Mohammad Natsir, Bapak Bangsa, Penggagas NKRI (2) Senantiasa Merangkul Anak Muda

SUARA TANGERANG – Masjid Al Munawaroh, Tanah Abang, 1981. Abah Natsir sudah di ambang pintu, mau menuju mobil. Melihat kami datang, beliau masuk lagi ke ruang kerjanya. Saya terharu.! Mantan Perdana Menteri, Penggagas NKRI, dan Ketua Umum Masyumi, mengurungkan rencananya karena mau menerima kunjungan anak-anak muda. Padahal waktu itu, selain sebagai Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Pusat, beliau juga Wakil Presiden Rabithah Alam Islami. (Inilah pertemuan keduaku dengan beliau, tapi dialog langsung yang pertama kali).

Forum Ukhuwah Generasi Muda Islam
Presiden Soeharto memaksakan Pancasila sebagai asas tunggal. Pancasila bukan hanya sebagai ideologi negara, tetapi juga harus menjadi asas partai dan ormas. Bahkan sampai ke kehidupan keluarga dan individu. Lahirlah Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7). BP7 menetapkan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Ia dijabarkan lagi menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan diajarkan di SD sampai SMA. Murid-murid, khususnya SD yang masih labil, diajarkan untuk bebas bergaul serta menganut paham apa saja sehingga tidak perlu fanatik terhadap ajaran agama sendiri. Hakikatnya, PMP adalah pluralisme akidah.

Generasi Muda Islam (Gemuis), HMI, PMII, PII, dan Pemuda Muhammadiyah biasa melakukan pertemuan rutin, menolak asas tunggal Pancasila dan aliran kepercayaan dimasukkan ke dalam GBHN. Dalam sidang pleno DPR-RI, PPP “walk out” sebagai protes atas dimasukkannya asas tunggal Pancasila dan aliran kepercayaan ke dalam GBHN.
Selesai masa jabatan di masing-masing organisasi, kami sepakat membentuk forum ukhuwah. Ia dinamai Forum Ukhuwah Generasi Muda Islam. Abidin Urra, Sahar L Hasan, Ramli Hutabarat, dan saya mewakili HMI. Ahmad Bagja dan Mohammad Rojak, mewakili PMII. Yunani Alyutsa, Natsir Zubaidi, dan dua orang lagi yang saya lupa namanya, mewakili PII. Sutrisno Muhdam mewakili Pemuda Muhammadiyah. Di forum ini, kami melepaskan ‘jeket’ masing-masing. Kami bertemu karena sama-sama pemuda Islam. Forum ini tidak punya struktur dan kepengurusan seperti lazimnya. Pemimpin forum adalah Al-Qur’an. Maksudnya, tidak boleh ada putusan yang bertentangan dengan Al-Qur’an. Tidak boleh juga ada kegiatan yang bercanggah dengan Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an adalah pemimpin orang-orang mukmin. Operasionalisasinya, pertemuan di rumah, dipandu tuan ruah. Pertemuan di tempat umum, dipandu peserta tertua. Program kerja jadi perekat anggota forum. Olehnya, forum ini hanya punya dua program: (a) Menolak dan membatalkan pelaksanaan PMP. (b) Wujud persatuan di kalangan pimpinan umat Islam Indonesia.
Merangkul Anak Muda
Kegiatan pertama Forum Ukhuwah Generasi Muda Islam, bersilaturrahim dengan tokoh dan pemimpin umat Islam. Tokoh pertama yang didatangi, abah Natsir. Hari itu beliau ada di Sekretariat DDII Jakarta, Masjid Al Munawarah, Tanah Abang. Seingatku, Yunani Alyutsa, Natzir Zubaidi, Ahmad Bagja, Soetrisno Muhdam, Abidin Urra, Sahar L Hasan, dan saya menemui abah. Kawan-kawan, secara bergiliran, menyampaikan informasi, maksud dan tujuan, khususnya mengenai P4 dan PMP.
Abah, dengan wajah ceriah dan antusias, mendukung program kami. Dukungannya dimulai dengan menjelaskan, mengapa beliau memimpin kelompok Petisi 50 menemui Ketua DPR/MPR, Jenderal Daryatmo. Beliau menyampaikan sikap Petisi 50 terhadap penyimpangan yang dilakukan Soeharto. Menurutnya, jika Soeharto tidak dikoreksi, Indonesia akan digiring ke ideologi Nasakom (Nasional, Agama dan Komunis), tempo dulu.
Pertemuan sekitar dua jam tersebut, selain mendukung gerakan generasi muda Islam, abah menyarankan kami menemui pemimpin ormas Islam tingkat nasional. Aplikasinya, kami jumpai KH Masykur, pimpinan NU. Tokoh-Tokoh Masyumi lain yang ditemui adalah Syafruddin Perwiranegara, Mohammad Roem, dan Burhanuddin Harahap. Pimpinan Syarikat Islam yang dijumpai adalah Prof. Bustamam dan Ch Ibrahim. Kami juga berangkat ke Yogyakarta, menemui Rois Am NU, KH Ma’sum dan AR Fachruddin, Ketum PP Muhammadiyah. Kami juga menemui pak Afandi Ridwan dan KHE Abdurrahman, Ketua Umum Persis di Bandung.
Simpulannya, abah Natsir bukan saja bapak bangsa dan pemimpin umat, tetapi beliau juga pengader generasi muda. Buktinya, bagaimana serius dan tekunnya beliau mendengar semua aspirasi dan curhat kawan-kawan. Aplikasinya, beliau melibatkan anak-anak muda, baik dalam kegiatan dakwah, penelitian, maupun studi di luar negeri, khususnya di Arab Saudi. Beberapa nama yang saya ingat: Muzayn, Syuhada Bahri, Abu Ridho, dan Wahid Alwi. Beliau juga menugaskan beberapa kader untuk menghadiri seminar atau bertugas di luar negeri.
Pelibatan generasi muda oleh abah Natsir, kurasakan langsung, antara lain: Beberapa bulan setelah pernyataan bersama tokoh umat Islam tentang PMP, saya ditugasi melakukan penelitian kristenisasi di Kalimantan Tengah. Tidak lama kemudian, saya diikutkan dalam Kelompok Nasi Bungkus yang hanya dianggotai tokoh Masyumi. Di forum ini, saya diamanahkan menjadi sekretaris dengan tugas, melaporkan kegiatan pemuda dan mahasiswa dalam setiap rapat. Saya juga ditugasi, mengeksekusi putusan forum yang berkaitan dengan pelajar, pemuda, dan mahasiswa. Aplikasinya, diterbitkan SK terhadap Abidin Urra, Syuhada Bahri, Hafidz, dan saya untuk menangani pelatihan da’i di daerah. Menariknya, abah biasa mengajakku mendampinginya jika ada tamu pelajar, mahasiswa, atau pemuda. Bahkan, sewaktu isu syiah merebak di kalangan generasi muda, khususnya HMI, saya ditugasi menanganinya. Saya juga ditugaskan untuk menggagalkan penerimaan asas tunggal Pancasila dalam Kongres HMI ke 15 di Medan. Misi ini berhasil karena perjuangan gigih saudara Abidin Urra, Sahar L. Hasan, dan Lukman Hakim. Terakhir, saya diperintahkan untuk hijrah ke Malaysia, pasca peristiwa Tanjung Priok, dengan tugas, membantu Anwar Ibrahim. Itulah sebabnya, selama 15 tahun di Malaysia, Endang Jauhari (GPII), Mukmin Efendy (PII), dan saya melakukan training dan pembinaan terhadap pemuda dan mahasiswa Indonesia di Malaysia. Bahkan, kami melakukan training khusus yang diikuti anak cucu KB PII yang lahir dan besar di Sabah, Malaysia.

Mengoreksi Presiden Soeharto
Seserius apa pidato Soeharto sehingga mantan-mantan: KSAB, Kapolri, KSAD, KSAU, Perdana Menteri, Menteri, anggota legislative, aktvis kampus, dan gubernur bereaksi keras.? Menurut Soeharto, rakyat harus memelajari hanacaraka. Padahal, hanacara adalah tulisan Jawa kuno yang berasal dari turunan aksara Brahmi, Hindu, bercampur budaya Jawa yang berasal dari animisme. Aplikasinya, rakyat cukup “iling”, yakni ingat akan Tuhan. Tidak perlu shalat, shaum, zakat atau haji. Namun, para jenderal dan tokoh-tokoh bangsa tersebut geram karena pernyataan Soeharto yang betul-betul menyimpang dari pemikiran seorang negarawan.
“Saya meminta ABRI mendukung Golkar dalam pemilihan umum,” kata Presiden Soeharto dalam Rapim ABRI di Pekanbaru, 27 Maret 1980. Bahkan di markas Kopasanda, Cijantung, Soeharto dengan congkaknya mengatakan, “Yang mengkritik saya berarti mengkritik Pancasila.” Tragisnya, Soeharto bahkan mengancam: ”Lebih baik kami culik satu dari dua pertiga anggota MPR yang akan melakukan perubahan UUD 1945 agar tidak terjadi kuorum.”

Pidato Soeharto itu bermuara di penetapan Pancasila sebagai asas tunggal yang kemudian lahir Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7). BP7 ini kemudian melahirkan P4 dan PMP. Wajar jika kelompok Petisi 50 menyampaikan kritik keras terhadap presiden Soeharto. Tokoh-tokoh bangsa yang ikut tanda tangan Petisi 50 (5 Mei 1980), terdapat beberapa jenderal: AH. Nasution, Dharsono, Mokoginta, M. Jasin, Aziz Saleh, Hoegeng, dan Ali Sadikin. Mantan PM dan Menteri yang ikut bergabung: Moh. Natsir, Burhanuddin Harahap, Syafruddin Perwiranegara, HM Sanusi, dan Kasman Singadimedjo. Petisi juga diikuti oleh beberapa pimpinan ormas dan aktivis kampus.

Penolakan PMP
Hakikat PMP adalah ideologi pluralisme agama. Tragisnya, terjadi pameran kemunafikan di kalangan pemimpin agama, khususnya tokoh Kristen dan Islam. Kemunafikan pemimpin Kristen, mereka tidak mengakui adanya kristenisasi di Indonesia. Pemimpin umat Islam menampilkan kemunafikan dengan mengatakan, semua agama benar. Anehnya, mereka tidak pernah ke gereja pada hari Ahad atau ke Sinagok setiap Sabtu. Paling, mereka ikut merayakan imlek atau natalan. Keluarga juga membiarkan jenazahnya dimandikan, dikapankan, dan dishalatkan secara Islam. Padahal fakta di lapangan, ada 330 kasus perusakan gereja di seluruh Indonesia pada masa orde baru, khususnya tahun 1975 – 1997, akibat pluralisme akidah. Pengrusakan gereja tersebut sebagai salah satu manifestasi dari kemarahan atas pemurtadan umat Islam yang dilakukan misionaris Kristen.
Upaya Forum Ukhuwah Generasi Muda Islam kurang lebih sebulan, menghasilkan sesuatu yang belum pernah terjadi selama orde baru. Semua tokoh dan pimpinan ormas Islam menanda-tangani pernyataan bersama menolak PMP. Mereka adalah Moh.Natsir, Syafruddin Perwiranegara, Burhanuddin Harahap, Yunan Nasution, KH Ali Ma’shum, KH Masykur, AR Fachruddin, Bustamam, CH Ibrahim, KHE Abdurrahman, Afandi Ridwan dan tokoh-tokoh Islam lainnya. Dampaknya, sidang-sidang di DPR pasca lengsernya Soeharto, asas tunggal Pancasila, BP7, P4, dan PMP, dicabut. Mereka yang berperan aktif dalam menggusur P4 dan PMP, tidak lain adalah kader-kader abah Natsir sendiri, antara lain Lukman Hakim. Itulah antara lain hasil konkrit dari perangkulan generasi muda oleh abah Natsir. Hasil strategis lainnya, terbentuk Forum Ukhuwah Umat Islam yang dilakonin pimpinan dan tokoh umat Islam sendiri tanpa keikut-sertaan kami, anak-anak muda. Wallau’alam. !!!

Depok, Jum’at Keramat, 30 Juli 2021

Abdullah Hehamahua

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

76 Tahun Merdeka, Indonesia Makin Terpuruk

SUARA TANGERANG – Usia 76 tahun, seseorang menikmati masa tuanya. Begitu seharusnya Indonesia. Namun, Indonesia ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com