Pengamat: Mural itu bentuk ekspresi kritik kondisi kekinian

Tangerang, SUARA TANGERANG – Pengamat politik, Adib Miftahul dari UNIS Tangerang, mengatakan, bahwa mural yang bermunculan akhir-akhir ini, khususnya di Kota Tangerang merupakan bentuk ekspresi kritik masyarakat atas kondisi kekinian terkait penanganan pandemi Covid-19 oleh pemerintah.

“Saya kira soal mural, ini adalah bentuk ekspresi kritik dari masyarakat atas kodisi kekinian. Mereka memahami, bahwa banyak saluran yang bisa digunakan untuk menyampaikan kiritik kepada pemerintah, seperti melalui medsos, atau media massa dan lainnya, tetapi oleh sebagian masyarakat mural juga dinilai sebagai media komunikasi yang efektif untuk menyampaikan kritik,” jelas Adib kepada www.suaratangerang.com, Kamis (26/8).

Menurut Adib, penghapusan mural bernada kritik yang dilakukan oleh petugas Satpol PP adalah berlebihan.

“Sangat berlebihan, saya kira. Menghapus mural berisi kritikan atau nada protes kepada pemerintah adalah bentuk pemasungan demokrasi. Karena itu, skor indeks demokrasi turun dari skor 6,48 di tahun 2019 menjadi 6,3 di tahun 2020,” kata Adib mengutip laporang The Economist Intelligence Unit (EIU) mengenai Indeks Demokrasi Indonesia tahun 2020 yang direlease belum lama ini.

Lebih jauh Adib mengatakan, bahwa sebenarnya ada cara yang elegan untuk membalas kritik masyarakat kepada pemerintah. Salah satunya adalah dengan cara dialog tentang mural sebagai seni dan media kritik. Kalau jawabnya dengan mengahapus mural bernada kritik atau menangkap para pengkitik, itu artinya tidak ada feedback.

“Yang terjadi adalah, ada kesan dan pesan kalau pemerinah itu alergi dengan kritik. Toh, sisi subjektifnya kan karena aparat penegak hukum di lapangan menilai bahwa mural bernada kritik yang dihapus itu telah menyalahi aturan tentang Tibum, atau mural bergambar mirip Jokowi itu telah dinilai sebagai lambang negara, tetapi kan belum tentu. Penegak hukum kita terlalu paranoid, terlalu berlebihan. Mural itu kan belum tentu mengritik Jokowi juga, itu kan mirip, lalu itu juga kan karya seni,” ujar Adib..

Dosen UNIS Tangerang ini juga mengatakan bahwa penanganan kritik di era keterbukaan informasi seperti saat ini, tak bisa disamakan dengan zaman Orde Baru dulu, malah bisa menimbulkan anti pati atau perlawanan.

Terakhir, kata Adib, mural yang muncul akhir-akhir ini di masyarakat sebenarnya adalah bentuk kritik ke Pemda. Jadi sekali lagi kalau polisi bergerak, terkesan berlebeihan.

“Pemda seharusnya menjadi garda terdepan dalam mengeksekusi kebijakan terkait penanganan Covidi-19. Tak hanya ‘membebek’ pemerintah pusat, sebagaimana penilaian masyarakat saat ini. Dampak dari pandemi itu berimbas ke semua sektor kehidupan masyarakat. Mulai dari masalah ekonomi, sosial dan tentunya juga masalah kesehatan,” pungkas Adib. (1st)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Mahfud MD ajak semua elemen bangsa bangun kepercayaan terhadap Komnas HAM

Jakarta, SUARA TANGERANG – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com