Catatan 11 Ramadhan 1442 H: Umat Tanpa Agenda Bersama

SUARA TANGERANG – Umat Islam di Indonesia, seberapa besar dan seberapa kuatkah menurut pembaca?

Bila neracanya dari aspek penguasaan ekonomi, kekuatan umat Islam Indonesia tentu tidak sebanding dengan populasinya sebagai yang terbesar di dunia. Harusnya tidak ada keluhan tentang Mayoritas Terpinggir dan Lemah.

Produksi barang dan jasa, distribusi, dan finansial, hingga kekuasaan terhadap buruh sebagai operator produksi, warna dan aspirasi umat Islam Indonesia tidak signifikan sama sekali. Jangan kata pada jaringan pengusaha besarnya. Umat Islam di Indonesia hanya puas sebagai konsumen, pasar dan operator usaha di lapangan.

Tulisan ini tidak dimaksudkan mencari faktor-faktor penyebab mengapa hal aneh itu bisa terjadi.

Suatu ketika, kami bertukar pikiran dengan seorang Kyai di Bekasi. Kami lontarkan, bahwa salah satu penyebab lemahnya aspek ekonomi dan politik umat Islam di Indonesia, yaitu tidak adanya agenda bersama yang diakui, diperjuangkan oleh ratusan komponen umat Islam. Padahal rumusan agenda bersama yang menyatukan antar kepentingan kelompok umat Islam, gampang sekali diusahakan rumusannya.

Apa itu? Agenda peningkatan taraf kemandirian kesejahteraan dan pendidikan umat Islam Indonesia. Kita meloloskan banyak institusi dan otoritas terkait umat Islam, seperti Kementerian Agama, Badan Wakaf Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional, hingga Badan Pengelolaan Keuangan Haji, hal mana uang dan modal yang berasal dari umat Islam menumpuk dan tersebar di berbagai bank dan saluran investasi, yang return dan faedah finansialnya tidak sepenuhnya memusat kepada umat Islam.

Demikian banyaknya institusi terkait dengan umat Islam, namun tidak terkonsolidasi dengan baik, dan hanya memperkaya segelintir orang dan malah yang diperkaya, malah umat bukan muslim.

Kementerian agama, seyogyanya memiliki misi konsolidasi modal ekonomi, modal SDM dan potensi kekuatan positif umat Islam. Sayang sekali, belakangan seolah mengalami disorientasi.

Memang tidak menutup kemungkinan ada banyak pihak yang tidak happy jika umat Islam mandiri secara ekonomi. Walhasil situasi parasit dan korup terhadap modal umat Islam, senantiasa berlangsung dan dijaga. Wallahua’lam bishshowab.

Ditulis Oleh: Syahrul Efendi Dasopang, Sekjen ISQI

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pendukung Jokowi Mulai Merapat ke Anies

SUARA TANGERANG – 2024, periode Jokowi selesai. Kepemimpinan bangsa bergilir, dan harus berganti melalui mekanisme ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com