Buya Hamka, Lukisan Abstrak, dan Komando Jihad

SUARA TANGERANG – Tahun 1971, di kota Angin Mamiri, Makassar. Buya Hamka, bersafari dakwah. Sebagai jurnalis muda, saya mengikuti safari dakwahnya selama beliau di Makassar. Sekali waktu, jamaah bertanya tentang masalah-masalah khilafiyah. Buya menjawab dengan ilustrasi “lukisan abstrak” yang laku sekalipun Pembeli tidak mengerti makna dari gambar tersebut. Buya Hamka adalah tokoh Masyumi pertama yang saya bertemu muka. Berdialog secara langsung. (Artikel ini merupakan seri pertama mengenai pengenalan saya dengan tokoh-tokoh Masyumi).

Lukisan Abstrak
“Apakah saudara pernah melihat pameran lukisan abstrak,” tanya buya. Jamaah mengangguk. “Saudara ngerti apa yang dijelaskan Pelukis tentang lukisannya,?” buya menimpali lagi. Sesaat, jamaah terdiam. Bingung ! Mereka menggeleng kepala. Tersenyum, malu-malu. Buya melanjutkan pertanyaan. “Ada yang beli,?” “Ada,” jawab jamaah, serentak. “Mahal atau murah,” tanya buya dengan pandangan tajam. Serius !.”Mahal.” Jamaah menjawab serempak dengan suara keras.

Saya belum menangkap maksud buya dengan ilustrasi lukisan abstrak dalam kaitannya dengan masalah khilafiyah. Buya, dengan wajah teduh, senyum, sambil memegang janggut tipisnya, berujar: “Pembeli tidak mengerti apa yang dijelaskan Pelukis tentang filosofi lukisannya. Namun, ada kontak batin di antara lukisan dengan dirinya. Dia tertarik dengan lukisan itu. Ada ‘connection’ di antara mereka.” Buya berhenti sebentar. Saya baru menduga-duga, kaitan lukisan abstrak dengan masalah khilafiyah. Padahal saya sudah ikut LK2 HMI Makassar. Saya pun sudah baca Capita Selekta-nya Abah Natsir. Mungkin waktu itu saya belum baca Fiquh Dakwah-nya. Kalau tidak salah, di dalam penjara Karebosi, Makassar selama dua tahun itulah, saya melahap semua buku karya mujahid Islam.

“Jadi, jika saudara punya ‘conection’ dengan bacaan basmalah secara sir atau zahar, amalkan. Kalau saudara merasa nyaman membaca qunut, silahkan. Prinsip yang harus dipegang, amalan tersebut harus ada dasar hukumnya, baik berupa ayat Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi. Haditsnya yang sahih ya ?.” Jamaah mengangguk. Mereka puas. Sejak itu, jawaban buya Hamka ini selalu kujadikan argumentasi ketika terlibat dalam perdebatan, baik berkaitan dengan ibadah ubudiah maupun amalan mumalah. Amalan itulah antara lain yang saya terapkan ketika menjadi guru SMA Kristen Makassar. memimpin HMI, serta menjabat Sekretaris Kelompok Nasi Bungkus, DDII. Bahkan dalam suatu forum dialog Kelompok Sunnah di Malaysia (1987), pola itu saya terapkan. (Di Malaysia, Kelompok Sunnah itu sama dengan Muhammadiyah, Persis, DDII, dan Al Irsyad). Saya sebagai moderator mengatakan, empat imam mazhab menguasai bahasa Arab, hafiz Qur’an dan menghapal ribuan hadis. Faktanya, mereka berbeda dalam beberapa hal. Namun, semuanya berpendapat sama: jika ditemukan hadits yang lebih kuat, buang fatwa mereka. Lalu, apa kompetensi kita untuk mengklaim, paling benar.? “Kalau begitu, untuk apa kita berkumpul di sini,” sanggah seorang peserta.

Kukisahkanlah pengalaman bersama Buya Hamka. Kata saya, jika anda merasa ‘konek’ dengan basmalah secara zahar, lakukan. Andaikan anda lebih ‘konek’ dengan basmalah secara sir, amalkan. Masalah utama, semua amalan itu ada dasar hukumnya yang sahih. Tujuan forum ini, kataku, lahir sikap mengerti, mengapa orang membaca basmalah secara zahar atau hanya dengan sir. Mengapa dia sadakap ketika bangun dari ruku’. Sikap saling mengerti itu akan melahirkan ‘tasamuh’ sesama pemimpin dan jamaah. Kelompok ‘sana’ menggunakan istilah toleransi. Okay, toleransi dalam pengertian, “mengakui,” bukan “mengikuti.”
Pola pikir seperti itu kukembangkan juga ketika mengajar di Akademi Dakwah Muhammadiyah Singapura, menjadi Wakil Ketua Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN), dan Penasihat KPK. Hari ini, ketika mengajar mahasiswa pascasarjana, saya tetap mengamalkan ajaran buya Hamka tersebut.

Dinikahkan Buya Hamka
Tahun 1978, di rumah buya Hamka, saya meminta beliau menikahkanku. “Calon mertua ayahnya sudah tiada.? Paman-pamannya,?” reaksi buya atas permintaanku. Kujelaskan, calon isteriku bernazar, kalau menikah dia mau diijab-kabulkan oleh buya Hamka. Janggut kecil di dagu buya bergoyang pelan ketika mengiyakan permintaanku. Senyum beliau tidak pernah luput.
Jum’at berkah, 30 Juni 1978, ba’da shalat, calon mertua, Hamid Arifin memberi kuasa ke buya untuk menikahkan putri sulungnya, Emma Arifin. Buya menjabat tanganku. Wajahnya tetap senyum sewaktu mengucapkan lafaz ijab kabul. Saya pun langsung menjawabnya, diiringi ucapan ‘aamiin’ oleh belasan anggota keluarga dan fungsionaris PB.HMI. Maklum, waktu itu saya Sekjen PB.HMI.

Aktif di MUI
Tahun 1979, setahun setelah menikah, bersama kawan-kawan PII, PMII, serta ormas pemuda dan mahasiswa Islam tingkat pusat, direkrut menjadi pengurus MUI Pusat. Saya ditempatkan di Seksi Pemuda. Di forum MUI inilah saya sering bertemu dan berkenalan dengan pelbagai tokoh umat, baik dari kalangan Muhammadiyah, NU, Persis, Syarikat Islam, Alwasliyah, Al Irsyad, dan lain-lain.
Selama lebih setahun, saya merasakan kehalusan budi, bahasa, dan kebijakan buya dalam mengendalikan MUI, organisasi yang belum hilang samasekali kontroversi atas kelahirannya. Sebagian umat Islam menganggap, MUI adalah perangkap pemerintah dalam mengendalikan semua komponen masyarakat. Hal itu dimulai dengan pembubaran partai-partai politik melalui ‘regrouping.’ Partai-partai Islam (NU, Parmusi, PSII, dan Perti) dilebur menjadi PPP. Partai-partai nonmusim dilebur menjadi PDI. Soeharto sendiri membentuk partainya, Golkar. Anehnya, Golkar disebut bukan partai tetapi bisa menjadi peserta Pemilu.

Tahap berikutnya, disatukan organisasi pemuda dalam bentuk KNPI. Lalu, wanita dalam Kowani, HKTI untuk tani, HNSI bagi nelayan. FBSI bagi buruh dan PWI untuk wartawan. Wajar jika MUI dianggap sebagai wadah ‘regrouping’ bagi ormas-ormas Islam. Reaksi negative masyarakat, MUI pun dinilai sebagai alat pengendalian pemerintah terhadap umat Islam Indonesia.
Di dunia kampus, Menteri Pendidikan Daud Yusuf membubarkan Dewan Mahasiswa. Mahasiswa dikendalikan, baik oleh rektor maupun pemerintah melalui BEM. Organisasi ekstra universiter dilarang aktif di sekolah menengah dan perguruan tinggi. Klimaksnya, Soeharto memaksakan ideologi baru, asas tunggal Pancasila. Reaksinya, lahir Petisi 50 yang melibatkan hampir seluruh tokoh Masyumi. Tantangan-tantangan itu yang membuatku lebih sibuk sebagai Ketua Umum PB. HMI sehingga saya minta ijin, tidak aktif terus di MUI.

Buya dan Komando Jihad
Tanggal 28 Maret 1981. Lima anak buah Imron membajak pesawat GIA, Woyla di Palembang. Pesawat route Jakarta – Palembang – Medan ini diarahkan pembajak ke Bangkok. Tuntutannya, membebaskan tahanan Komando Jihad, baik yang terlibat dalam kasus Warman maupun penyerangan Polsek Bandung. Target lainnya, menuntut 1,5 juta dollar AS. Hasilnya, semua ditembak mati oleh pasukan Kopassus.

Menteri Agama Alamsyah Ratuperwiranegara mengundang pimpinan dan tokoh-tokoh umat Islam tingkat nasional guna memeroleh penjelasan atas apa yang terjadi. Saya turut diundang dalam forum yang sangat terbatas tersebut. Mengagetkan, tokoh yang menjelaskan kronologi peristiwa pembajakan itu, bukan Menteri Agama, tetapi Pangkopkaptib, Laksamana Soedomo.

Susbtansi penjelasannya, Kelompok Imran merupakan mata rantai Gerakan DI/TII sampai ke Komando Jihad, tahun 1971 dan berlanjut ke pembajakan pesawat. Tokoh-tokoh yang hadir, tersinggung dan marah. Sayang, saya tidak ingat lagi para tokoh yang bicara tersebut. Namun, tertanam dalam benakku sampai sekarang, kata-kata buya Hamka. Buya memulai dengan menginformasikan bahwa di Surabaya, umat Islam dilarang menerjemahkan surah Al Ikhlas. Pada momen ini, saya menyaksikan buya memuntahkan kemarahannya. “Jika usaha untuk melawan kezaliman ini disebut sebagai jihad, maka saya siap untuk menjadi Panglima Komando Jihad.” Suasana pertemuan tercekam. Giroh jihadku terbakar.

Giliran saya bicara, kuucapkan dengan lantang, “pak Domo, jika buya Hamka yang sudah sepuh itu saja bersemangat, apalagi saya yang masih mahasiswa.!” Dua hal kusampaikan ke Sudomo waktu itu. Pertama, jika saya seorang dokter dan tidak bisa mengdiagnose penyakit dan menyembuhkan pasien sejak DI/TII, Komando Jihad, sampai dengan pembajakan Woyla, maka saya berhenti sebagai dokter. Kedua, jika saya seorang pejabat inteliejen, tidak kubunuh para pembajak pesawat tersebut. Sebab, akan kukorek rahasia dari mereka, siapa otak gerakan itu dan dari mana pebiyaannya. Faktanya, semua pembajak itu dibunuh.

Jawaban Soedomo, singkat, sederhana dan seakan-akan logis. “Saudara Abdullah, bukankah ajal itu di tangan Tuhan.?” Saya pun terdiam. Hahaha !!!. Namun, yang penting dalam artikel ini, catatan dan kenangan manisku bersama buya Hamka. Bebas mewawancarai beliau berhari-hari ketika di Makassar. Terharu dinikahkan beliau. Belajar bagaimana memimpin orang lain ketika bersama di MUI, sekalipun haya sekitar setahun. Terpicu girah jihad di depan penguasa yang zalim. Last but not least, inilah yang paling mengagumkan saya dari buya Hamka. Beliau memilih mundur dari Ketua MUI daripada harus menarik fatwa haram menghadiri upacara Natal. Simpulannya, tasamuh atau toleran Ketika belum melanggar ‘police line.’ Bersikap tegas terhadap siapa pun ketika keluar dari garis demarkasi. Semoga !!!

Manokwari, 24 Juni 2021

Abdullah Hehamahua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kasman Singodimedjo Naik Bus Kota

SUARA TANGERANG – Tahun 1979 di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Bus kota berhenti di halte ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com