Bumbu Rendang dan Konsistensi Seorang Pemimpin

SUARA TANGERANG – Siapa yang tak kenal rendang. Menu makanan gurih khas Sumatera Barat. Meski di Jawa, rendang juga sudah familier dan menjadi menu setiap hari. Di Warteg, di rumah makan Padang, atau sejumlah warung makan di pasar, rendang tersaji.

Ada cerita sederhana dalam kunjungan Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta ke pasar Kopro (8/5). Sidak pasokan sembako jelang lebaran, stabilitas harga dan terutama prokes. Soal yang terakhir ini menjadi hal yang merepotkan pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Di tengah kunjungannya, Anies diberi hadiah “bumbu rendang” oleh salah seorang pedagang pasar. Harga 10 ribu rupiah satu bungkusnya. Anies sadar, dia seorang pejabat. Pantang seorang pejabat menerima hadiah.

“Wah, jangan bu, nanti bahaya. Saya bisa diperiksa KPK” ujar Anies serius. Anies pun membeli dua bungkus, dan membayar 20 ribu rupiah. Anies minta diganti bungkusnya dengan kertas. Anies berpesan kepada pedagang bumbu rendang agar tidak lagi menggunakan bungkus plastik sekali pakai.

Cerita sederhana, dan terkesan remeh temeh serta spontanitas. Tapi bukan jalan ceritanya yang ingin diungkap, namun makna dan pesan nilai dari cerita sederhana ini yang mesti kita tangkap.

Pertama, seorang pemimpin mesti merakyat. Ciri merakyat itu mendekat dan bicara dengan bahasa rakyat. Santun, menghargai dan lebih menggunakan cara persuasif. Bukan melulu normatif kartika rakyat lalai atau melakukan kesalahan.

Kedua, menolak hadiah dari rakyat, karena pemimpin sudah digaji dengan pajak dari rakyat. Di negara demokrasi, pemimpin bukan raja yang bebas menerima hadiah dari rakyatnya. Ini cara feodal yang lama sudah ditinggalkan.

Meskipum itu rendang seharga 10 ribu rupiah, tetap rentan gratifikasi. Pemimpin itu melayani, bukan dilayani. Pemimpin itu memberi hadiah, bukan memburu hadiah. Pemimpin itu mengayomi, bukan membebani.

Ketiga, soal konsistensi. Pergub No 142 Tahun 2019 mewajibkan supermarket, pasar tradisional dan sejenisnya menggunakan bungkus dan kantong ramah lingkungan. Pemimpin mesti konsisten dengan aturan yang dibuatnya sendiri. Cara ini akan memberi keteladanan. “Lain kali jangan pakai plastik sekali pakai lagi ya bu. Sudah gak boleh”, kata Anies. Memang masalah kecil, tapi ini soal komitmen terhadap aturan. Anies yang mengeluarkan aturan, maka ia harus menjalankan aturan itu. Ini namanya konsisten.

Seorang pemimpin yang tidak bisa komitmen dengan urusan yang kecil, maka sulit baginya untuk bisa komitmen dengan urusan yang lebih besar. Pemimpin yang tak mampu konsisten dengan hal kecil, sulit baginya konsisten dengan hal besar. Ini rumus. Dari hal kecil ini, seorang pemimpin akan diukur komitmen, konsistensi dan integritasnya.

Tangsel, 9 Mei 2021

Ditulis Oleh: Mang Udin

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

76 Tahun Merdeka, Indonesia Makin Terpuruk

SUARA TANGERANG – Usia 76 tahun, seseorang menikmati masa tuanya. Begitu seharusnya Indonesia. Namun, Indonesia ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com