Mahalnya Sebuah Keyakinan (2)

SUARA TANGERANG – Bimbingan Teknik (Bimtek) yang berlangsung dua hari itu diikuti sekitar 40 orang anggota DPRD Bengkalis. Hari pertama, utusan Kemendagri menyampaikan materi “Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah ((RKPD) tahun 2022.” Hari kedua, saya memberi materi “Pengawasan Penggunaan Anggaran 2021 di Masa Pandemi Covid 19.”

Riau Merdeka
Pukul 09.00 acara dimulai. Padahal, saya sudah berada di tempat acara, 15 menit sebelum pukul 08.00. Secara singkat, kujelaskan, UU Nomor 2/2020 tentang Covid 19 adalah proses perampokan uang negara secara legal. Sebab, penggunaan dana covid 19 tidak bisa dipidana, diperdata, maupun di-PTUN-kan. Itulah sebabnya, KPK tidak mengenakan pasal hukuman mati terhadap mantan Mensos. Ketua MK yang korupsi dalam keadaan normal, dihukum penjara seumur hidup. Mensos yang korupsi dana Bansos ketika negara diterpa pandemi, dijatuhi hukuman ringan.

Kujelaskan, perubahan APBN, khususnya peningkatan anggaran covid 19, tidak melalui DPR. Padahal, setiap perubahan APBN harus dilakukan di DPR. Inilah salah satu contoh korupsi politik. Bahkan, anggaran covid 19 sebesar Rp. 695,2T (25,38%) dari APBN 2020, membengkak menjadi Rp. 744,75T tanpa melalui APBN-P. Hak anggaran mereka dikudeta, tapi anggota DPR tidak protes. Mungkin salah satu sebabnya, dua ratusan anggota DPR adalah pebisnis. Inilah konflik kepentingan.
Mengenai pengawasan anggaran, kusarankan agar tidak hanya dilakukan sewaktu pembahasan RAPBD. Pengawasan harus dilakukan sejak perencanaan, baik yang disiapkan Bappeda maupun BUMD sebagai mitra kerja Komisi terkait di DPRD. Sebab, korupsi dimulai dari perencanaan. Kuberikan contoh, jika pembangunan jalan direncanakan pada bulan Januari – April, proyek itu harus ditolak. Sebab, bulan-bulan itu, musim hujan. Membangun jalan pada musim hujan, sama seperti membuang garam ke laut.
Langkah kedua, setiap anggota DPRD punya agen di daerah pemilihan. Setiap waktu, agen ini melaporkan penyimpangan pelaksanaan suatu proyek atau penyalah-gunaan anggaran, baik di desa maupun kecamatan. Anggota DPRD terkait bisa langsung bertindak. Hasilnya, tidak terjadi kerugian keuangan negara. Jadi, jangan seperti selama ini, anggota DPRD hanya mendatangi daerah pimilihan sewaktu kunjungan kerja. Apalagi ia dilakukan karena ada dana perjalanan dinas.

Kukisahkan acara cerdas cermat yang dilakukan salah satu SD di pulau Rupat. Salah satu pertanyaan cerdas cermat: Siapa presiden Indonesia.? Salah seorang peserta cerdas cermat dengan tanggap menjawab, “Abdullah Ahmad Badawi.” Gerrr !!! Peserta Bimtek tertawa. Sebab, mereka tau kisah terebut. Kisahnya begini…
Pada waktu acara cerdas cermat itu berlangsung, Perdana Menteri Malaysia adalah Abdullah Ahmad Badawi. Murid SD di pulau Rupat ini biasa nonton TV Malaysia. Radio yang didengar pun punya Malaysia. Bahkan, surat kabar pun dari Malaysia. Mereka tidak pernah nonton teve dan dengar radio Indonesia. Wajar jika mereka tau, presiden Indonesia adalah Abdullah Ahmad Badawi.

Kondisi pembangunan daerah Riau seperti itulah, Prof, Thabrani Rab memerjuangkan kemerdekaan bagi provinsi ini. Menurutnya, Johor di seberang pulau Rupat, pembangunannya pesat. Padahal, tidak ada migas di daerah itu. Riau yang kaya sumber daya alam, miskin. Apalagi, hasil migas terbesar Indonesia berada di Riau. Tepatnya di kabupaten Bengkalis. Extractive Industry Tranperency Initiative (EITI) mencatat, ada 26 perusahaan migas dan 2 perusahaan minerba di Riau.
Pejabat terkait era SBY, mengetahui hal itu. Dibangunlah pemancar teve. “Oh, presiden Indonesia, SBY,” komentar murid-murid SD di Rupat setelah menonton TV Indonesia. Pada pemerintahan SBY pula, KPK menangkap tiga gubernur Riau karena KKN di antara Pemda dan Pengusaha penebangan hutan di wilayah tersebut.

Cirigen Yang Antri
Menurut agen ketika tinggalkan Cibinong, bus akan tiba di Pekanbaru, hari Senin malam,11 Oktober. Faktanya, bus sampai pukul 05.30 hari Selasa, 12 Oktober. Penyebab utamanya, ketiadaan solar di pompa besin sepanjang pulau Sumatera. Di perbatasan Sumsel dan Jambi, sewaktu perjalanan dari Jakarta, belasan bus dan truk antri di pompa bensin. Sejam antri. Giliran bus yang kutumpangi tiba di tempat pengisian, solar habis. Penumpang, termasuk saya, dag–dig-dug. Gimana kalau bus mogok sebelum menemui pompa bensin berikutnya. Apalagi, saya harus mengisi materi dalam Bimtek DPRD di Pekanbaru, tanggal 12 Oktober pagi.

Bus baru berhasil isi solar ketika tiba di bandar Jambi. Namun, di daerah Kayu Agung, beberapa jam sebelum Palembang, bus harus mengisi solar kembali. Faktanya, puluhan bus dan truk yang antri, gigit jari. Solar habis. Kondektur bus yang kutumpangi, membongkar bagasi. Dia temukan satu cirigen berisi cadangan solar. Sambil menunggu pengisian solar, saya dan pensiunan Kemenkumham mengambil wuduk karena waktu subuh sudah masuk. Kami berwuduk dengan air mineral untuk shalat di dalam bus. “Nanti kita shalat di masjid tidak jauh dari sini,” kata kondektur. “Shalat, nomor satu,” teriaknya ke penumpang. Pertama kali kutemui kondektur bus Indonesia yang berperilaku demikian. Namun, hanya lima orang shalat berjamaah. “Mungkin doa waktu shalat subuh tadi, bus kita bisa sampai Palembang dan berhasil isi solar,” ucap laki-laki jiranku. Di Palembang, kondektur isi penuh tangki minyak.

Tengah malam, beberapa jam sebelum Pekanbaru, keadaan berulang di pompa bensin. Puluhan bus dan truk antri. Namun, ada pula puluhan cirigen, antri. Kudekati pemilik cirigen. Kutanyakan, mengapa antri beli solar. “Keperluan sendiri,” jawabnya sambil senyum. Kutanyakan berapa cirigen yang diantrikan. “9,” jawabnya. Masih dengan senyum. Tiada belas kasihan menyaksikan puluhan bus dan truk yang antri. Kuwawancarai sopir truk yang sedang antri. “Biasanya mereka gunakan untuk melaut,” jawabnya. Penumpang bus bilang, jika tidak ada solar, gimana nelayan akan melaut. Padahal mereka harus mendapat uang untuk menyuapi anak isteri.
“Apakah presiden, Menteri, gubernur, bupati, walikota, dan anggota legislative tidak mengetahui hal ini,?” batinku. Apakah hal ini berkaitan dengan pengumuman KPK bahwa, selama setahun pandemi, 70,3% pejabat negara mengalami kenaikan kekayaan secara signifikan. Apalagi Pandora Papers memberitakan, banyak pejabat Indonesia simpan uang di luar negara. Dua di antaranya, Menko Airlangga dan Luhut Binsar Panjaitan. Gimana presiden ?

Korupsi Petugas Pompa Bensin
Kuserahkan Rp. 550 ribu ke agen untuk memeroleh tiket bus ke Jogya. Tak berapa lama kemudian, agen mengatakan, bus yang akan kutumpangi, rusak. Beliau menawarkan bus lain yang juga akan menuju Yogya. Kusetujui. Sebab, saya tidak mau ketinggalan menghadiri Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Umat Islam Indonesia (MPUI-I) di Yogyakarta, Jum’at sore, 15 Oktober.

Dua jam perjalanan meninggalkan Pekanbaru, bus berhenti mengisi bahan bakar. Jarum pompa bensin menunjukkan angka enam ratus ribu rupiah lebih. Petugas itu ‘ngomel’ setelah menerima uang dari kondektur. “Ada apa,” tanyaku. “Biasa pak, tips.” Kondektur menjelaskan, jika isi 50 liter solar, dia harus diberi tips Rp. 10 ribu. Kalau, 100 liter, tipsnya dua puluh ribu rupiah. “Ini yang disebut corruption by exposure.” Kondektur dan sopir heran. Kujelaskan, “corruption by exposure” adalah korupsi yang telanjang. Ia dilakukan dari istana sampai RT. “Petugas tadi, salah satu contohnya.”

‘Nombokin’ Beli Solar
Bus melewati beberapa pompa bensin ketika di Palembang. Sopir tidak masuk ke pompa bensin karena bus dan truk antri panjang. Saya gusar. Sebab, tanpa memasuki pompa bensin, saya tidak bisa melepaskan hajat kecil. Maklum, usia 74 tahun, saya sering ke “belakang.” Toilet di dalam bus tidak berfungsi. Sebab, ada sepeda motor yang disimpan di bagian belakang bus sehingga menutup pintu toilet. “Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīm.” Kubaca berulang-ulang, ratusan, bahkan mungkin ribuan kali. Ini kebiasaanku sampai terbebas dari kesulitan yang ada.
Sore hari, bus memasuki tol Palembang – Lampung. Kualitas tol, jauh dari standar internasional. Penumpang terhentak-hentak di setiap sambungan beton. Sepanjang puluhan kilometer, dijumpai perbaikan jalan. Padahal, tol ini belum lama diresmikan presiden. Hal seperti ini tidak ditemui di beberapa negara yang kudatangi, seperti Singapura, Malaysia, Korsel, Hong Kong, Jepang, China, dan Arab Saudi.
Kurang lebih sejam perjalanan, bus mogok. Bus kehabisan bahan bakar. Sopir, kondektur dan dua asisten kenek, turun. Mereka temukan cirigen kecil di bagasi, berisi 5 liter solar. Bus pun bisa bergerak. Tak lama kemudian, bus memasuki area istirahat dan langsung ke pompa bensin. Tidak ada solar. Bus kelilingi area istirahat. Kondektur berjaya dapat dua cirigen kecil di bengkel mobil.
Belum sejam perjalanan, bus memasuki lagi area istirahat. Bus langsung ke pompa bensin. Solar kosong. “Pukul 7,” kata petugas pompa bensin menjawab pertanyaan kondektur, kapan perbekalan solar datang. Sehabis ifthar dan shalat di mushallah, saya menuju bus. Mobil tanki Pertamina belum datang. Kuhampiri petugas pompa bensin. Menurut petugas, tidak ada mobil tanki Pertamina datang malam hari. Mungkin pukul 7 besok pagi. Gawat !!!. Sebab, malam itu kami harus nginap di kawasan pompa bensin. Maknanya, saya gagal mengikuti Sidang Umum MPUI-I yang merupakan tujuanku ke Yogya.

Kuhampiri sopir dan kenek yang sedang duduk di luar bus. Mereka kaget mendengar informasiku. Kuperhatikan wajah-wajah penumpang yang juga sedang kebingungan. Jumlah penumpang yang ada, lima orang. Selebihnya turun di Medan, Pekanbaru, Jambi, dan Palembang. Kutanyakan sopir, berapa liter minimal solar yang diperlukan untuk sampai bandar Lampung. Beliau menyebut, 50 liter. Seliter Rp. 6.000. Maknanya, perlu Rp. 300 ribu. Kutanyakan bensin jenis apa yang bisa dicampur solar. “Pertamina dek,” kata kenek. Namun, mahal harganya, Rp. 11 ribu.
Kuperhatikan wajah para penumpang. Semuanya berwajah ‘kere’ Bus, ketika meninggalkan Banda Aceh, tidak penuh. Maknanya, sopir terbatas uangnya. Aku segera berdiri, mengeluarkan dompet. “Kunombokin Rp. 200 ribu pak untuk beli 50 liter Pertamina dek.” Sopir, kenek, dan penumpang tercengang. “Ya, daripada kita harus nginap di sini,” jelasku. Sopir dengan sedikit malu, menerima uangku. Bus pun menuju bandar Lampung guna mengisi bahan bakar lagi. “Kunaiki bus dua hari dua malam dari Jakarta ke Pekanbaru karena tidak mau divaksin. Mengapa tidak bisa mengorbankan sejumlah uang demi tiba di tempat tujuan.? Bukankah mahal sebuah keyakinan, ?” batinku. (selesai).

Ditulis Oleh: Abdullah Hehamahua

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Terima Dana Hibah Dari Anies, Apa Yang Salah Dengan PSI?

SUARA TANGERANG – Publik tahu, PSI partai paling getol kritik Anies. Sebagai legislator, PSI telah ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com