Kajian UNICEF, UNDP, SMERU tentang dampak pandemi di daerah bencana tunjukkan banyak kerentanan

Jakarta, SUARA TANGERANG – Lebih dari 85 persen responden di komunitas yang dilanda bencana di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat mengalami ‘beban ganda’ kerugian ekonomi akibat pandemi COVID-19, menurut survei cepat UNICEF , UNDP dan SMERU Research Institute yang diluncurkan hari ini.

Lebih dari 800 rumah tangga di dua provinsi tersebut disurvei antara bulan Juli dan Agustus 2020 dalam kajian cepat berjudul “Dampak sosial ekonomi pandemi COVID-19 di daerah pascabencana”. Studi tersebut menganalisis dampak sosial ekonomi pandemi dan gempa bumi 2018 yang melanda kedua provinsi tersebut.

Area fokus studi ini adalah Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat, serta Kabupaten Sigi dan Palu di Sulawesi Tengah. Studi ini meninjau kondisi pendapatan dan keuangan, akses kesehatan dan pendidikan, serta kesadaran masyarakat dalam mengakses bantuan pemerintah.

“Survey ini mampu menggali akar masalah yang terjadi di masyarakat,” ujar Gubernur Nusa Tenggara Barat, Zulkieflimansyah dalam kata sambutan nya di acara peluncuran laporan.

“Terimakasih kepada UNDP dan UNICEF atas survey Dampak Sosial Ekonomi.  Hasil survey akan menjadi rujukan dalam Penyusunan program dan membangun sinergi dengan berbagai pihak,  khususnya dengan UNDP dan UNICEF,” imbuh Bapak Zulkieflimansyah.

“Temuan studi mengkonfirmasi pengamatan awal kami bahwa kelompok terentan di Indonesia adalah yang paling terdampak, terutama akibat bencana alam baru-baru ini. Terlepas dari tantangan yang semakin meningkat, survei kami menunjukkan bahwa banyak komunitas yang terkena dampak ingin segera melewati bencana dan membangun kembali kehidupan mereka, dan menunjukkan ketahanan yang kuat. Kami harap studi ini akan memberikan bukti yang sangat dibutuhkan bagi Pemerintah Indonesia untuk mengatasi dampak pandemi yang dapat menyebabkan kemunduran terhadap pencapaian pembangunan manusia dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang diperoleh dengan susah payah,” kata Sophie Kemkhadze, Deputy Resident Representative UNDP Indonesia.

Studi tersebut juga menemukan bahwa anak-anak di daerah yang dilanda bencana menanggung beban pandemi. 21,8 persen rumah tangga mengalami kesulitan mengakses layanan pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak mereka.

“603 keluarga yang disurvei kehilangan pendapatan yang signifikan pada tahun 2020, dan berisiko tinggi jatuh ke dalam kemiskinan. Anak-anak mereka berisiko kehilangan akses ke nutrisi yang baik dan kebutuhan dasar lainnya. Program perlindungan sosial yang berfokus pada anak yang dipimpin oleh pemerintah dapat membantu mengurangi kemiskinan anak,” kata Fernando Carrera, Chief of Social Policy UNICEF Indonesia.

Studi tersebut menemukan 65,7 persen rumah tangga berpenghasilan kurang dari Rp 1 juta per bulan melaporkan kehilangan pendapatan setelah bencana alam tahun 2018. Kehilangan pekerjaan juga cukup merajalela. 66,4 persen rumah tangga dalam kelompok pendapatan yang sama melaporkan kehilangan pekerjaan, menunjukkan rumah tangga tersebut rentan secara ekonomi dan cenderung terkena dampak bencana.

Perempuan telah mengalami dampak negatif yang signifikan – 83,9 persen mengindikasikan bahwa mereka memperoleh pendapatan yang lebih rendah di bulan Juni dibandingkan dengan awal tahun 2020.

Meskipun lebih dari 40 persen rumah tangga melaporkan menerima bantuan pemerintah – baik dalam bentuk tunai atau bantuan pangan – 47 persen rumah tangga tidak menerima bantuan langsung tunai dan 40,9 persen tidak menerima bantuan sosial pangan.

“Kajian bersama ini menunjukkan bahwa perubahan – atau bencana – mempengaruhi rumah tangga secara berbeda. Mereka yang berada dalam kelompok berpenghasilan rendah, rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan, rumah tangga dengan anak-anak dan penyandang disabilitas sangat rentan. Dengan sumber daya yang terbatas, sistem pendukung eksternal harus memastikan mata pencaharian rumah tangga rentan tersebut. Kami harap studi ini dapat menjelaskan isu-isu yang perlu ditangani untuk melindungi rumah tangga rentan dari dampak bencana di masa depan dan menguatkan ketahanan mereka,” kata Asep Suryahadi dari SMERU Research Institute.

Studi ini mengusulkan empat poin utama; (i) Pemerintah harus bekerja dengan pemerintah desa dan anggota masyarakat lokal untuk mendokumentasikan rumah tangga rentan dan menyalurkan bantuan; (ii) Melibatkan pemerintah desa dan anggota masyarakat setempat untuk mendukung praktik pendidikan; (iii) Mendukung penyedia layanan kesehatan dan petugas kesehatan untuk memastikan layanan kesehatan dasar dapat diakses dan (iv) Memprioritaskan program pemulihan di daerah termiskin agar dampak yang ditimbulkan oleh pandemi COVID-19 dapat diminimalisir atau bahkan dihindari. (1st/*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pacu pembentukan herd immunity, BPJS Ketenagakerjaan teruskan program vaksinasi bagi pekerja

Tangerang, SUARA TANGERANG – BPJS Ketenagakerjaan atau BPJAMSOSTEK terus menggalakkan vaksinasi bagi pekerja sebagai upaya ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com