Reza, Penghuni Kandang Burung, Dibunuh Polisi

SUARA TANGERANG – “Reza nanti akan belikan rumah untuk mak.”  Itulah janji yang pernah diucapkan Muhammad Reza ke ibunya, beberapa waktu lalu sebelum dibunuh polisi. Abang dan kakak-kakaknya gelak mendengar pernyataan tersebut. Wong kerjanya cuma sebagai Satpam, kok mau beli rumah. Faktanya, janji Reza terealisasi, beberapa hari setelah dia meninggal dunia.

Reza, Penghuni Kandang Burung

Hari itu, Selasa, 25 Januari 2021, pukul 20.00 lewat beberapa menit. Kami tinggalkan rumah Syuhada menuju Pasar Baru, Jakarta Pusat. Penjual batu akik ini bersama isterinya, Rosidah (seorang karyawan perusahaan swasta) adalah orang tua Faiz yang juga salah seorang korban pembunuhan oleh polisi. Faiz banyak belajar agama dari tantenya, seorang mobalighoh.

Tiba di jalan Pasar Baru Timur Dalam, bilangan Pasar Baru, Jakarta Pusat, tidak ada tempat parkir. Kami harus berjalan beberapa ratus meter, baru sampai di mulut gang. Seorang ibu muda mengantar kami ke rumah Reza. Lebar lorong itu dapat dilewati dua orang. Beberapa ratus meter ke dalam, gang semakin menyempit. Terakhir, gang itu haya bisa dilalui satu orang. “Nabila, ada tamu,” teriak ibu yang mengantar kami.

Saya ‘bengong’. Empat kawan lain, juga heran. Kami berdiri di depan bangunan yang layak disebut ‘kandang burung.’ Tangga untuk naik ke rumahnya, tinggi dan curam, sekitar 80 derajat. Seorang anak muda berdiri di pintu, menyilahkan kami naik.

Bismillahirrahmanirrahim. Saya kuatkan semangat untuk menapaki anak tangga tersebut. Maklum, 73 tahun, 5 bulan, usiaku. Ada kekhawatiran kalau tergelincir dan jatuh. (Informasi yang diperoleh kemudian, ibu mereka pernah jatuh di tangga tersebut). Tiba di ruang tamu, saya tertegun. Panjang dan lebar ruang tamu, sama dengan ukuran rumah, yakni 2 x 1,5 meter. Saya dan seorang kawan duduk di lantai beralas tikar plastik. Kawan lain tidak bisa lagi masuk karena ruang tamu sudah penuh. Beliau hanya bisa berdiri di pintu, mengambil foto.

Mustofa, abang Reza duduk di hadapan saya. Lutut kami hampir bersentuhan. Dua kakak perempuan duduk di dekat anak tangga yang menuju tingkat dua. Ruangan lantai dua juga berukuran 2 x 1,5 meter. Muhammad Reza, anak bungsu, umurnya baru 20 tahun. Murtani, ayahnya berprofesi sebagai sopir. Beliau meninggal pada tahun 2000 dalam usia 47 tahun. Reza waktu itu baru berumur enam bulan sehingga tidak mengenal wajah ayahnya. Tuty, sang ibu, 57 tahun, masih hidup. Namun, beliau menderita sakit gula sejak tahun 2017. Tuty, demi menghidupi diri sendiri dan anak-anaknya, sehari-hari menjual nasi. Penghasilan kotor,  Rp. 500 ribu per hari.

Gamb. 1: Tangga menuju ruang tamu; Gamb.2: Ruang Tamu

             Pasangan Murtani – Tuty, punya lima anak. Siti Juleha (36), anak tertua tidak bekerja. Maulana (31), anak kedua, bekerja di Kalimantan. Mustafa (29) anak ketiga, bekerja di Taman Anggrek, Jakarta. Septi Nabila (23) anak keempat, bekerja di perusahaan swasta. Reza adalah anak bungsu.

Rumah yang ditempati sejak tahun 2015 itu lebih layak disebut kandang burung. Lebarnya sekitar 1,5 meter dan panjangnya kurang lebih 2,5 meter. Tidak ada kamar tidur. Tiada kamar mandi dan toilet. Mereka harus berkongsi dengan tetangga yang menggunakan sumur dan toilet umum, di bawah. Di Papua,  38,26% rumah, tidak ada WC. Papua juga merupakan provinsi termiskin di Indonesia di mana ada 35,12% penduduk miskin. Bagaimana Jakarta.? Data BPS terakhir, ada   3,78% penduduk Jakarta, miskin. Keluarga Reza termasuk dalam golongan ini.

“Kalau malam, tidur di mana ?,” tanyaku, hati-hati. Maklum, saya harus menjaga perasaan mereka yang baru kehilangan adik kandung. Apalagi, tidak satu pun aparat yang melayat dan menyampaikan rasa duka. Justru, yang datang adalah surat panggilan dari Bareskrim. Itu pun dititip di RT. Beberapa hari sebelunya, Kapolda Metro Jaya dengan bangga mengumumkan, anak buahnya berhasil membunuh enam warga sipil. Bagaimana sikap Presiden, Wakil Presiden, dan para Menteri. ?

Jangankan terhadap rakyat jelata seperti enam orang laskar FPI, syekh Ali Jaber, ulama Arab Saudi yang berdakwah secara lembut dan edukatif saja, ketika meninggal, tidak ada ucapan belasungkawa dari istana. Namun, terhadap penyanyi Glen Fredly, Jokowi menyampaikan dukacita. Masyarakat memaklumi kualitas keislaman pejabat. Sebab, terhadap 11 warga sipil yang tewas dalam kerusuhan 20 dan 21 Mei serta 52 mahasiswa yang gugur dalam unjuk rasa sepanjang 2019, tidak ada empati dari istana. Tragisnya, terhadap 894 petugas KPPS yang meninggal pun, tiada atensi serius dari istana. Padahal mereka inilah yang mengantar Jokowi dan KH Ma’ruf Amin menduduki istana saat ini. Wapres itu seorang ulama, bahkan Ketua MUI. Apakah karena bukan lagi ketua MUI sehingga keulamaannya juga ditinggalkan.???

Reza, Pemuda Buta Huruf

       Polisi menembak enam warga sipil di tol Jakarta – Cikarang, KM50, 7 Desember, dinihari. Polisi mengatakan, tindakan itu sebagai reaksi atas tembakan yang dilakukan pengawal HRS. Maknanya, Reza dan kawan-kawannya menembak petugas lebih dahulu. Logikanya, mereka membawa senjata api. Beberapa indikator dan fakta, membuat tuduhan polisi tersebut, sumir, bahkan ‘unlogic.’

Pertama, bagaimana Reza yang hanya kelas dua SD, bisa punya senjata api.? “Kalau pun punya HP, dia hanya gunakan untuk terima panggilan telepon,” jelas kakaknya. Bahkan, dia hanya kirim gambar-gambar atau meme yang ada di HP-nya ke orang lain. Reza, tidak sendirian sebagai orang yang buta huruf. DKI Jakarta, ada 0,10% mereka yang berumur 15 – 44 tahun, buta huruf. Papua misalnya wajar jika masih ada penduduk (usia 15 – 44 tahun) yang buta huruf, sebanyak 20,32%. Tahun 2020, secara nasional, penduduk yang wajib belajar (15 tahun), ada 4% tanpa pendidikan. Mereka yang berumur di atas 44 tahun, 9,6% buta huruf.

Kedua, jika benar ada tembak menembak, barang bukti apa yang dipunyai polisi untuk mengatakan, enam warga sipil ini punya senjata. Kapolda Metro Jaya dalam konprensi pers menunjukkan senjata yang dimiliki pengawal HRS. Pertanyaannya, apakah ada sidik jari pemilik.? Bagaimana dipercaya, senjata tersebut milik pengawal HRS sementara tidak ada ‘police line.’? Bahkan, TKP di arena istirahat KM50 itu dibongkar. Mengapa mereka yang berada di lokasi tersebut diperintahkan untuk menghapus foto-foto yang mengabadikan kejadian waktu itu.? Harapan kita, pihak-pihak terkait, baik TP3, Polri, Kejaksaan Agung, maupun ICC (International Criminal Court) melakukan uji balistik, autopsi ulang oleh lembaga independen, serta investigasi mendalam sehingga semuanya terang benderang.

Ketiga, jika benar ada tembak menembak, polisi harus memberi barang bukti, antara lain berupa: tanda atau bekas di mobil polisi yang tertembak, anggota tubuh polisi yang tertembak serta saksi mata yang melihat peristiwa tersebut.

Keempat, di belakang KTA anggota FPI, tertulis larangan bagi setiap anggota memiliki senjata api maupun senjata tajam. Keempat indikator ini mengusik rasa keadilan bagi mereka yang masih punya nurani untuk menuntut kasus pembunuhan enam warga sipil ini dibawa ke Pengadilan HAM agar semuanya terang benderang.

Reza, Hansip Berhonor Rp. 100.000

Polisi atau Komnas HAM menganggap pengawal HRS memiliki senjata api. Mungkinkah Reza yang honornya Rp. 100 ribu per bulan tersebut mampu membeli senjata.? Reza dan tiga kawannya juga menjadi tukang parkir di tempat ibadah orang India. Hasil parkir yang diperoleh sebulan sebesar Rp. 400 ribu. Reza dan ketiga rekannya, masing-masing mendapat Rp. 100 ribu. Maknanya, total penghasilan Reza sebulan, Rp. 200 ribu. Logiskah dengan penghasilan itu, seseorang bisa membeli senjata.

Katakanlah, senjata itu disediakan oleh pihak lain. Siapa.? FPI, musuh negara atau aparat sendiri. ? Siapa musuh negara yang mencolok.?

Informasi yang saya peroleh ketika di KPK, koruptor itu punya tiga kekuatan: uang, geng, dan senjata. Jika eksistensinya terusik, maka satu, dua atau ketiga kekuatan tersebut digunakan. Kasus yang mengorbankan mantan Ketua KPK, Antasari Azhar menjadi bukti bahwa, senjata digunakan untuk melindungi seseorang atau suatu Lembaga yang terlibat korupsi. Apa hubungan FPI dengan koruptor.? Bukankah FPI sering merazia rumah bordil, tempat perjudian, dan penjual minuman keras.? Siapa pemilik ketiga usaha tersebut.? Seribuan koruptor yang ditangkap KPK, 70% kasus berkaitan dengan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah (PBJ). Pelakunya adalah pejabat negara dan pengusaha hitam. Mungkinkah senjata yang dituduhkan milik laskar FPI itu adalah rekayasa intelijen pengusaha hitam guna menjebak atau menjadikannya alibi dilakukan pembunuhan, penangkapan atau pembubaran ormas.? Di sinilah pentingnya keterlibatan mereka yang waras, jujur, dan beriman.

Reza Mau Beli Rumah Untuk Ibunya

Pagi hari, Reza membantu ibunya, menyuci beras. Ibunya setiap hari menjual nasi guna menghidupi diri dan anak-anaknya. Reza juga tidak tega melihat ibu dan dua kakak perempuannya, tidur berdempetan seperti ikan sarden di ruangan yang layak sebagai kandang burung tersebut.  Reza dan abangnya, Mustofa, tidur di lantai atas. Rumah itu tidak ada kamar tidur. Ruang tamu merangkap ruang keluarga, tempat makan, sekaligus kamar tidur. “Reza akan belikan rumah untuk mak.”  Itulah janji yang pernah diucapkan Reza ke ibunya, beberapa waktu lalu sebelum dibunuh polisi. Abang dan kakak-kakaknya gelak mendengar pernyataan tersebut. Wong kerjanya cuma sebagai Satpam, kok mau beli rumah. Faktanya, janji Reza terealisasi, beberapa hari setelah dia meninggal dunia. Kok bisa ?

Mustofa, abangnya Reza mengisahkan, setelah adiknya meninggal, sumbangan dari pelbagai pihak mengalir. Terkumpul sejumlah uang yang digunakan untuk membeli sebidang tanah di Cibinong. Luas tanah, 78 meter persegi seharga Rp. 153 juta. Mungkin keadaan ini yang mendorong Jokowi membentuk wakaf uang. Namun, menurut Imam Syafi’i, wakaf uang, haram hukumnya.

Bagaimana biaya pembangunan rumah ibunya Reza.? Saya tidak tega untuk menanyakan hal tersebut ke saudaranya Reza. Biarlah FPI, Penasihat Hukum atau dermawan muslim (bukan pejabat dan koruptor) yang menyelesaikannya. Sebab, saya bukan orang yang menghina Islam, menghajar dan memenjarakan ulama, ustadz, dan aktivis muslim, lalu  memeras uang mereka. Sebab, Wapres mengatakan, pemerintah tidak sengaja menggunakan dana haji untuk pembangunan infra struktur. Persis, seperti JPU menuntut Penyiram air raksa ke wajah Novel Baswedan dengan tuntutan setahun karena mereka tidak berniat jahat. Mudah-mudahan vaksin corona dan pembunuhan enam pengawal HRS tidak bermasalah seperti penggunaan dana haji dan wakaf uang di atas. Semoga !!!

Depok, 1 Februari 2021

Abdullah Hehamahua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pendukung Jokowi Mulai Merapat ke Anies

SUARA TANGERANG – 2024, periode Jokowi selesai. Kepemimpinan bangsa bergilir, dan harus berganti melalui mekanisme ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com