Mohammad Natsir, Guru Bangsa, Penggagas NKRI, (3) Memimpin Melalui Perbuatan

SUARA TANGERANG – Pukul 7 pagi, saya sudah di tangga kantor Lembaga Islam untuk Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LIPPM), Jakarta Pusat. Ketibaanku bersamaan dengan OB. Kami menaiki anak tangga menuju lantai dua. OB membuka gembok pintu kantor Lembaga Penelitian yang dipimpin Prof. Dr. Deliar Noer ini. “kali ini saya kalahkan abah,” batinku. Sebab, setelah beberapa bulan berkantor bersama abah Natsir, saya bertekad untuk mengalahkannya dalam masalah disiplin. Hari ini, saya tiba di kantor bersamaan dengan pemegang kunci kantor. Maknanya, saya menang.

Komandan Melalui Teladan
Pemimpin, sejatinya punya tiga fungsi: Komandan, Manajer, dan Pelayan. Komandan adalah pemimpin yang selalu berada di depan. Dia memandu pengikut, anggota, atau karyawannya. Dia membawa pengikutnya ke arah yang jelas. Mereka mengerti, mau ke mana dan apa yang harus dibuat.

Abah Natsir sebagai komandan, diikuti pengikutnya karena visi, misi, strategi, tujuan, dan sasaran perjuangannya tertuang jelas dalam Khittah Perjuangan Masyumi. Hasilnya, Masyumi memenangkan 10 dari 14 daerah pemilihan pada Pemilu 1955. Masyumi memeroleh, 57 anggota DPR dan 112 anggota konstituante. Tahun 1967, khittah perjuangan Masyumi dialihkan ke AD/ART dan kebijakan DDII. Sebab, pemerintah menolak pengaktipan kembali Masyumi. Lahir slogan, berpolitik melalui dakwah. Slogan sebelumnya, dakwah melalui politik.

Abah sebagai komandan, selalu berada di depan melalui keteladan. Beliau tidak hanya ‘ngomong’ karena diingatkan Allah SWT: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa, kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (QS Ash Shaf: 3). Beberapa fakta dapat disebutkan:

(1) Abah Natsir meminta Ruslan Abdul Ghani, sekretaris Menteri Penerangan menyampaikan pesan ke KH Hasyim Asy’ari, Rois Am NU agar mengeluarkan fatwa jihad menghadapi agresi militer Belanda II. Tanggal 22 Oktober, Rois Am NU mengeluarkan fatwa jihad yang intinya, melawan Belanda (NICA) yang memboncengi pasukan Sekutu (Inggeris) yang ingin kembali menguasai Indonesia, hukumnya wajib. Dampak fatwa ini luar biasa. Jenderal Mallaby, pimpinan pasukan Sekutu mati terbunuh. Peristiwa berdarah, 10 November 1945 di Surabaya, berhasil memertahankan kemerdekaan Indonesia.

(2) Abah Natsir sebagai Ketua Fraksi Masyumi di parlemen, menolak RIS, negara boneka yang terdiri dari 16 negara bagian hasil KMB Denhaag, Belanda. Salah satu alasan abah, Irian Barat tidak masuk dalam RIS. Padahal Irian Barat adalah salah satu wilayah dari Kesultanan Ternate. Aplikasinya, abah mendatangi para sultan di seluruh Indonesia dan melobi fraksi-fraksi di parlemen agar mau menyatu dalam negara kesatuan. Hasilnya, 3 April 1950, terbentuk NKRI.

(3) Abah Natsir sebagai PM pertama NKRI, merancang UU Pemerintahan Daerah, bukan UU khusus Aceh saja.

(4) Abah mencoret pernyataan, “Indonesia keluar dari PBB” yang ada dalam teks pidato Soekarno tanpa persetujuan parlemen. Dampaknya, hubungan PM dan Presiden, renggang yang kemudian dimanfaatkan PKI dan PNI. Kedua partai ini memboikot sidang parlemen, membahas RUU Pemerintahan Daerah. Padahal, masyarakat Aceh sudah mengancam untuk keluar dari pemeritahan pusat jika UU khusus pemerintahan Aceh tidak segera diterbitkan. Risiko sebagai Komandan, abah Natsir mundur sebagai PM demi selesainya UU Pemerintahan daerah agar masyarakat Aceh tidak keluar dari Indonesia.

(5) Abah Natsir dan Syafruddin Perwiranegara diam-diam, terbang ke Sumbar, menghentikan rencana pimpinan PRRI yang akan melakukan kerjasama dengan AS menghadapi Soekarno. Hasilnya, perjuangan PRRI fokus atas tiga hal: (a) kembalikan kepemimpinan dwi tunggal, Soekarno – Hatta; (b) Singkirkan PKI dari kabinet agar ideologi Nasakom, dihapus, dan (c) memberlakukan otomisasi daerah.
Keberhasilan abah Natsir dan pak Syafruddin Perwiranegara menggagalkan kerjasama PRRI dan AS, menjadi salah satu sebab, mereka berdua dianugerahi gelar “pahlawan nasional.”

(6) Abah Natsir mengirim surat ke Kartosuwiryo, memintanya kembali ke pangkuan NKRI sekalipun beliau sudah bukan PM. Sayang, surat tersebut tiba di tangan Kartosuwiryo, sehari setelah deklarasi DI/TII.

(7) Sewaktu menjadi tahanan di rutan Guntur, abah Natsir menulis pesan singkat di kotak korek api untuk Tengku Abdurrahman agar PM Malaysia mau menerima utusan Indonesia. Sebab, tanpa penerimaan utusan tersebut, perdamaian di antara dua negara, sukar terjadi. Padahal, konfrontasi Indonesia – Malaysia tersebut adalah konspirasi komunis Sabah, Singapura, Malaya, dan Indonesia. PKI memperalat Soekarno menyerang Malaysia agar dapat mempersenjatai angkatan kelima, yakni buruh, petani, dan nelayan yang dikuasai PKI.

(8) Bebas dari tahanan orla, abah Natsir menghubungi Fukuda, salah seorang kawannya yang waktu itu Menteri Keuangan Jepang. Abah meminta agar Jepang membantu pembangunan Indonesia yang amburadul. Sebab, inflasinya 650% dan utang luar negeri, Rp. 32T warisan salah urus presiden Soekarno (tidak termasuk utang Hindia Belanda, Rp. 56T yang harus dibayar Indonesia). Hasilnya, Indonesia memeroleh bantuan pinjaman dari negara-negara IGGI.

Manajer yang Aspiratif
Abah Natsir, dalam kedudukan sebagai manajer, semua karyawan, ustadz, dan aktivis DDII ditempatkan sebagai mitra, bukan bawahan. Aplikasinya, semua saran diterima. Allahyarham AM Luthfi misalnya, bukan alumni PII, HMI atau GPII. Latar kemahasiswaannya bersama kelompok sosialis. Namun, kompetensi beliau yang dihargai abah. Apalagi, pak Luthfi akrab dengan pak Nu’man, pak Sadali, dan bang Imad, orang kepercayaan abah di Bandung. Mereka inilah yang membangun masjid Salman atas permintaan abah. Pak Luthfi juga menjadi arsitek pembangunan masjid Al Furqon, DDII sekarang. Bahkan, pak Luthfi, satu-satunya anggota Kelompok Nasi Bungkus yang bukan alumni PII, HMI, GPII, apalagi anggota Masyumi.

Tahun 1981, saya ditugaskan abah Natsir melakukan penelitian tentang kristenisasi di Kalimantan Tengah. Temuan penelitian, mengejutkan. Tidak ada gubernur, bupati, dan walikota di daerah ini, muslim. Padahal, mayoritas penduduk, beragama Islam. Rektor, Purek, dan dekan di Univeritas Palangka Raya pun tidak ada yang muslim. Gedung Pusdiklat calon misionaris terbesar di Asia Tenggara berada di kota ini, lebih mentereng dari yang ada di Solo (waktu itu).
Para Menteri nonmuslim, secara bergilir, ke Palangka Raya, menggunakan APBN, melakukan pembinaan proyek kristenisasi. Tragisnya, terjadi tindakan diskriminasi terhadap pasien di kapal WHO yang masuk Palangka Raya menyusuri sungai Barito. Jika pasien terlihat islami, mereka dipersulit dalam menerima layanan. Bahkan, ada yang terpaksa murtad demi menerima layanan pengobatan. Salah satu hasil penelitian yang mengejutkan waktu itu, tahun 1957, Soekarno mengajukan Palangka Raya untuk mengganti posisi Jakarta. Tahun 1965, Soekarno mengulangi lagi rencananya tersebut. Namun, beberapa pengamat berpendapat, usul tersebut didorong oleh PKI yang waktu itu sangat mendominasi kepempinan istana.

Abah Natsir, dalam kedudukan sebagai manajer, secara luar biasa memonitor tugas saya tersebut. Mengetahui saya sudah kembali ke Jakarta, setiap hari beliau meminta laporanku. “Ah, abah kan sudah tua. Tentu beliau sudah lupa akan tugas yang diberikan ke saya,” batinku. Maklum, waktu itu abah sudah 73 tahun. Hari ketiga, bertemu di masjid. Saya terperanjat. Abah menagih laporanku. Malamnya di rumah, saya begadang di depan mesin ketik. Sekitar 50 halaman laporanku. Satu copy laporanku diserahkan abah ke Menteri Agama, Alamsyah Ratuprawiranegara. Sejak itu, gubernur Kalteng, seorang muslim. Masa reformasi, ketika pemilukada, barulah nonmuslim kembali menjadi gubernur.

Pelayan yang Tulus
Pagi itu, pukul 7, saya tiba bersamaan dengan OB LIPPM. OB membuka gembok pintu kantor dan kami dua masuk bersamaan. “Hore, berhasil juga saya kalahkan abah masuk kantor lebih dulu,” batinku. Saya penasaran. Sebab, abah berkantor secara bergantian di tiga lokasi. Kantor DDII Jakarta di masjid Al Monawaroh, Tanah Abang, DDII Pusat (Kramat Raya 45), dan LIPPM di Jalan Cikini Raya. Dahsyatnya, beliau tiba di kantor pukul 7 pagi. Saya lalu bertekad untuk mengalahkan beliau. Dan hari itu, saya berhasil mengalahkan beliau. Gembira, saya menanda-tangani daftar absen, manual. Kedengaran suara di ruangan abah. “Ya, itu abah,” kata OB menjawab penasaranku. “Kan kamu yang bawa kunci sehingga kita berdua yang pertama tiba di sini,” kataku. “Ya abah bawa kunci sendiri.” Masyaa Allah. !!! Mantan PM dan sejumlah jabatan dalam dan luar negeri, membawa sendiri kunci kantor. Sejak itu, saya selalu tiba di kantor sebelum pukul tujuh. Hal itu saya lakukan ketika bekerja di Malaysia, Singapura, KPKPN, dan terakhir, KPK.
Abah Natsir sebagai Pelayan, melakukan suatu kebiasaan yang belum pernah kutemukan di diri pejabat Indonesia. Setiap pagi, selesai membaca koran, abah memberi tanda dengan spidol di judul berita tertentu. Karyawan akan menggunting berita yang ditandai abah tersebut untuk kepentingan kliping koran. Apa yang dilakukan abah Natsir, dalam ilmu manajemen modern disebut “Key Performance Indicator” (KPI), Indikator Kunci Kinerja. Setiap orang, mulai dari presiden sampai Kades, punya KPI. Jadi, untuk mengetahui, apakah presiden, Menteri, gubernur, bupati/walikota, camat, sampai Kades, berhasil atau tidak, cukup dengan melihat KPI-nya. Pimpinan sebagai Pelayan, harus melayani pelanggan, bukan dilayani. Abah dalam fungsi itu melayani puluhan, bahkan ratusan pelajar dan mahasiswa yang mau melanjutkan pendidikan di luar negeri, Timur Tengah maupun Malaysia. Boleh dikata, tidak ada tamu dari daerah yang menjumpai abah, kembali tanpa membawa “sangu” Setidaknya berupa tiket atau buku. Bahkan, gaji beliau di Rabithah dikirim ke rekening Komaruddin Noer, Wakil Anwar Ibrahim di ABIM untuk kemudian diserahkan ke kami yang ada di Malaysia: Endang Jauhari, Mu’min Efendi, dan saya.

Saya pribadi mendapatkan hal itu secara luar biasa. Suatu hari, ibu mertuaku yang janda perlu sejumlah uang. Saya curhat ke abah. Atas ijinnya, bendahara LIPPM meminjamkan saya sejumlah uang yang kemudian dipotong gaji setiap bulan. Sewaktu saya dikejar-kejar jenderal Beni Murdhani, abah perintahkan saudara Sahar L. Hasan mencari rumah yang pekarangannya luas agar anak-anak saya bisa leluasa bermain di dalamnya. Rumah tersebut hendaknya dekat dengan sekolah agar anakku bisa tetap sekolah. Abah juga meminta Ustadz Syuhada dan Abu Ridha mengurus keberangkatan saya ke Malaysia. Itulah abah Natsir, Pemimpin sebagai komandan, manajer, dan pelayan umatnya, melalui perbuatan konkrit. (*)

06 Agustus 2021

Abdullah Hehamahua

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Mengurai Polemik Jalur Sepeda

SUARA TANGERANG – Pro kontra itu hal biasa. Dalam banyak hal, diskusi diperlukan. Berbagai masukan ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com