Lutfi Hakim, Pelatih Bola, Dibunuh Polisi

SUARA TANGERANG – Hujan mengguyur kawasan kecamatan Cengkareng ketika kami meninggalkan rumah Andi Oktiawan. Destinasi terakhir kami malam itu, rumah Lutfi Hakim. Lutfi, korban keenam yang dibunuh polisi dalam  tragedi KM50 yang kami datangi. Sama dengan kelima korban sebelumnya, tidak ada parkiran di lingkungan rumah Lutfi. Satu-satunya tempat yang ada adalah masjid. Di masjid Assolihul Hamidiyah, bilangan Jakarta Barat itulah mobil diparkir.

Rumah milik orang tua Lutfi, relative ‘lumayan’ dibanding lima lainnya. Namun, ruang tamu, sama saja, sederhana. Luasnya, 9 meter persegi. Luas rumah 49 meter persegi. Tidak ada perabot dan gambar di dinding ruang tamu. Kualitas rumah ini ‘lumayan’ karena Daenuri (49) sang ayah, seorang tukang. Hasilnya, Daenuri dapat “oprak aprik” rumahnya sendiri. Namun, statusnya hanya sebagai buruh harian lepas di proyek bangunan.

Buruh harian adalah pekerja yang tidak mendapat gaji bulanan seperti ASN. Perusahaan swasta punya karyawan tetap yang memeroleh gaji bulanan, tapi ada pula yang harian.  Buruh harian, jika tidak masuk kerja, upah hari itu, hilang. Buruh harian lepas, pekerja diajak perusahaan jika tenaganya diperlukan. Jika tidak diperlukan, buruh lepas tinggal saja di rumah. Dampaknya, tiada penghasilan hari itu.

Daenuri, menerima Rp. 130 ribu sehari kalau dia diajak bekerja di proyek tertentu. Daenuri, satu dari jutaan buruh lepas di Indonesia. Bahkan, Indonesia tergolong salah satu negara di dunia yang paling banyak pekerja lepas. Buruh lepas seperti Daenuri tidak termasuk dalam 3,5 juta orang yang dirumahkan atau terkena PHK, buntut pandemi virus China. Konsekwensinya, pengangguran di Indonesia berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, pertengahan 2020, sebanyak 10,3 juta orang. Buntutnya, angka orang miskin bertambah 0,56% dari jumlah sebelum pandemik virus China.  Angka itu menurut kriteria BPS yakni yang dimaksud orang miskin adalah mereka yang penghasilannya kurang dari satu dollar AS. PBB menetapkan, orang miskin adalah mereka yang penghasilannya kurang dari dua dollar AS sehari. Jika kriteria PBB yang digunakan, diperkirakan hampir separuh rakyat Indonesia, miskin.

Pertanyaan yang mengusik, apakah dalam keadaan pandemi, pengangguran, dan tiada penghasilan rutin, Daenuri mampu memberi duit ke Lutfi untuk membeli pistol.? Bagaimana dengan Khadavi yang untuk membeli gorengan saja, kongsi dengan kawannya.? Begitu pula Muhammad Sofiyan, pemilik ijazah paket C SMP di mana ibunya seorang janda, penjual gorengan, bisa punya pistol. Bagaimana dengan Faiz yang cita-citanya mau membiayai sekolah kedua adiknya, berpikir untuk membeli pistol.  Apakah Andi Oktavian, pekerja serabutan yang lebih banyak berperilaku sebagai pekerja sosial sementara ibunya seorang janda, pejaga anak tetangga, mampu membeli pistol.? Apalagi Reza, hansip yang tinggal di “kandang burung” dengan ibu seorang janda, penjual nasi, mampu memiliki pistol.?. Di sinilah pentingnya TGPF dibentuk presiden. Jika tidak, Petisi Rakyat yang diterbitkan Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) Enam Laskar FPI di KM50 harus dijadikan rujukan Presiden dalam pengambilan kebijakan selanjutnya.

Lutfi, Pelatih Bola

Lutfi, tamatan SMA. Umurnya 25 tahun. Calon isteri pun belum. Maklum, untuk menghidupi diri sendiri pun, masih belum mampu. Adiknya, Abdul Wahab (17) masih duduk di SMA. Ibunya, Neneng Hayati (47) hanya seorang ibu rumah tangga.

Lutfi biasa menjadi pengemudi ojek online. Menurut ayahnya, dalam sepekan, paling dua atau tiga kali dapat pelanggan. Hasilnya, tidak seberapa. Apalagi, musim virus China. Hasil ojek online digunakan untuk servis motorya dan keperluan sehari-hari. Pasti jauh dari cukup. Namun, Lutfi cukup kreatif. Dia mencari tambahan penghasilan yang halal. Tidak seperti mantan Mensos, Menteri Kelautan dan Perikanan, ratusan Kepala Daerah, dan anggota legislative yang “ngembat” uang rakyat.

Lutfi kreatif dengan cara melatih remaja di lingkungannya, main bola. Dia melatih remaja yang berusia 10 – 15 tahun, dua kali sepekan. Honornya Rp. 50 ribu per latihan. Maknanya, penghasilan Lutfi, Rp.100 ribu sepekan atau Rp.400 ribu sebulan. Profesinya ini menjadikan Lutfi pernah ikut dalam pertandingan bola tingkat kelurahan, kecamatan, bahkan sampai DKI liga lokal. Pertanyaan serius, apakah pemuda yang aktif di masyarakat serta mendukung program pemerintah di bidang olahraga, dapat menjadi seorang teroris.? Apakah dengan penghasilan Rp. 400 ribu sebulan, Lutfi dapat membeli pistol seperti yang dituduhkan polisi.? Padahal, uang sejumlah ini cukup untuk sekali makan pejabat di restoran mewah.

Pejabat Indonesia, memang tidak sama dengan petinggi di luar negeri. Menteri Lingkungan Hidup Prancis, Francois de Rugy misalnya, mundur dari jabatannya hanya karena dituduh makan hidangan lobster di restoran, menggunakan dana APBN.  Bahkan PM Jepang, Shinzo Abe, mengundurkan diri karena tuduhan menggunakan dana APBN untuk makan malam dengan rekan-rekan sepertainya. Bandingkan dengan acara ngunduh mantu Jokowi di Medan di mana ada 22 kereta kuda, tujuh di antaranya dibawa langsung dari Solo guna menyemarakkan acara tersebut. Memang, semua itu uang pribadi. Namun, apakah presiden tidak punya ‘sense of crisis’ terhadap puluhan juta rakyatnya yang pagi sarapan, malam tidak ada yang dimakan.? Apalagi, menurut Muhammad Fauzi, EO pelaksana acara di Medan itu, dibayar sekitar Rp. 30 juta. Jumlah itu sama dengan 75 bulan honor Lutfi. Mungkin mantu presiden ini berhitung, ‘penghasilan’ menjadi Wali Kota Medan nanti, ribuan kali lipat dibanding 30 juta rupiah.

Lutfi Minta Keikhlasan Orang Tua

Lutfi, menurut Daenuri, rajin shalat. Dia juga sopan serta ramah terhadap kawan-kawan dan tetangganya. Daenuri membanggakan perilaku Lutfi sebagai hasil gemblengannya selama 25 tahun. Daenuri paham, menurut Nabi Muhammad, senyum dan ramah terhadap orang lain adalah ibadah. Berlaku baik dan ramah terhadap tetangga juga merupakan sunnah Nabi Muhammad. Maklum, Daenuri pernah mondok di pesantren selama enam tahun. “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” bunyi peribahasa Melayu. Maksudnya, bagaimana ayah, begitulah anak. Inilah yang tidak disadari, mengapa ratusan kepala daerah dan anggota legislative, ditangkap KPK. Sebab, mayoritas mereka adalah anak pejabat dan pengusaha pada jaman orde baru yang sarat KKN.

Daenuri, selain tamatan pesantren, aktif di kepengurusan RT. Wajar jika beliau memahami hakikat Pancasila dan UUD 45. Daenuri menyadari, sila pertama Pancasila, ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ menunjukkan, Indonesia adalah negara tauhid. Bukan negara kapitalis, apalagi komunis. Daenuri mendidik anak-anaknya rajin shalat dan berperilaku baik karena pasal 29 ayat (2) UUD 45 menyebutkan negara menjamin warga negara untuk memeluk agama dan melaksanakan syariat agamanya. Namun, pemerintah atau pejabat menuduh orang yang rajin ke masjid, menggunakan jilbab, ikut majelis taklim, serta celana cingkrang sebagai radikal dan intoleran.?  Mungkin presiden, wakil presiden, menteri dan para pejabat, kurang memahami hakikat dan filosofi Pancasila dan UUD 45. Mereka pula menuduh umat Islam yang melaksanakan perintah sila pertama Pancasila dan pasal 29 UUD 45 sebagai anti NKRI.

Mereka yang menuduh tersebut, ahistoris, tidak belajar sejarah dari sumber aslinya. Mereka hanya belajar dari sejarah yang ditulis penjajah dan apa yang dikampanyekan PKI. Mereka pura-pura lupa bahwa, NKRI itu adalah hasil perjuangan Masyumi yang dikenal dengan Mosi Integral Mohammad Natsir. Ketua Fraksi Mayumi ini pada 3 April 1950 mengajukan mosi integral agar negara-negara boneka buatan penjajah, bersatu dalam NKRI. Presiden Soekarno sangat berterima kasih ke Mohammad Natsir sehingga menunjuknya sebagai Perdana Menteri pertama NKRI. Halo pak Jokowi ! Mau tau sejarah Indonesia sebenarnya.? Jumpailah Pimpinan dan anggota TP3, baik di istana maupun di luar istana. Kita bisa mengurai benang kusut bangsa ini, sebelum semuanya dipanggil pulang ke kampung halaman abadi melalui kenderaan: KEMATIAN.

“Apa yang paling mengesankan bapak dari Lutfi,” tanyaku ke ayahnya Lutfi via WA.  “Dia taat ibadah, rajin mengaji, tinggi bersosial dengan tetangga, senyum sama siapa pun, orang tua maupun anak-anak dan teman, rajin membantu kegiatan, baik yang bersifat keagamaan maupun kemasyarakatan,” jawabnya. Terakhir, “ketika sudah di Petamburan, Kamis, 3 Desember 2020, dia WA ke saya, minta ridha dan keikhlasan kami terhadap dirinya.”  Daenuri mengakhiri WA-nya.

Itulah pesan terakhir Lutfi Hakim sebelum dibunuh polisi, 7 Desember 2020, diihari di tol Jakarta – Cikarang, KM50. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin !!!

 

Depok, 8 Februari, 2021

Abdullah Hehamahua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pendukung Jokowi Mulai Merapat ke Anies

SUARA TANGERANG – 2024, periode Jokowi selesai. Kepemimpinan bangsa bergilir, dan harus berganti melalui mekanisme ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com