Sempat jadi polemik, desain pembangunan Tugu Pamulang akan disesuaikan dengan selera publik

Kota Serang, SUARA TANGERANG – Polemik seputar Tugu Pamulang yang terletak di Jalan Siliwangi, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), akhirnya sampai juga ke telinga Gubernur Banten Wahidin Halim.

Gubernur yang akrab disapa WH ini pun ikut angkat bicara soal polemik tugu yang oleh netizen disebut mirip ‘toren air’ itu . Lewat press release khusus yang dipublis di Website Remsi Pemerintah Provinsi Banten, WH menegaskan bahwa sebenarnya Tugu Pamulang tersebut sudah rampung dibangun oleh Pemprov Banten pada Tahun Anggaran 2018 lalu. Kendati demikian, untuk memenuhi keinginan publik, perubahan pada bentuk tugu tersebut, gambar dan desainnya akan disayembarakan secara terbuka sesuai ketentuan yang berlaku.

Gubernur WH didampingi Kepala DPUPR Provinsi Banten Tranggono dan jajaranya menjelaskan, dalam rangka menanggapi berbagai isu, dan utamanya adalah isu tentang ‘Tugu Pamulang’ di Kota Tangsel yang menimbulkan polemik atau diskusi yang di dalamanya berisikan kritik dan lain sebagainya Pemprov Banten akhirnya mengambil sikap untuk merevitalisasi keberadaan tugu tersebut.

“Setelah saya menggali persoalan, mempelajari  tentang latar belakang dan lain sebagainya, perlu saya tegaskan bahwa pembangunan tugu atau menara itu dibangun tahun 2018 dan sudah dinyatakan selesai final.  Tugu itu dibangun dengan latar belakang dan pertimbangan, karena sebelumnya lokasi itu kumuh. Ada baliho yang rusak, miring, dan di bawahnya juga banyak sampah-sampah,” ungkap Gubernur WH di Rumah Dinas Gubernur Banten Jalan Ahmad Yani No.158, Serang, Sumur Pecung, Kecamatan Serang, Kota Serang, Kamis (15/4) minggu lalu.

“Dalam rangka revitalisasi sehingga salah satu konsep penanganannya yaitu dengan membangun tugu, yang merupakan lahan milik Pemerintah Provinsi Banten,” tambahnya.

Kedua, lanjut Gubernur, sekarang terjadi perbedaan soal Tugu Pamulang yang telah selesai dibangun 2018 tersebut, namun pihaknya meyakini bahwa bangunan tersebut merupakan simbolisasi dan juga melatarbelakangi tentang suatu kondisi.

“Bagaimana mengkolaborasi simbol-simbol yang ada, seperti di sana terdapat Pusat Penelitian Ilmu dan Teknologi (Puspitek) dan tiangnya yang menggambarkan tentang kondisi enam (6) kecamatan yang ada di Kota Tangerang Selatan. Tentunya ada pertimbangan-pertimbangan filosofis yang perencana sendiri bertanggung jawab terhadap hasil dari perencanaan secara teknis,” paparnya.

“Jadi saya ingin katakan pembangunan sudah selesai. Kalaulah itu menimbulkan ketidakpuasan di masyarakat, itu merupakan hak masyarakat. Kalaulah itu menimbulkan opini, itu juga hak demokratis. Kalaulah itu memang diperlukannya ada perubahan tentunya itu butuh pertimbangan dengan kondisi anggaran yang ada di Pemerintah Provinsi Banten,” tambah Gubernur.

Kalaupun mau dibangun lagi, lanjutnya, konsepnya bukan berdasarkan dari Pemerintah Kota Tangsel atau siapapun, melainkan dari publik.

“Ya sudah sayembarakan sekalian, kita undang publik. Menurut publik mana yang bagus silakan desain. Kita sayembarakan nanti melalui proses sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ungkap Gubernur.

“Tapi sementara ini kita pastikan bahwa itu sudah final, sudah jadi. Yang kita lakukan, kalaupun diperlukan perubahan sesuai dengan selera publik atau karena perbedaan pendapat secara demokratis. Hari ini saya umumkan sayembara, siapa punya gambar dan desain yang bagus berdasarkan pertimbangan estetika arsitektur, kami tunggu,” pungkasnya. (1st/*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Perketat kriteria, PPKM Mikro di Banten kembali diperpanjang hingga 19 April 2021

Kota Serang, SUARA TANGERANG – Gubernur Provinsi Banten, Wahidin Halim kembali memperpanjang Pemberlakuan  Pembatasan Kegiatan ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com