BREAKING NEWS

Diplomasi Tukang Bakso Anies vs Mega

SUARA TANGERANG – Nampaknya, tukang bakso akan bernasib sama seperti pici dan baju koko. Identitas Islami dan merakyat, akan jadi perburuan para pemburu kekuasaan di Pilpres 2024. Bukan untuk membela Islam atau tukang baksonya, ini cuma soal citra dan perburuan elektabilitas.

Setidaknya, hal itu mungkin yang ditangkap oleh Ekonom Konstitusi, Defiyan Cori. Dalam sebuah GWA, Defiyan membagikan berita Anies bersama Sahroni dan Tukang Bakso hadir di Balai Kota.

“Permainan teater ludruk masih terus kocak”, begitu ungkap Ekonom Konstitusi jebolan UGM ini.

Memang benar, kedepan menjelang Pilpres atribut yang dekat dengan rakyat, dari tukang bakso, tukang becak, hingga tukang tambal ban akan marak menjadi objek teater pencitraan. Kita semua masih ingat, betapa merakyat dan ndesonya Jokowi saat berpose sebagai tukang tambal ban.

Megawati juga sebenarnya sama, sering menggunakan atribut wong cilik untuk meningkatkan elektabilitas partainya.

Dulu kita masih ingat, bagaimana pasangan Megapro (Megawati Prabowo) mengambil tempat iconik wong cilik. Deklarasi Mega-Prabowo dibuat dengan kesan merakyat. Mega-Prabowo  mendeklarasikan diri di ‘gunung sampah’ Bantar Gebang, Bekasi, pada Minggu 24 Mei 2009 lalu.

Namun sayang, saat acara partai beberapa hari lalu Mega mungkin selip lidah. Sehingga statemennya soal tukang bakso dan orang papua panen kritikan rakyat.

Hari ini, Anies mengambil  atribut wong Cilik dengan angle yang lain. Anies, turut menghadirkan seorang pengusaha Bakso Malang Aroma SoWan, Rully Rinaldi, bersama Sahroni, ketua panitia Formula E.

“Di samping kiri saya adalah bapak Rully renaldi. Pak Rinaldi adalah pengusaha Bakso Bakwan Aroma SoWan yang kemarin ikut juga berpartisipasi,” kata Anies.

Momen itu terjadi, saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengadakan acara Malam Ramah Tamah Jakarta E-Prix 2022 di Balai Kota DKI, Jumat (24/6/2022). Sejumlah pihak yang terlibat mendukung ajang balap mobil listrik ini diundang dalam acara ini, termasuk tukang bakso.

Mengapa tukang Bakso yang dihadirkan, bukan tukang martabak atau tukang kerak telor ? Mengapa harus diperkenalkan, bahkan berdampingan dengan ketua OC Formula E, tidak menjadi tamu undangan biasa ? Mengapa momentum ini terjadi, tidak berselang lama pasca kritik publik terhadap Megawati soal tukang bakso ?

Itulah pencitraan politik. Itulah, perburuan elektabilitas. Jadi jangan heran, jika menjelang Pilpres nanti banyak tokoh yang pake pici, baju koko, jadi tukang bakso, pedagang cilok, tukang tambal ban bahkan mungkin saja ada yang mengulangi masuk gorong-gorong. Semua hanya demi citra dan elektabilitas.

Sementara masalah utang negara, penguasaan tambang oleh swsta, asing dan aseng, serbuan TKA China, kriminalisasi ulama hingga ajaran Islam, terorisasi Khilafah,  pasti tidak akan mereka bahas.  Mereka, para politisi akan terus bermain citra dengan membodohi rakyat, melalui acting mereka yang seolah merakyat dan pro wong cilik.

 

Ditulis Oleh : Ahmad Khozinudin, Sastrawan Politik

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Menjaga Nyala Api Reformasi

SUARA TANGERANG – Satu setengah periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo menghasilkan banyak persoalan pelik. Korupsi ...

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com