BREAKING NEWS

Anies Baswedan di Titik Periferalisasi

SUARA TANGERANG – Secara Bahasa peripheral artinya sekeliling, batas luar atau tak mengenai pokoknya.  Periferalisasi artinya proses agar hanya sampai di luar (jangan masuk ke tengah) atau tak mengenai pokoknya. Secara ringkas bisa digambarkan bahwa Anies Baswedan kini sudah mulai masuk ke tengah (Indonesia, bukan lagi Jakarta). Di sisi lain ada proses dari orang atau kelompok agar jangan sampai ke tengah, jangan sampai ke pokoknya. Dalam perspektif politik jangan sampai menjadi presiden.

Proses itu bisa datang dari pembencinya sejak dulu di pilkada DKI, bisa dari orang yang dulu mendukungnya dan kini membencinya atau setidaknya tidak lagi mendukungnya.  Bisa dengan baju partai, bisa pula baju ormas. Sistematis, ada dirijennya, penyedia lapak, dan vokalisnya. Namun ada juga yang sporadis, sebatas meluapkan kekesalan dirinya yang kecewa atau meluapkan kekecewaan orang yang merasuki dirinya.

Begitu pun ada  juga yang dulu membencinya atau setidaknya tidak mendukungnya, sekarang menjadi pendukung beratnya seperti banyak dari penduduk Jakarta.  Mereka  telah merasakan langsung janji-janji Anies ketika berkampanye dan sudah ditunaikan semua, meski tidak selalu sempurna. Kelompok ini kuat pendiriannya karena mendasarkannya pada fakta empiris. Analisis ini menurut saya penting, agar masing-masing semakin paham tentang langkah-langkah apalagi yang perlu dilakukannya.

Para pembenci, agar ada masukan bagian mana lagi yang harus ditekan, digelembungkan atau disimpangkan, dll. Demikian juga pecinta pendukungnya, mana yang perlu dibiarkan, mana yang harus dipancangkan setegak-tegaknya, dll.  Begitu juga pembenci yang dulu sebenarnya mendukungnya, agar punya alas an untuk kembali mendukungnya. Demikian juga pecinta pendukungnya mungkin mau pindah barisan menjadi pembenci.

Istilah-istilah pembenci, pendukung atau kombinasinya bukan bahasa normatif yang seolah motifasi melanggengkan pembelahan atau perpecahan, melainkan bahasa dari perspektif sosiologis yang sifatnya objektif. Nyatanya ada yang membencinya pun ada yang mendukungnya atau kombinasi. Jadi dasarnya objektivitas rakyat. Karena menutupi objektivitas sangatlah tidak produktif dalam rangka agenda reformasi sistemik sebagai amanah rakyat.

Istilah periferalisasi saya temukan contoh sosio-historisnya dari tulisan almarhum A.E. Priyono (orang yang pernah berseberangan dengan Anies dan di akhir hayatnya mendapatkan perhatian khusus positif dan bantuan dari Anies). Tulisan itu terdapat dalam buku Dr. Kuntowijoyo, Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi, Mizan, Bandung, 1991.

Peristiwa Menepi Abad ke-16.

Pada abad ke-16 kelas saudagar Muslim yang sudah berhasil membangun basis politiknya di kerajaan-kerajaan pesisir utara Jawa ketika itu sudah berada di ambang batas evolusi kapitalis ke arah terbentuknya masyarakat borjuis-dagang, menggantikan perekonomian feodal agraris. Akan tetapi evolusi ini terpotong ketika datang kekuatan kolonial Portugis dan Belanda pada abad ke-16 yang mulai masuk ke perairan Asia Tenggara.

Munculnya kekuatan-kekuatan kolonial Barat ini sesungguhnya menandakan terjadinya babak baru sejarah yang penting karena peristiwa itu telah mengubah setting internasional Asia Tenggara. Pencaplokan Malaka oleh Portugis pada 1511, dan kemudian pendudukan Belanda di Banten pada 1596 sebelum akhirnya menguasai Batavia pada 1602, tampak benar-benar berakibat fatal bagi kelas pedagang muslim Asia Tenggara, dan Jawa khususnya, yang sedang mulai membangun kekuatan politiknya.

Demak misalnya, yang dapat dianggap sebagai representasi politik kekuatan saudagar Muslim, mulai kehilangan basis perdagangan Internasionalnya sejak Malaka dikuasai Portugis. Setelah tiga kali melakukan perlawanan yang sia-sia untuk merebut Malaka, yakni tahun 1513, 1551, dan 1574, kesultanan Demak akhirnya benar-benar jatuh dan tak pernah bangkit lagi. Sejak itu tumbang juga kekuatan politik Islam yang didukung oleh basis perdagangan internasional. Islam mengalami periferalisasi, secara politik dan ekonomi.

Kedatangan Portugis dan Belanda yang secara faktual telah berakibat terpotongnya jalur saudagar muslim menuju ke tengah sesungguhnya motifnya adalah perdagangan, bukan politik. Setidaknya tujuan awalnya adalah koin, bukan kekuasaan. Cuan, bukan mau menjadi penguasa. Artinya jika kepentingan perdagangannya tidak terhambat oleh kekuasaan (Demak ketika itu) dan yang terjadi adalah kolaborasi, mungkin perjalanan kerajaan Demak menjadi berbeda. Proses periferalisasi itu tidak langsung terjadi.

Bentangan sejarah pada bagian persentuhan kekuasaan dengan penguasaan terhadap sumber-sumber hasil bumi dan mineral adalah jalur lama yang terus memanjang dan terulang hingga hari ini. Di titik inilah sebenarnya tarik-menarik antara kekuatan yang satu dengan yang lain berpusat. Dan bisa jelas terbaca bahwa kekuatan yang ditengarai sebagai kekuatan kelas saudagar Muslim atau yang terkait dengannya secara kultural pasti akan berhadapan dengan upaya periferalisasi. Apakah itu atas nama politik kekuasaan atau perdagangan (istilah yang lebih historis dari sebutan ekonomi). Garisnya ada di situ.

Jika di masa lalu istilah untuk penguasaan terhadap sumber-sumber hasil bumi dan mineral itu bernama kongsi dagang, kemudian perusahaan, dan hari ini adalah oligarki. Dalam sejarahnya kongsi dagang ini hanya resisten terhadap kekuatan yang mengganggu jalurnya, di luar itu tidak. Karena itu penguasa apapun namanya, seperti raja atau sultan di masa lalu dan hari ini gubernur atau presiden jika dianggap mengganggu jalur penguasaan terhadap sumber alam dan mineral, maka kepadanya akan dilakukan upaya periferalisasi.

Bedanya. Jika di masa lalu proses periferalisasi itu terlihat seperti terpisah antara perdagangan dengan kekuasaan, maka hari ini terlihat menyatu atau saling tersambung. Karena itu setiap kali ada tokoh yang dinilai bisa masuk ke tengah, khususnya dari kalangan santri (dalam arti punya pandangan dan kemandirian ekonomi) seperti kekuatan pedagang muslim di masa lalu, pasti akan diganggu agar terjadi upaya periferalisasi.

Puncak Kekuasaan dan Upaya Periferalisasi

Dilihat dari sisi tertentu, presiden BJ. Habibie bisa dimasukkan pada kategori santri  seperti pengertian di atas. Meski tidak dengan latar belakang pendidikan pesanteren secara formal, tapi aspek perilakunya mencerminkan seorang santri dan pandangan ekonomi serta penerapannya juga memiliki kemandirian yang berpotensi merobek tembok panjang oligarki. Sesungguhnya demikian juga dengan Gus Dur. Orang yang dengan kebebasannya berpikir mencerminkan sosok yang susah dikendalikan oleh kekuatan oligarki. Gus Dur bukan sosok yang mudah ditekuk atau diarah-arahkan. Begitu juga dengan Soeharto di ujung kekuasaannya bisa dinilai mulai menggeser kelas tengah santri ke tengah dan itu bisa menggangu oligarki.

Wajar, jika kepada keduanya menurut hemat penulis bisa terjadi tindakan periferalisasi. Meski sudah berada di tengah yaitu menjadi presiden, tetapi jangan sampai sempat menancapkan cetak biru dan pancang-pancang penunjang sistem kekuasaan yang dapat mengancam oligarki. Proses penyingkiran itu terjadi kepada keduanya, kendati bisa saja meminjam tangan-tangan orang-orang di sekitarnya. Beberapa dari penguasa yang lain dibiarkan berkuasa hingga akhir karena sudah dibaca kebijakannya dapat dikendalikan sepenuhnya oleh oligarki, setidaknya tidak mengganggu hal-hal yang mendasar dari kepentingannya.

Mengapa tokoh dari kalangan dengan watak santri yang ditempuh periferalisasi dan itu pasti dengan basic agama? Karena tokoh seperti inilah yang dianggap mengancam. Karena mereka mengamalkan antara lain Alquran surat Ali Imran ayat 110, amar ma’ruf dan nahy munkar. Pemimpin-pemimpin tadi melakukan kebijakan yang mengarah kepada tindakan-tindakan—meminjam istilah Kuntowijoyo—emansipasi atau humanisasi, liberasi dan transendensi.

Kebijkan dan tindakan yang membebaskan dan memerdekakan dari kungkungan kepentingan yang hanya didasarkan pada keuntungan materi semata. Membuat kebijakan yang benar-benar pro rakyat dan segenap keadilan dan kesejahteraannya. Membuat manusia Indonesia menjadi manusia yang sederajat dan bermartabat.  Memberikan kebebasan kepadanya untuk mengaktualisasikan dirinya menjadi manusia Indonesia yang sejati sesuai cita-cita luhur bangsa ini. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darahnya. Dan yang terpenting semua itu terkait dengan Ketuhanan Yang Maha Esa (transendensi).

Bahwa seluruh rakyat Indonesia sejatinya mendambakan pemimpin yang pro seluruh rakyat dalam kebijakan dan tindakan, bukan di janji kampanye. Apakah dia berlatar belakang suku apa saja, agama apa saja, partai apa saja. Sebab hanya dengan pemimpin dengan karakter itu kepentingannya sebagai rakyat terjawab lewat kebijakan dan tindakan politik. Sebab itu, meski dia beragama Kristen, Hindu atau Budha atau yang lain, tapi ada sosok pemimpin Muslim dengan karakter itu, dia perlu memutuskan untuk memilihnya karena pasti akan membela kepentingannya.

Karena kesadaran subjektif dan cita-cita normatifnya akan mencegahnya bertindak dengan kesadaran class for itself. Dengan kata lain, kesadaran dan gerakan kelas demi kepentingan kelas sendiri dengan menghancurkan  kelas lain, akan bertentangan dengan cita-cita normative umat Islam yang per defenisi merupakan suatu non class group. Prakteknya, rakyat non muslim tidak perlu khawatir bahwa pemimpin tadi membuat kebijakan yang dapat menzalimi mereka. Jadi bagi yang beragama non Muslim sama sekali tidak beralasan enggan memilih pemimpin muslim watak santri. Justru mereka mendapatkan perlindungan, kesempatan maju dan kesetaraan yang adil.

Anies Baswedan di Titik Periferalisasi

Saat ini Anies Baswedan adalah calon pemimpin yang paling potensial mewakili untuk mengamalkan kebijakan dan tindakan yang emansipatif, humanitatif, liberatif dan transendentif. Pidato pertamanya saat pelantikan sebagai gubernur DKI dengan istilah pribumi menunjukkan itu. Rupanya bukan pemanis pidato melainkan gagasan yang kelak diwujudkannya dalam kenyataan. Kebijakannya tentang pembebasan pajak bagi kelompok tokoh berjasa dan para pensiunan menjadi satu di antaranya.

Pembangunan berbagai fasillitas umum di DKI secara humanis menunjukkan bahwa dia ingin menerapkan humanisasi dan liberasi. Perlindungannya terhadap kaum minoritas Hindu dalam peribadatan serta kesempatan merayakan natal secara tulus dan meriah bagi warga DKI yang Nasrani adalah fakta yang mununjukkan dia bukan pemimpin yang perlu ditakuti akan menzalimi. Itu fakta, bukan opini.

Kebijakan dan berbagai macam tindakannya sebagai pemimpin mencerminkan keinginannya untuk mengamalkan Pancasila dan cita-cita luhur bangsa ini sebagaimana termaktuf pada pembukaan UUD 1945, bukankkah itu sesuatu yang dirindukan oleh seluruh rakyat Indonesia? Sayangnya ada sekelompok orang yang tidak suka dengan itu. Karena boleh jadi ada anggapan bisa mengganggu dominasinya, penguasaannya pada asset bumi dan mineralnya jika tokoh semacam ini berkuasa. Kelompok inilah yang menghembuskan api kebencian dan menutup mata terhadap prestasi yang dicapainya di DKI, secara fisik atau non fisik.

Sebab itu, selalu ditempuh cara agar, Anies jangan sampai bangkit dan merebut hati rakyat karena bisa menjadi malapetaka bagi mereka. Terjadi upaya periferalisasi. Segala macam kekuatan dikerahkan. Bahkan tak jarang sudah keluar sama sekali dari koridor rasionalitas manusia modern dan dari kesantunan warisan para pendiri bangsa.

Belum Terlambat

Anies Baswedan hanya sebuah simbol sosok pemimpin yang diharapkan. Artinya sesungguhnya jika ada tokoh dengan karakter dan jejak rekam yang kurang lebih sama mewujudkan janji-janjinya, itu juga bisa. Faktanya hingga saat ini belum terlihat. Ini jika mau jujur dan objektif. Kemampuan memimpin dan berkomunikasi ke dalam dan ke luar negeri, belum ada yang mendekatinya. Begitu juga dengan popularitas.

Karena itu sebagai anak bangsa saya ingin menyuarakan bahwa bagi rakyat banyak bisa membuka hati dan pikiran. Pemimpin yang baik itu ukurannya mudah saja. Lihat kemajuan daerah yang dipimpinnya. Lihat caranya menghargai warganya. Lebih penting lagi apakah dia melakukan itu dengan integritas tinggi atau semata sebagai capaian publikasi.

Cita-cita kemerdekaan yang ingin diwujudkan oleh beberapa presiden sebelumnya, ada harapan bisa diwujudkan Anies Baswedan. Warga Muhammadiyah, warga Nahdhatul Ulama (NU), warga non muslim di wilayah barat dan timur. Ini bukan tentang siapa kelompok yang berkuasa lagi melainkan tentang. Kepada siapa harapanmu untuk menempuh kehidupan yang lebih baik ke masa depan kamu percayakan.

Meski kamu merasa bukan kelompoknya, tapi dia bisa membela kepentinganmu bukankah itu jauh lebih penting dari sekadar . “Dia adalah kita”. Namun dia sama sekali tidak merasa bahwa kita adalah dia. Bahkan ketika kamu sudah memilihnya dengan tulus, dia malah menebar ketakutan ke dalam rumahmu.

Bagi para pembencinya, lakukanlah dengan kejujuran dan data yang benar. Sebab tidak ada memang manusia yang sempurna, tetapi menutupi prestasi seseorang yang kepadanya bisa ada harapan baru sesungguhnya juga tindakan yang tidak humanis.

Kepada para pecinta dan pendukungnya, Anies Baswedan juga banyak kekurangan sehingga tidak boleh kehilangan nalar sehat untuk mengingatkan dan kritik. Persoalannya bukan seberapa keras bicara bahwa Anies adalah pemimpin dan harapan masa depan, tetapi juga mampu membuat orang lain mengerti dan sadar betapi pentingnya memilih pemimpin yang amanah dan menepati janji, satu di antaranya adalah Anies Baswedan.

Kepada kekuatan oligarki dan para pendukung pendengungnya. Membiarkan negeri ini terus tunduk di kuitansi oligarki dan transaksi kekuasaan, juga bukan jaminan kelanggengan. Menjadi bangsa yang setiap warganya mendapatkan keadilan dan kesejahteraan itu juga capaian kenikmatan yang dahsyat. Lagi pula, bangsa ini memiliki sejarah panjang melakukan perlawanan ketika dia sudah benar-benar terinjak.

Medan, 22 Februari  2022

 

Ahmad Dayan Lubis,

Aktivis 98 dan Penggiat Nalar Sehat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pak Jokowi, Carilah Lailatul Qadr

SUARA TANGERANG – Hari ini, saya memasuki hari ke-25 shaum Ramadhan. Kalau pak Jokowi dengan ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com