Mohammad Natsir, Guru Bangsa, Penggagas NKRI (4) Mencintai Negeri Sepanjang Hayat

SUARA TANGERANG – Ruang rapat LIPPM, Jakarta, tahun 1983. Saya memoderatori diskusi terbatas Forum Cendekiawan Bulan Bintang. Duduk di sampingku, abah Natsir, narasumber tunggal. Peserta berasal dari Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya. “Gimana kalau kita kembali ke federasi sebentar agar berlaku syariat Islam di beberapa provinsi. Sesudah itu, kita kembali lagi ke bentuk NKRI,” kataku, menoleh ke arah abah Natsir. Wajah beliau memerah. Namun, tetap senyum. Inikah ekspresi abah Natsir sebagai penggagas NKRI. ? Mencintai NKRI sampai maut menjemput. ?

Soekarno Khianati Masyarakat Aceh

Soekarno di depan masyarakat Aceh (16 Juni 1948), meminta bantuan dana untuk membeli pesawat terbang. Terkumpullah 20 kg emas dan 120 ribu dollar Singapura. Pemerintah membeli dua pesawat jenis Dakota. Pesawat inilah yang digunakan presiden dan wakil presiden mengunjungi daerah-daerah seIndonesia. Pesawat yang diberi nama Seulawuh inilah yang menjadi cikal bakal dibentuknya perusahaan penerbangan  Garuda Indonesia Airways (GIA).

Soekarno berjanji akan memberi status daerah istimewa ke Aceh. “Biarlah rakyat Aceh mengatur daerahnya sendiri dengan syariat Islam,” janji Soekarno. Daud Beureueh meminta beliau menuliskan pernyataan tersebut. Soekarno keberatan. “Apakah kakanda Daud Beureueh tidak mempercayai saya lagi,?” kata Soekarno, meneteskan air mata. Hati Daud Beureuh luluh.

Soekarno, seperti pemimpin Indonesia umumnya, lupa atas apa yang pernah dijanjikan. Apalagi sidang Dewan Mentri RIS, 8 Agustus 1950, menghapus status provinsi Aceh. Daerah ini dimasukkan ke dalam provinsi Sumut sebagaimana tertuang dalam Perppu Nomor 5/1950. Padahal pemerintah pusat di bawah kepimimpinan presiden Syafruddin Perwiranegara, Aceh ditetapkan sebagai provinsi.

Rakyat Aceh marah. Sebab, bukan hanya status daerahnya diubah, tetapi peralatan kantor dan mobil-mobil yang ada di Banda Aceh pun dibawa ke Medan. Padahal, semuanya dibeli secara swadaya oleh masyarakat Aceh. Wajar kalau mereka ancam, keluar dari Indonesia jika tidak diterbitkan UU Khusus Aceh sebagai daerah istimewa.

Abah Natsir Mengunjungi Aceh

Gejolak masyarakat Aceh karena ulah Soekarno di atas, maka salah satu program prioritas PM Natsir adalah menyiapkan RUU Pemerintahan Daerah. Masalah inilah yang pertama kali saya kritik ketika sudah sekantor dengan abah Natsir. Menurutku, pemerintah langsung menerbitkan UU Khusus Daerah Istimewa Aceh agar tidak terjadi gejolak. “Jika diterbitkan UU Khusus Aceh saja, maka daerah lain seperti Yogya, Solo, dan Sumbar juga akan menuntut hal serupa. Itu sebabnya disiapkan UU yang mengatur seluruh daerah di Indonesia,” abah menjelaskan alasan filosofinya. Masyaa Allah, pola pikir seorang negarawan yang tidak berpikir parsial.

Meredam amarah pendukung Daud Beureueh, abah Natsir berjanji mendatangi Aceh, menyelesaikan masalah yang ada. Ditakdirkan, pada tanggal yang dijanjikan, anak abah Natsir (Hanafi) meninggal dunia. Manusiawi jika PM menunda keberangkatannya. PM menjadwalkan kembali kunjungannya ke Aceh. Tanggal 23 Januari 1951, PM terbang ke Banda Aceh. Di bandara, PM tidak dijemput secara protokoler. Beliau dijemput isteri Daud Beureueh, gubernur Aceh. “Saya mau dibawa ke mana,” tanya PM ke sopir. “Ke hotel,” jawab sopir, gugup. “Antar saya ke istana,” perintah PM, tegas. Sopir tidak berani membantah perintah PM.

Pertemuan abah Natsir dengan tokoh-tokoh Aceh boleh dibilang ‘dead lock’.Sebab, tokoh-tokoh Aceh merasa berat untuk menelan ludah yang telah dibuang. Mereka sudah mengdeklarasikan, Aceh keluar dari Pemerintah Pusat. Bagaimana mereka harus berhadapan dengan rakyat. Jalan keluarnya, PM berbicara langsung dengan masyarakat melalui RRI Aceh yang diterjemahkan ke dalam bahasa daerah oleh Kanwil Penerangan, Usman Ralibi. Namun, tokoh-tokoh masyarakat Aceh tetap tidak mampu menarik kembali pernyataan mereka. “Ya sudah, nanti tiba di Jakarta, saya ke mbalikan mandat sebagai PM,” kata abah. Tokoh-tokoh Aceh heran. Terkejut. “Saya kan PM, punya polisi dan tentara. Saya bisa saja kerahkan mereka untuk menyerang Aceh. Daripada harus menyerang sesama muslim, lebih baik saya mundur dari jabatan PM,” kata abah, mengakhiri pertemuan.

Melepaskan Jabatan PM

Soekarno, lazimnya menyampaikan pidato berapi-api dengan slogan bombastis. Tahun 1951, seperti biasa, di istana negara, setiap tahun, ada peringatan hari besar Islam. (saya lupa, apakah waktu itu, peringatan isra’ mi’raj atau Maulid Nabi). Abah Natsir mengoreksi draft pidato Soekarno yang akan dibacakan dalam perayaan tersebut. PM kaget ! Dalam teks pidato, Soekarno menyatakan Indonesia keluar dari PBB. PM langsung mencoret kalimat itu. Sebab, kesepakatan di antara pemerintah dan DPR, keluar dari PBB harus dengan persetujuan DPR.

Malam itu, sekalipun sudah dihilangkan dari teks pidato, Soekarno tetap mengumumkan, Indonesia keluar dari PBB. Besoknya, di istana, Soekarno memarahi Sekneg yang berani mencoret teks pidatonya. Sekneg jujur mengatakan bahwa, hal itu dilakukan PM. Sejak itu, hubungan baik di antara Soekarno dan abah Natsir sejak masih muda, renggang. Hal ini dimanfaatkan oleh musuh Masyumi, PKI. Bersama PNI, kedua partai ini menyabot sidang-sidang DPR yang membahas RUU Pemerintahan Daerah. Memerhatikan kepentingan rakyat Aceh, abah Natsir memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan PM. Sebab, makin lama beliau menjabat PM, selama itu pula, Aceh bergejolak. Sebab, pembahasan RUU Peerintahan Daerah selalu digagalkan PKI dan PNI. “Ya, Soekarno waktu itu, seperti orang ngantuk, disorongkan bantal,” kata abah, menjawab kritikan saya atas pengunduran diri tersebut. Maksud abah, Soekarno sudah terprovokasi oleh PKI dan PNI untuk memecat PM, tapi beliau merasa tidak elok. Jadi, sewaktu PM sendiri yang mengundurkan diri, otomatis diterima Soekarno. Abah Natsir pun pulang ke rumah dengan mengenderai sepeda ontelnya setelah mengembalikan mobil dinasnya. (ketika mengembalikan mobil dinas sebagai Wakil Ketua KPKPN (2004), saya pulang ke kontrakkan, naik bus kota).

Mau Meninggal di Indonesia

Suatu hari (1983), saya dipanggil abah ke ruang kerjanya di DDII. Tidak lama kemudian, tiga mahasiswa Yogyakarta, masuk. “Kami minta pak Natsir mengeluarkan komando ke umat Islam untuk perang melawan Soeharto,” kata jubir mahasiswa. Alasannya, rezim Soeharto sudah terlalu otoriter, khususnya terhadap umat Islam. Sejumlah fakta dan informasi mereka sampaikan. Saya kaget. Sebab, sebagai mantan Ketua Umum PB.HMI, saya tidak pernah berpikir seperti itu. Padahal, beberapa kali saya masuk sel dan penjara ketika masih kuliah di Makassar.

“Berapa bataliyon di belakang kamu,” jawab abah, menyadarku dari lamunan sesaat. Saya terperanjat. Para mahasiswa terdiam. Abah lalu menjelaskan, bagaimana ketika di PRRI, mereka didukung sekian banyak prajurit dan perwira TNI. Namun, mereka berkhianat. “Saya waktu muda juga melawan. Saya datangi night club dan melempari kaca jendelanya dengan botol,” kata abah, seperti mengenang masa mudanya di Bandung. Para mahasiswa tercengang. Begitu pula saya, Sebab, ketika di Makassar, saya juga ikut unjuk rasa mengepung stadion Matoangin, karena ada tarian ‘agogo’ dari Jakarta. Kuperhatikan bekas jahitan di jari kelingking kananku karena terkena sangkur aparat keamanan waktu itu. Saya juga ikut unjuk rasa, menolak pembukaan night club di sepanjang pantai Losari, Makassar. Namun, saya  tidak pernah, sendirian melempar botol ke kaca jendela night club seperti yang dilakukan abah Natsir.

Menyadari kelemahan argumentasi mereka, salah seorang mahasiswa mengajak abah agar mau ikut hijrah dengan mereka ke Malaysia. Diharapkan, abah memimpin perlawanan dari sana. “Biarlah saya meninggal di Indonesia saja,” respons abah. Waktu itu, abah sudah berumur 75 tahun. Cintanya ke negeri ini, saya temukan lagi ketika diskusi seperti dikemukakan di awal artikel ini. Waktu itu, Kelompok Nasi Bungkus memutuskan untuk melakukan silaturrahim khusus para cendekiawan keluarga besar Bulan Bintang. Jakarta diwakili Anwar Haryono, Burhanuddin Harahap, Rajab Ranggasoli, Nursal, Ibrahim Madilao, Husein Umar, dan saya sendiri. Bandung diwakili Nukman, Sadali, Yusuf Amir Faisal, dan AM Luthfi. Bogor diwakili dua orang dari IPB (lupa nama mereka). Yogya diwakili Amin Rais dan Syaifullah Mahyudin. Surabaya diwakili Fuad Anshari. Semarang juga diwakili dua orang (sudah lupa namanya).

Forum inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya ICMI ketika Bang Imad kembali dari Amerika Serikat. Sebelum diskusi ditutup, saya ajukan pertanyaan, apakah tidak baik jika kita kembali dulu ke bentuk federasi sehingga syariat Islam dapat diterapkan di beberapa provinsi seperti: Aceh, Sumbar, Jabar, Jatim, NTB, Sulsel, dan Maluku Utara. Setelah berjalan ajaran Islam, bisa saja kita kembali lagi ke NKRI seperti sekarang. Tidak ada yang komentar. Namun, wajah abah merah. Saya tau, beliau marah. Namun, tetap senyum. Itulah kecintaan beliau terhadap NKRI yang digagasnya. Itulah pula bukti, sebagaimana jawabannya ke mahasiswa Yogya bahwa, beliau akan meninggal di Indonesia saja.

Itulah pelajaran dan iktibar yang kuperoleh selama empat tahun bersama abah Natsir, baik di DDII maupun LIPPM. Abah Natsir, pemimpin umat, negarawan, dan guru bangsa yang menjalankan fungsinya secara proporsional sebagai komandan, manajer, dan pelayan, meneladani Rasulullah SAW. Wallahu’alam !!!

Depok, 12 Agustus 2021

 

Abdullah Hehamahua

 Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

76 Tahun Merdeka, Indonesia Makin Terpuruk

SUARA TANGERANG – Usia 76 tahun, seseorang menikmati masa tuanya. Begitu seharusnya Indonesia. Namun, Indonesia ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com