Mohammad Natsir, Bapak Bangsa, Penggagas NKRI: (1) Penasihat Aktivis Islam

SUARA TANGERANG – Masjid Agung Al Azhar, Jakarta, 1980. Akhir Agustus tahun itu, ustadz Ahmad Zainal Abidin Urra menikah. Abah Natsir menyampaikan tausiah pernikahan. Saya saksi dari pihak laki-laki. Sebab, ustadz Abidin, Ketua Umum HMI Cabang Jakarta dan saya Ketua Umum PB.HMI. Selain sebagai tokoh bangsa dan pemimpin umat, abah Natsir adalah atasan ustadz Abidin di DDII, LIPPM, dan Rabithah Alam Islami. Inilah pertama kali saya berhadapan langsung dengan penggagas NKRI, mantan Perdana Menteri, dan Ketua Umum Masyumi ini. (Abah Natsir, tokoh Masyumi keempat yang kujumpai. Kisahnya akan disampaikan dalam beberapa seri).

Capita Selekta
Sejatinya, saya mengenal abah Natsir melalui karya tulisnya. Buku pertamanya yang kubaca, Capita Selekta, 1967, ketika saya baru menghuni Wisma HMI, Jalan Botolempangan 41, Makassar. Buku ini dua jilid. Pertama, mengupas masalah kebudayaan, filsafat, pendidikan, agama, persatuan, dan ketatanegaraan. Ia berasal dari tulisan, pidato, dan wawancara yang direkam sejak 1930 sampai tahun 1940-an. Jilid 2 berupa kumpulan tulisan, pidato, dan wawancara pers beliau (1950 – 1955), sejak terbentuk NKRI sampai hadirnya Kabinet Burhanuddin Harahap.
Jujur, buku ini mengprovokasiku untuk ikut aktif pada setiap unjuk rasa mahasiswa. Apalagi setelah mengikuti training HMI. Itulah sebabnya, saya selalu bersemangat memanjat tiang listrik atau pohon di tepi jalan, malam hari, memasang spanduk. Tidak jarang, kejar-kejaran dengan aparat. Sebab, isi spanduk, macam-macam. Mulai dari tuntutan pembubaran PKI, reshuffle kabinet, sampai dengan desakan pelengseran Soekarno. Klimaksnya, saya bersama 50-an pelajar dan mahasiswa Makassar, pimpinan JK, naik kapal laut ke Jakarta, ikut unjuk rasa.

Pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam KAPPI dan KAMI se-Indonesia yang berkumpul di Jakarta ini, mendesak Sidang Umum Istimewa MPRS agar melengserkan presiden Soekarno. Sebab, beliau bekerjasama dengan PKI dalam peristiwa G30S, 1965. Pada peristiwa itu, enam jenderal dan seorang perwira pertama dibunuh secara sadis oleh PKI. Usaha pelajar dan mahasiswa sejak 8 Maret 1967 ini, berhasil. Tanggal 11 Maret malam, TV-RI memberitakan pelengseran Soekarno. Soeharto dilantik sebagai Pejabat Presiden.

Fiqh Dakwah
Buku kedua karya abah Natsir yang kubaca adalah Fiqh Dakwah. Isinya merupakan pemikiran, pengetahuan, keterampilan, kemampuan, dan perilaku Penulisnya mengenai dakwah. Namun, pemahaman yang mendalam mengenai isi buku ini kuperoleh setelah menemani buya Hamka dalam safari dakwahnya di Makassar beberapa tahun kemudian. Hasilnya, kupahami dengan baik, apa itu ‘tsamuh.’ Istilah populernya toleransi. Saling menghormati pendapat orang lain sekali pun tidak harus mengikutinya. Tentu, perbedaannya tetap dalam koridor syariah seperti yang dipraktikkan keempat imam mazhab. Aplikasinya, buya Hamka mengundurkan diri dari Ketua MUI ketika dipaksa harus meralat fatwanya yang melarang umat Islam menghadiri ritual natal.

Tamat membaca buku Fiqh Dakwah, saya lalu suka bertabligh. Padahal, saya bukan anak pesantren, madrasah, apalagi kuliah di IAIN. Bahkan, selama SD sampai SMA, saya tidak mendapat pelajaran agama Islam. Saya malah memeroleh pelajaran agama Kristen. Belajar baca Qur’an sama guru ngaji hanya ketika di SD. Itu pun sekali sepekan, Ahad pagi. Namun, heroismeku bertambah pasca melengserkan presiden Soekarno di Jakarta. Apalagi, daya juangku semakin terasah ketika mengikuti training HMI. Liburan kuliah (1968), saya pulang kampung. Di Ambon, saya minta Surat Tugas dari Lembaga Dakwah HMI untuk berdakwah di pulau Seram. Bertabligh. !
Seram, pulau terbesar di provinsi Maluku. Amahai, desa pertama yang kudatangi. Letaknya sekitar 27 km dari kampung saya yang berada di pulau Saparua. Namun, disebabkan kenderaan yang ditumpangi, perahu layar, maka perlu 4 jam baru sampai di tujuan. Itu pun setelah dihempas ombak besar, bertubi-tubi. Tiba di rumah Kades, saya dipersilahkan memberi tausiah di masjid, ba’da shalat maghrib. Besok pagi saya tinggalkan rumah Kades, menuju desa berikutnya. Hal itu kulakukan setiap hari, berjalan kaki, sendirian. Tidak ada bus, angkot atau motor. Hanya sepeda, kenderaan masyarakat. Perlu waktu sekitar dua jam untuk sampai di desa berikutnya. Ada pula yang perlu waktu sekitar empat jam, jalan kaki untuk tiba di desa lainnya.

Satu-satunya tema yang kusampaikan selama hampir dua pekan itu adalah kewajiban amar makruf, nahy mungkar. Hanya surah Ali Imran ayat 104 yang kusampaikan. Cuma satu pula hadits yang kusampaikan: Ballighû ‘annî walau âyah (sampaikanlah dari padaku walaupun hanya satu ayat). Maklum, saya baru mahasiswa tingkat dua. Apalagi, mahasiswa Fakultas Teknik, Unhas, Makassar. Namun, itulah hasil yang kuperoleh dari LK HMI setelah didaur dalam Fiqh Dakwah-nya abah Natsir. (Hasil lanjutannya, bertahun-tahun kemudian, saya bisa menjadi narasumber di seluruh ibu kota provinsi se-Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan Jepang). Pengalaman paling berkesan dalam safari tabligh tersebut, saya mengislamkan seorang calon pendeta. Risikonya, saya harus nginap di dalam sel Koramil Saparua karena tuduhan, memaksa orang masuk Islam.

Penasihat Aktivis Islam
Selain menyampaikan syarat terbentuknya keluarga sakinah ke pasangan Ahmad Zainal Abidin Urra – Pocut Yusnidar, abah Natsir menyentil perilaku aktvis Islam. Senyuman di wajah dalam balutan safari putih-putih, kritikan abah lebih ditujukan ke aktivis PII, HMI, dan GPII. Abah, dengan suara lembut berucap: “Sewaktu belum jadi “apa2” para aktivis tahan menderita untuk tinggal di rumah kontrakkan, naik angkot atau bus kota.” Beliau menarik nafas sejenak lalu melanjutkan. “Sewaktu berstatus pejabat atau menjadi ‘orang’, para aktivis mulai lupa diri. Isteri yang berjuang bersama sejak masih di rumah kontrakkan, ditinggalkan. Ada yang dimadu. Kebiasaan naik angkot atau bus kota, diganti dengan pameran mobil mewah dan tinggal di rumah gedongan,” sindir abah. “Saudara jangan berperilaku seperti itu,” pesan khusus abah ke pengantin baru. “Ya Allah, abah ini naik sepeda dari istana, pulang ke rumah pasca mengembalikan mandat sebagai PM. Jasnya bertambal ketika menjadi Menteri Penerangan. Tidak punya rumah dan mobil pribadi,” batinku sewaktu mendengar nasihat abah yang terakhir tersebut. Nasihat itu, terekam abadi dalam memoriku ketika memimpin HMI, menjadi pejabat perusahan di Malaysia, mengajar di Singapura sampai dengan kembali ke Indonesia, pasca lengsernya Soeharto.

Setahun setelah reformasi (1999), sentilan abah Natsir puluhan tahun sebelumnya, muncul dalam ingatanku. Sebab, dari sekian aktivis Makassar, dua orang yang pernah bersamaku di penjara, masuk dalam golongan yang dimaksud abah Natsir. Mereka menikah lagi ketika menjadi anggota legislative. Padahal, isteri mereka masih bersama. Ada pula yang menemui saya di rumah mertua, menggunakan kijang butut. Sewaktu menjadi anggota legislative, bukan hanya punya rumah dan mobil mewah, dia juga memiliki pesawat terbang pribadi. Tragisnya, ketika menjadi Penasihat KPK, saya menyaksikan belasan persen yang ditangkap adalah aktivis kampus, ormas, dan LSM. Bahkan, ada yang bersama saya mengikuti latihan kepemimpinan mahasiswa dan pendidikan jurnalistik.

Apakah aktivis yang menikah lagi, salah.? Faktanya, dari 9 isteri Rasulullah, hanya seorang yang gadis. Delapan lainnya, janda. Rasulullah baru menikah lagi pasca meninggalnya Khadijah. Tujuannya, memelihara anak yatim karena ayah mereka meninggal dalam perang melawan orang kafir. Ayat Al-Qur’an tentang poligami (QS An-Nisaa: 3), diakhiri dengan kewajiban, berlaku adil. Maknanya, Islam mengutamakan monogami. Poligami hanya dibenarkan dalam keadaan tertentu. Misalnya isteri mandul atau menyelamatkan anak yatim seperti yang dilakukan Rasulullah. Saya baru ‘ngeh’, tokoh dan pimpinan Masyumi, tidak berpoligami.
Mungkinkah mereka yang punya mobil dan rumah mewah, melanggar ketentuan A-Qur’an.? Bukankah Abdurrahman bin Auf, sahabat yang berstatus konglomerat.? Faktanya, Rasulullah mengatakan, Abdurrahman bin Auf akan masuk surga pelan-pelan karena kekayaannya. Mengetahui hal itu, Abdurrahman membagikan semua dagangannya yang dibawa dari luar kota karena tidak mau masuk surga pelan-pelan. Fakta lain, sewaktu menjadi khalifah, Umar memiliki banyak unta hasil ghonimah. Namun, beliau tidak mengonsumsi lebih dari satu lauk ketika makan siang. Simpulannya, kita dapat menjadi orang kaya dengan cara halal, mengerluarkan hak-hak fakir miskin, tidak hedonis, apalagi suka pamer kekayaan yang dimiliki.

Tausiah abah Natsir tersebut yang kuterapkan sampai sekarang: Tidak menyalahgunakan kesempatan, jabatan, sarana dan prasaranan di luar SOP. Sebelum punya mobil sendiri, Avanza, ketika kegiatan pribadi, saya biasa naik angkot, bus kota, kereta api, ojek, bahkan becak. Wallahu’alam !!!

Depok, 23 Juli – 2021

Abdullah Hehamahua

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

76 Tahun Merdeka, Indonesia Makin Terpuruk

SUARA TANGERANG – Usia 76 tahun, seseorang menikmati masa tuanya. Begitu seharusnya Indonesia. Namun, Indonesia ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com