu pun perabot. Rumah itu milik neneknya Faiz. Namanya Sofia, kini berusia 86 tahun. Ada empat kamar kecil, dihuni tujuh orang. Di samping rumah, tempat pengajian sedang direnovasi. Ukurannya sekitar 4 x 15 meter. Isteri Syuhada, Rosidah ternyata seorang mubalighoh, aktif mengordinasi pengajian kaum ibu, hampir setiap hari. Wajar kalau Faiz sangat islami sekaligus pancasilais dalam kehidupan sehari-hari.

Faiz tidak pernah tinggalkan shalat karena ia rukun Islam kedua. Shalat pula yang pertama dihisab di akhirat. Faiz, karena muslim maka dia seorang warga negara yang baik. Sila pertama Pancasila dan pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD 45 memerintahkan dia untuk menjadi seorang muslim yang saleh. Sebab, Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama menunjukkan bahwa, Indonesia, negara agama. Indonesia bukan negara sekuler, kapitalis, atau komunis. Hal ini ditegaskan kembali dalam UUD 45 pasal 29 ayat 1: “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Masa Esa.”

Aplikasinya, setiap warga negara hanya mengesakan-Nya dalam segala bentuk kegiatan, baik yang bersifat vertikal maupun horizontal.  Pasal 29 ayat 2 menyebutkan: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Rumusan UUD 45 ini menunjukkan bahwa, umat Islam yang pancasilais adalah yang rajin shalat, shaum Ramadhan, mengeluarkan zakat, dan jika mampu, berhaji ke Makah. Umat Nasrani rajin ke gereja. Umat Yahudi, ke sinagok. Jadi, shalat versi protokol kesehatan yang ada, tidak pancasilais. Sebab, shalatnya tidak mengikuti SOP Nabi Muhammad sebagai diperintahkan ayat 2 pasal 29 UUD 45 tersebut. Presiden, Wakil Presiden, Menteri, kepala daerah, anggota legislative dan yudikatif perlu belajar lagi tentang Pancasila.

Syuhada, Penjual Batu Akik

Syuhada, posturnya ramping dan jangkung. Beliau sehari-hari menjual batu akik. Syuhada, ketika ‘booming’, berhasil menjual salah satu batu akiknya dengan harga delapan jutaan rupiah (2013). Namun, adat bisnis, batu akiknya pernah dibeli dengan harga hanya seratus ribu rupiah. Pandemi virus China saat ini, jangankan beli batu akik, guna makan sehari-hari saja, rakyat “kelimpungan.”  Dampaknya, Syuhada sukar menawarkan barang dagangannya.  Namun, beliau tidak mau berimprovisasi seperti yang dilakukan pejabat negara. Mantan Mensos misalnya, mampu berimprovisasi dengan cara menyunat sepuluh ribu rupiah dari paket Bansos yang seharga tiga ratus ribu rupiah. Jumlah paket Bansos cukup banyak sehingga Wakil Bendahara PDIP ini meraup 17 milyar rupiah. Apalagi, Kemensos memeroleh alokasi Rp. 127,2 trilyun rupiah dari dana program perlindungan sosial sebesar Rp. 204.9 trilyun. Tempo pekan lalu mengekpos anggota DPR yang terlibat kasus dana Bansos di Kementerian Sosial tersebut. Tantangan menggiurkan bagi KPK.

Syuhada juga tidak bisa berimprosisasi dengan memproduk alat membuka dan menutup lift yang ada di bandara atau beberapa hotel besar. Apalagi memproduk masker, penutup wajah plastik, dan pencuci tangan. Mungkin menurut Syuhada, cuci tangan dengan sabun setiap mengambil wudu’ sesuai sunnah Nabi Muhammad, mampu melindungi dirinya dari terpapar virus China. Isterinya mengenakan cadar jadi tidak perlu berhubungan dengan 9 naga yang memproduk penutup wajah dari plastik. Mungkin juga Syuhada belajar dari pemulung dan gelandangan di trotoar atau jembatan yang tidak pernah masuk rumah sakit, baik oleh virus China maupun penyakit yang biasa menyerang para pejabat dan orang kota.

Faiz Ingin Mati Syahid

Faiz, salah seorang anggota laskar FPI yang turut mengawal HRS dalam perjalanan ke Cikarang, 7 Desember 2020. Nama lengkapnya, Faiz Ahmad Syukur, 22 tahun. Beliau anak sulung dari pasangan Syuhada dan Rosidah. Faiz memiliki dua adik: Bojas Bakumusal (20), tamatan SMA dan Firdaus Jibar Inmasa (17) masih duduk di bangku SMA.

Faiz sudah semester 5 di salah satu universitas. Faiz mengambil jurusan IT, bidang yang penomenal sejagat, belakangan ini. Faiz, generasi milineal yang mandiri. Bahkan, ayahnya biasa ‘jengkel’ karena apa pun masalah yang dihadapi, Faiz mengatasi sendiri. Namun, beliau tidak seperti relawan capres yang menyalah-gunakan dana modul belajar secara online. Faiz, sehari-hari jual beli logam mulia (satu gram), produk Antam. Penghasilannya digunakan untuk membiayai kuliah dan membantu adik-adiknya. Faiz juga biasa membantu ibunya dari hasil usahanya.

Faiz, pada waktu senggang, melatih anak-anak belajar memanah, tanpa dibayar. Faiz mengamalkan salah satu hadis Nabi Muhammad yang menganjurkan orang tua agar mengajar anak lelaki mereka berkuda, memanah, dan berenang. Namun, ke adik bungsu, Faiz mengatakan, ingin memeroleh ridha Allah SWT dengan pekerjaan yang mapan. Ke ibunya, Faiz mengatakan, ingin menyekolahkan kedua adiknya. Syuhada mengatakan, Faiz ingin menjadi ‘digital graphic designer.’  Namun, kawan-kawannya mengatakan, Faiz biasa minta didoakan agar mati syahid.

Sabtu, 5 Desember, Faiz meminta ibunya menyediakan seragam laskarnya untuk berangkat ke Petamburan. “Doain ya ma,” itulah kata-kata terakhir yang didengar ibunya. Faktanya, Faiz benar-benar memeroleh pahala syahid. Hal itu terjadi dalam peristiwa pembunuhan enam warga sipil oleh aparat negara yang diwakili polisi di KM50, tol Jakarta – Cikarang, 7 Desember 2020, dinihari. Peristiwa ini menunjukkan, salah satu doa ayahnya di Raudah, masjid Nabawi, lebih dua tahun lalu, terkabul.

Syuhada, sewaktu menyaksikan jenazah anaknya dimandikan, nampak ada empat luka bekas tembakan. Dua peluru di area jantung. Leher sampai pusar, ada jahitan, bekas operasi. Padahal, semua keluarga korban, termasuk Syuhada tidak mengijinkan dilakukan autopsi. Polisi dan petugas rumah sakit tidak menjelaskan, apakah dibelahnya jenazah dari leher sampai pusar adalah autopsi atau proyek bisnis. Maklum, masyarakat sering melihat video yang menunjukkan pengambilan organ penting dari jenazah untuk diperjual-belikan.

Depok, 27 Januari 2021

 

Abdullah Hehamahua

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Jika Anies Jadi Presiden, Tak Perlu Ada Yang Panik

SUARA TANGERANG – Orang dilihat dari track recordnya. Anies sebagai gubernur DKI menegaskan posisinya sebagai ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com